Tes Lossless vs MP3: Benarkah Telinga Anda Bisa Bedakan?
- TechRadar
- Alat Flactest memungkinkan pengguna menguji kemampuan pendengaran antara format FLAC dan MP3 menggunakan musik pribadi.
- Eksekutif Apple Music mengklaim mayoritas pendengar tidak dapat membedakan audio lossless dengan MP3 pada perangkat standar.
- Faktor usia dan kualitas perangkat keras sangat memengaruhi hasil pengenalan detail frekuensi suara yang hilang.
Banyak pecinta musik mengejar kualitas audio tertinggi melalui format tanpa kompresi demi pengalaman mendengarkan yang sempurna. Namun, mampukah telinga manusia secara konsisten mengenali perbedaan lossless dan MP3 dalam kondisi penggunaan sehari-hari? Tantangan ini kembali mencuat setelah seorang pengguna Reddit memperkenalkan alat uji mandiri yang sangat praktis bagi publik.
Flactest: Alat Uji untuk Mengukur Perbedaan Lossless dan MP3
Alat bernama Flactest ini berjalan langsung di peramban web dan menawarkan metode pengujian yang transparan bagi pengguna. Anda cukup menarik berkas audio berkualitas tinggi seperti FLAC atau WAV ke dalam aplikasi tersebut. Sistem kemudian akan mengodekan ulang berkas tersebut ke berbagai bitrate MP3 secara otomatis.
Aplikasi ini akan memutar lagu tersebut dalam format acak tanpa memberi tahu mana versi aslinya. Pendengar harus menebak mana yang merupakan kualitas lossless murni dan mana yang merupakan MP3 320kbps. Hasilnya sering kali mengejutkan banyak orang karena perbedaan suara yang dirasakan ternyata sangat tipis.
Oliver Schusser, petinggi Apple Music, bahkan pernah menyatakan bahwa sebagian besar penggemar musik tidak akan bisa membedakan kualitas audio pada tes buta. Klaim ini didasarkan pada penggunaan perangkat standar seperti iPhone dengan headphone biasa yang banyak digunakan masyarakat saat ini.
Faktor yang Memengaruhi Ketajaman Pendengaran
Beberapa faktor teknis tetap memegang peranan penting saat seseorang mencoba mendeteksi variasi suara. Perangkat keras seperti speaker monitor studio atau headphone open-back kelas atas memang mampu menampilkan detail yang lebih luas. Namun, konsistensi hasil tetap menjadi tantangan besar bagi telinga manusia yang tidak terlatih secara profesional.
Selain perangkat, faktor usia menjadi penghalang alami yang tidak bisa dihindari oleh setiap pendengar musik. Seiring bertambahnya usia, kemampuan telinga untuk menangkap frekuensi tinggi yang sering hilang pada kompresi MP3 akan terus menurun. Hal ini menjelaskan mengapa orang dewasa lebih sulit menemukan artefak digital pada audio yang terkompresi.