Xiaomi Sering Bermasalah? Ini Fakta di Balik Sebutan HP Gacha pada Xiaomi!

Xiaomi
Sumber :
  • Xiaomi

Gadget – Julukan "HP gacha" telah lama melekat pada produk-produk Xiaomi sejak awal kemunculannya di tahun 2010-an. Istilah ini mengacu pada konsep acak atau tidak konsisten dalam hal kualitas produk. Artinya, pengguna bisa mendapatkan smartphone dengan performa bagus, tetapi ada juga risiko mendapatkan perangkat dengan banyak masalah teknis.

Xiaomi Mijia 10kg 2026: Mesin Cuci Hemat Harga Rp1 Jutaan

Namun, apakah julukan tersebut masih relevan hingga saat ini? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita telusuri lebih lanjut alasan di balik sebutan "HP gacha" pada Xiaomi.

1. Mengenal Xiaomi: Perusahaan Elektronik yang Berkembang Pesat

Xiaomi Mijia Floor Scrubber 5 Max Resmi Dirilis dengan Uap 160°C dan Daya Hisap 28.000Pa

Xiaomi didirikan oleh Lei Jun pada tahun 2010 di Cina. Awalnya dikenal sebagai produsen smartphone, kini Xiaomi telah melebarkan sayapnya ke berbagai jenis produk elektronik, seperti laptop, smartwatch, speaker, bahkan kendaraan listrik dan robotika.

Dengan harga terjangkau namun spesifikasi mumpuni, Xiaomi berhasil menarik minat banyak konsumen di seluruh dunia, termasuk Asia Tenggara, Eropa, Afrika, dan Asia Selatan. Namun, popularitasnya juga diiringi dengan berbagai kontroversi terkait kualitas produknya.

Xiaomi Rilis Mijia Floor Scrubber 5 Max: Suction 28.000Pa!

2. Masalah Hardware yang Menyebabkan Sebutan "Gacha"

Salah satu alasan utama kenapa Xiaomi dijuluki "HP gacha" adalah karena beberapa perangkatnya sering mengalami masalah hardware. Contoh kasus paling terkenal adalah fenomena mati total (matot) yang melanda seri POCO X3 Pro dan POCO F3. Kerusakan ini biasanya disebabkan oleh masalah pada CPU, motherboard, atau overheat akibat suhu mesin yang terlalu tinggi.

Belum lama ini, seri flagship Xiaomi 14 juga dilaporkan mengalami masalah embun pada kamera belakang, meskipun smartphone tersebut diklaim sudah tahan air. Meski masalah ini dapat diselesaikan melalui garansi, reputasi Xiaomi tetap tercoreng di mata sebagian pengguna.

3. Bug Software yang Membuat Pengalaman Pengguna Tak Stabil

Selain masalah hardware, Xiaomi juga kerap menghadapi keluhan terkait bug software. Beberapa bug yang sering dilaporkan antara lain:

  • Fitur pengecasan cepat tidak berfungsi.
  • Kamera tidak mau terbuka di beberapa aplikasi.
  • Refresh rate 120Hz tidak aktif di beberapa game atau aplikasi.
  • Sensor sidik jari tidak responsif atau gagal bekerja.

Meskipun bug-bug ini dapat diperbaiki melalui pembaruan perangkat lunak, tidak semua model Xiaomi mendapatkan dukungan update dalam jangka waktu yang sama. Hal ini membuat pengalaman pengguna menjadi kurang konsisten, sehingga semakin memperkuat citra "HP gacha".

Untuk mengatasi masalah ini, beberapa pengguna memilih menggunakan Custom ROM sebagai alternatif untuk meningkatkan stabilitas sistem operasi.

4. Build Quality yang Dinilai Kurang Memuaskan

Build quality atau kualitas bahan pembuatan smartphone juga menjadi sorotan negatif bagi Xiaomi. Banyak pengguna mengeluhkan bahwa beberapa perangkat Xiaomi dibuat dengan material plastik yang terkesan murah. Selain itu, bodi smartphone tertentu cenderung mudah bengkok atau tertekuk jika terkena tekanan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Xiaomi telah berusaha memperbaiki citranya dengan menggunakan material metal dan kaca di seri-seri premiumnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan terus berkembang untuk meningkatkan kualitas produknya.

5. Perbandingan dengan Brand Lain

Sebagai salah satu merek smartphone terbesar di dunia, Xiaomi sering dibandingkan dengan kompetitornya seperti Realme dan Transsion Holdings (Infinix, Tecno, dan Itel). Dalam hal spesifikasi dan harga, ketiga brand tersebut sering kali menawarkan produk dengan fitur serupa. Namun, Realme dan Transsion Holdings dinilai lebih stabil dari segi kualitas dan jarang mengalami masalah serius.

Akibatnya, Realme dan Transsion Holdings dianggap sebagai alternatif yang lebih aman bagi konsumen yang mencari smartphone andal tanpa risiko besar.

Apakah Sebutan "HP Gacha" Masih Relevan?

Meskipun Xiaomi sering dikritik atas masalah-masalah yang telah disebutkan, perusahaan terus berupaya memperbaiki diri. Dengan inovasi teknologi, desain yang lebih baik, serta dukungan layanan purna jual yang solid, Xiaomi terus bergerak maju untuk meningkatkan kepercayaan konsumen.

Jika Anda berniat membeli smartphone Xiaomi, penting untuk melakukan penelitian terlebih dahulu. Perhatikan ulasan pengguna, tes fitur utama seperti kamera dan performa, serta pastikan model yang dipilih masih mendapatkan dukungan update perangkat lunak.

Kesimpulan:

Sebutan "HP gacha" pada Xiaomi berasal dari pengalaman buruk sebagian pengguna terkait masalah hardware, software, dan build quality. Namun, dengan upaya perbaikan yang terus dilakukan, Xiaomi kini mulai membuktikan bahwa mereka bukan lagi sekadar "HP gacha".

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget