Jangan Salah Pilih, 5 Mobil Listrik Ini Harga Sudah Turun 60 Persen
- Tesla
Gadget – Mobil listrik dikenal lebih hemat biaya operasional karena listrik lebih murah dibanding bensin. Namun, satu hal yang sering luput adalah depresiasi—penurunan harga jual kembali yang ternyata lebih cepat daripada mobil konvensional.
Sejumlah studi menunjukkan rata-rata mobil listrik kehilangan sekitar 59 persen nilainya dalam lima tahun pemakaian. Bandingkan dengan mobil bensin atau diesel yang biasanya hanya terdepresiasi 40–50 persen pada periode yang sama.
Perkembangan teknologi baterai yang sangat cepat, perang harga antarprodusen, serta munculnya model-model baru dengan jarak tempuh lebih panjang menjadi penyebab utama. Mobil listrik generasi awal jadi kurang menarik di pasar sekunder, sehingga harga bekasnya anjlok cukup dalam.
- Depresiasi rata-rata mobil listrik 59% dalam 5 tahun, lebih tinggi dari mobil bensin (40–50%).
- Penyebab utama: kemajuan baterai, perang harga, dan model baru yang lebih unggul.
- Lima model berikut mencatat penurunan harga bekas lebih dari 60 persen.
- Nominal kerugian bervariasi—model premium lebih besar meski persentase mirip.
Audi e-tron GT
Audi e-tron GT menjadi salah satu mobil listrik dengan penurunan nilai terbesar di pasar. Berbagai studi menempatkan depresiasinya antara 60 hingga lebih dari 70 persen setelah lima tahun.
Sebagai sedan listrik premium yang berbagi banyak komponen dengan Porsche Taycan, e-tron GT memang dibanderol sangat tinggi saat baru. Namun ketika masuk pasar mobil bekas, permintaannya tidak sebesar SUV atau crossover. Ditambah perkembangan teknologi kendaraan listrik yang cepat, model generasi awal pun kalah bersaing dengan produk terbaru.
Jaguar I-Pace
Jaguar I-Pace juga masuk dalam daftar mobil listrik dengan nilai jual kembali terburuk. Dalam lima tahun, depresiasinya disebut mencapai lebih dari 70 persen.
Sebagai mobil listrik massal pertama Jaguar, I-Pace sebenarnya menawarkan desain premium dan performa menarik. Sayangnya, perubahan strategi bisnis Jaguar menuju merek listrik murni menimbulkan ketidakpastian, sehingga banyak konsumen memilih menunggu model baru ketimbang membeli unit bekas. Kondisi ini ikut menekan harga jual.
Tesla Model S
Sedan flagship Tesla ini juga mengalami penurunan nilai yang signifikan—lebih dari 60 persen dalam lima tahun. Salah satu penyebab utamanya adalah kebijakan Tesla yang beberapa kali memangkas harga kendaraan baru. Ketika harga baru turun, harga bekas otomatis ikut terkoreksi.
Selain itu, tren pasar global yang lebih menyukai SUV membuat permintaan terhadap Model S tidak sekuat beberapa tahun lalu. Alhasil, nilai jualnya di pasar sekunder terus merosot.
Nissan Leaf
Meski bukan mobil premium, Nissan Leaf juga mengalami depresiasi cukup besar. Penurunan nilainya berada di kisaran 63 hingga 66 persen setelah lima tahun pemakaian.
Faktor yang memengaruhi antara lain kapasitas baterai generasi lama, jarak tempuh yang kalah dari mobil listrik modern, serta kecepatan pengisian daya yang tidak lagi kompetitif. Meski begitu, dari sisi nominal kerugian, Nissan Leaf masih lebih rendah karena harga barunya jauh lebih terjangkau.
Tesla Model X
Selain Model S, Tesla Model X juga masuk dalam daftar mobil listrik dengan depresiasi tertinggi. SUV listrik ini mengalami penurunan nilai sekitar 61 hingga 67 persen dalam lima tahun.
Meski berstatus SUV, usia model yang sudah cukup lama membuatnya harus bersaing dengan kendaraan listrik generasi baru yang menawarkan teknologi baterai lebih mutakhir dan jarak tempuh lebih jauh. Hal itu membuat harga jual Model X di pasar bekas terpangkas cukup dalam.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |