Samsung Siap Bangkit dengan Exynos 2800 Ber-CPU & GPU Custom!
- Samsung
Meski prospeknya menarik, jalan menuju chip custom penuh dipenuhi rintangan:
1. Kompleksitas Desain Modern
Arsitektur CPU/GPU saat ini jauh lebih rumit daripada era Mongoose. Mendesain core yang kompetitif dengan Cortex-X925 atau Apple A18 membutuhkan tim ratusan insinyur top dan investasi miliaran dolar.
2. Ekosistem Perangkat Lunak
ARM memiliki ekosistem software yang matang: compiler, library, tools profiling. Beralih ke arsitektur custom berarti Samsung harus membangun semuanya dari nol atau menghadapi kompatibilitas yang buruk.
3. Risiko Gagal di Pasar
Jika Exynos 2800 gagal baik karena panas, boros baterai, atau bug Samsung berisiko kehilangan kepercayaan konsumen global, terutama di Eropa dan Asia di mana Exynos digunakan secara luas.
4. Biaya Pengembangan yang Sangat Tinggi
Proyek semacam ini bisa menghabiskan 5–10 miliar dolar AS selama 5 tahun. Jika tidak menghasilkan keunggulan signifikan, ROI-nya bisa negatif.
Perbandingan Strategi: Samsung vs Apple vs Qualcomm
| Aspek | Samsung (Rencana) | Apple | Qualcomm |
| CPU | Custom (Exynos 2800+) | Custom (A/M series) | ARM Cortex (Snapdragon) |
| GPU | Custom (rencana) | Custom (10+ tahun) | Adreno (berbasis AMD lama) |
| Manufaktur | Samsung Foundry (2nm GAA) | TSMC | TSMC / Samsung |
| Integrasi OS | One UI (Android) | iOS / macOS | Android (terbatas) |
| AI Engine | NPU custom (rencana) | Neural Engine | Hexagon NPU |
Samsung jelas ingin meniru model integrasi vertikal Apple, tetapi dengan tantangan tambahan: harus tetap kompatibel dengan Android, yang tidak dirancang untuk arsitektur custom non-ARM.
Apa Arti Ini bagi Pengguna Galaxy?
Jika sukses, Exynos 2800 bisa membawa manfaat besar bagi pengguna:
- Daya tahan baterai lebih lama berkat efisiensi 2nm + arsitektur optimal
- Performa gaming & AI lebih konsisten
- Fitur eksklusif seperti rendering kamera berbasis chip, asisten AI lanjutan, dan multitasking canggih
- Pembaruan perangkat lebih lama, karena kontrol penuh atas stack perangkat keras-lunak
Namun, jika gagal, pengguna mungkin menghadapi masalah stabilitas, panas berlebihan, atau bahkan Samsung kembali mengandalkan Snapdragon secara global seperti yang sempat terjadi pada seri S22 di beberapa pasar.
Kesimpulan: Ambisi Besar yang Bisa Ubah Peta Persaingan
Keputusan Samsung untuk kembali ke desain chip custom bukan sekadar nostalgia tapi keharusan strategis. Di era di mana silicon adalah inti dari diferensiasi produk, perusahaan yang menguasai chip-nya sendiri akan memimpin.