Sensor Dragon Ball Versi Arab Ubah Total Konsep Kera Besar Saiyan, Ceritanya Jadi Beda

Sensor Dragon Ball Versi Arab Ubah Total Konsep Kera Besar Saiyan, Ceritanya Jadi Beda
Sumber :
  • CBR

Gadget – Ada fase dalam hidup seorang fans anime ketika ia menyadari satu hal yang agak menyebalkan tapi juga menarik. Cerita yang kita anggap “satu versi” ternyata bisa berubah total ketika melewati negara, bahasa, dan standar budaya yang berbeda. Dragon Ball, yang sudah puluhan tahun hidup sebagai pop culture global, lagi-lagi jadi contoh paling gampang untuk membuktikan itu.

Bukti Kuat: Xbox Cloud Gaming Siapkan Tier Gratis Beriklan

Kali ini, yang ramai bukan episode baru atau teori liar soal bentuk Super Saiyan berikutnya. Yang jadi omongan justru versi dubbing bahasa Arab, karena ada bentuk sensor yang bukan sekadar memotong adegan, tapi menyentuh jantung narasi. Bagian yang diubah adalah konsep Great Ape, transformasi ikonik ras Saiyan yang selama ini menjadi jembatan penting antara Dragon Ball dan Dragon Ball Z.

Dalam versi yang dikenal fans pada umumnya, Great Ape adalah transformasi biologis. Saiyan yang masih memiliki ekor akan berubah menjadi gorila raksasa yang destruktif ketika melihat bulan purnama, atau sesuatu yang cukup mirip untuk memicu perubahan itu. Transformasi ini bukan hanya efek visual. Ia menjelaskan kenapa ras Saiyan begitu ditakuti, kenapa karakter bisa kehilangan kendali, dan kenapa ancaman mereka terasa nyata sejak awal.

3 Pilihan Terbaik HP Samsung Harga 2 Jutaan 2026: Spek Unggulan

Di dubbing Arab, sosok gorila raksasa itu tetap ada. Tetapi maknanya diubah secara fundamental. Adegan transformasi disensor, lalu diganti dengan edit kreatif yang membuat Saiyan terlihat seperti “memanggil” Great Ape buatan, semacam mesin raksasa, untuk bertarung bagi mereka. Perubahan ini menolak gagasan bahwa Saiyan dan Great Ape adalah individu yang sama.

Efeknya terasa langsung pada adegan yang seharusnya gampang dipahami. Vegeta dalam wujud Great Ape, misalnya, terlihat memakai pakaian yang sama dan memiliki kerusakan pertarungan yang identik. Namun versi ini meminta penonton percaya bahwa itu bukan transformasi, melainkan dua entitas berbeda yang kebetulan serupa. Hasilnya bukan cuma aneh, tapi menciptakan kebingungan yang terasa tidak sengaja, padahal justru dibuat dengan sengaja.

Nothing Tebar Teaser Baru: Sinyal Kuat Kolaborasi Jaguar?

Perubahan Great Ape ini disebut sebagai perluasan dari edit lain yang lebih besar dalam dubbing Arab Dragon Ball, yakni cara mereka memperlakukan ekor Goku dan eksistensi ras Saiyan. Ekor Goku dikisahkan bukan bagian biologis. Populasi Saiyan secara umum pun dibuat seolah-olah artifisial, yang secara implisit menyamakan mereka dengan mesin.

Ketika sebuah cerita mengubah asal-usul ras utama dari “makhluk biologis” menjadi “sesuatu yang dibuat”, itu tidak bisa berhenti di satu adegan. Narasi akan ikut bergeser, dan Dragon Ball adalah jenis cerita yang sangat bergantung pada keterkaitan sebab-akibat. Satu perubahan akan menyeret perubahan lain.

Yang menarik, versi ini juga mengaitkan sensor tersebut dengan alasan religius dan budaya. Intinya, perubahan itu berupaya menolak koneksi manusia dengan kera. Ada pembacaan bahwa edit tersebut bertujuan menghindari citra yang bisa dikaitkan dengan Darwinisme dan konsep evolusi. Karena itu, dubbing Arab disebut menghindari referensi yang berbau evolusi agar tidak menyinggung sebagian audiens.

Pada titik ini, Dragon Ball versi Arab tidak lagi sekadar “diterjemahkan”, melainkan diinterpretasi ulang. Dan interpretasi ulang ini menimbulkan efek domino pada motivasi tokoh penting.

Salah satu contoh paling mencolok adalah Frieza. Dalam narasi yang dikenal luas, Frieza didorong oleh ketakutan terhadap potensi Super Saiyan. Ketakutan itu memberi bobot pada keputusan-keputusan besar, termasuk bagaimana ia memandang ras Saiyan dan mengapa konflik mereka begitu intens. Namun dalam versi Arab, motivasi itu berubah.

Frieza tidak lagi digambarkan takut pada kebangkitan Super Saiyan. Ia justru khawatir akan serangan gerombolan gorila raksasa buatan. Ketika ancaman utama berubah dari “potensi evolusi kekuatan” menjadi “serbuan monster mekanis”, cara penonton membaca konflik pun ikut berganti. Saiyan bukan lagi pusat ancaman, melainkan jadi tambahan dalam konflik yang lebih besar.

Dan ini baru satu bagian. Dubbing Arab Dragon Ball disebut memiliki edit ekstrem lain yang tidak kalah mengejutkan, yang jauh melampaui urusan Great Ape.

Salah satunya, karakter Raditz dipresentasikan sebagai teman Goku, bukan saudara kandung yang jahat dan terasing. Di satu sisi, Raditz memang tidak punya jejak panjang dalam serial, sehingga edit ini bisa saja lewat begitu saja bagi penonton baru. Namun tetap saja, perubahan ini menyentuh relasi fundamental yang seharusnya menjadi pemicu konflik.

Lebih ekstrem lagi, ada perubahan yang menyentuh inti franchise. Shenron dan aspek pengabulan permintaan dari Dragon Balls disebut dihapus. Ini bukan perubahan kecil. Dragon Balls adalah pilar cerita. Tanpa naga yang mengabulkan permintaan, seluruh motivasi karakter untuk mengejar bola-bola itu menjadi masalah yang sulit dijelaskan.

Dalam versi ini, alasan sensor dikaitkan dengan konsep figur mirip dewa yang mengabulkan permintaan, yang dianggap bertabrakan dengan keyakinan dan standar budaya tertentu. Konsekuensinya, Dragon Ball harus “dipaksa” berjalan dengan logika yang berbeda, dan itu tidak selalu mulus.

Menariknya, artikel ini juga mengingatkan bahwa sensor regional bukan sesuatu yang eksklusif terjadi di versi Arab. Versi bahasa Inggris Dragon Ball di masa tertentu juga pernah mengalami sensor berat terkait kematian, kehidupan setelah mati, kekerasan, dan seks. Bahkan, ada bagian yang menyebut Mr. Popo pernah diubah warnanya untuk penayangan Dragon Ball Z Kai di pasar tertentu, dan siaran Australia untuk Dragon Ball Super disebut pernah mengedit Mr. Popo keluar lewat cropping kreatif.

Di balik semua itu, ada satu ide yang cukup provokatif, bahkan untuk ukuran Dragon Ball. Bagaimana jika konsep “Great Ape sebagai makhluk independen yang dipanggil” justru dimasukkan sebagai ide cerita baru di masa depan.

Ide ini memang radikal, tetapi Dragon Ball bukan franchise yang alergi konsep liar. Dragon Ball GT pernah membawa Golden Great Ape, dan Dragon Ball DAIMA disebut memberi implikasi yang sama-sama unik tentang makhluk bertelinga runcing dan kemungkinan hubungan dengan Demon. Dalam logika Dragon Ball, sesuatu yang awalnya terdengar konyol bisa saja dibuat masuk akal, asal dieksekusi dengan cara yang meyakinkan.

Ada juga argumen praktis. Secara cerita, tidak lagi masuk akal bagi Goku, Vegeta, atau Gohan untuk berubah menjadi Great Ape, karena mereka sudah punya bentuk yang jauh lebih superior. Namun jika Great Ape diposisikan sebagai “senjata hidup” yang dipanggil untuk membantu, konsep itu bisa menjadi cara kreatif untuk menghidupkan kembali elemen klasik tanpa merusak kontinuitas kekuatan karakter.

Bahkan ada bayangan bahwa Dragon Ball Super bisa “menipu” dengan cara yang cerdas. Misalnya, memakai energi avatar Perfected Ultra Instinct Goku untuk menyerupai Great Ape raksasa yang menyerang bersama dirinya. Ini bukan klaim bahwa itu akan terjadi, melainkan contoh bagaimana ide lama bisa direkayasa ulang dengan bahasa modern Dragon Ball.

Pada akhirnya, kasus dubbing Arab Dragon Ball memperlihatkan sesuatu yang sering terlupakan. Sensor bukan hanya soal apa yang ditampilkan, tapi juga soal apa yang diizinkan untuk dimaknai. Ketika sebuah edit mengubah asal-usul ras, menggeser motivasi antagonis, dan mengganti pilar mitologi seperti Shenron, yang berubah bukan cuma satu adegan, melainkan cara kita memahami seluruh semesta Dragon Ball.

Mungkin bagi sebagian orang, ini hanya catatan kaki dari versi dubbing yang tidak banyak ditonton. Tapi justru di situlah menariknya. Kadang, hal yang dianggap “anomali” di pinggiran sejarah pop culture bisa menjadi sumber ide baru, atau setidaknya cermin tentang bagaimana satu cerita bisa punya banyak wajah, tergantung dari mana kita menontonnya.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget