Dampak Krisis Chip Global: Kenaikan Harga Smartphone Ancam 2026

Dampak Krisis Chip Global: Kenaikan Harga Smartphone Ancam 2026
Sumber :
  • Istimewa
  • Harga ponsel diprediksi naik 5%-15% hingga 2026 akibat kekurangan cip dan memori (DRAM) di pasar global.
  • Tekanan harga terbesar terjadi di segmen entry level dan menengah; produsen segmen premium memanfaatkan momentum ini untuk menaikkan harga dengan alasan inovasi teknologi.
  • Siklus penggantian perangkat (upgrade) akan memanjang dari rata-rata 18–24 bulan menjadi 24–36 bulan.
  • Segmen premium (di atas US$600) dan segmen entry level high (sekitar US$150) diproyeksikan menjadi pendorong pertumbuhan utama.
4 dari 5 Ancaman Siber Berasal dari Infrastruktur Idle

Gadget –  Pasar gawai global menghadapi tantangan serius. Analisis terbaru menunjukkan kenaikan harga smartphone tidak terhindarkan hingga tahun 2026. Prediksi ini muncul akibat defisit pasokan komponen krusial, khususnya cip dan memori dynamic random-access memory (DRAM). Kelangkaan pasokan menciptakan tekanan signifikan pada rantai produksi.

Revolusi Pembelajaran: Bisakah Edukasi Lewat Main Game Efektif?

Analis Pasar Gawai dari Reasense, Aryo Meidianto Aji, menilai dampak kenaikan harga smartphone akan terasa tidak merata. Segmen ponsel entry level dan menengah diperkirakan merasakan tekanan paling besar. Margin keuntungan yang tipis membuat produsen sulit menanggung lonjakan harga komponen sendirian.

Mengapa Segmen Entry Level Paling Terpukul oleh Kenaikan Harga Smartphone?

Bocor! Xiaomi 17 Max Usung Baterai Silikon Raksasa 8000mAh

Produsen di segmen bawah menghadapi dilema harga yang sangat ketat. Aryo memperkirakan kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga jual sekitar 5% hingga 15% pada gawai mereka. Angka ini signifikan bagi konsumen yang sensitif harga.

Di sisi lain, segmen premium (ponsel kelas atas) relatif lebih kebal. Margin keuntungan yang memang sudah tinggi menolong mereka menyerap sebagian besar biaya komponen.

Kendati demikian, produsen premium kemungkinan menggunakan momentum ini untuk menaikkan harga. Mereka akan beralasan bahwa kenaikan itu disebabkan oleh peningkatan teknologi, bukan hanya kenaikan biaya komponen dasar.

Faktor penyeimbang memang muncul dari sisi manufaktur. Kematangan teknologi cip pada fabrikasi 4 nanometer (nm) dan 3 nm berpotensi menurunkan biaya per unit. Namun, harga jual diperkirakan tetap berada di level tinggi selama permintaan global terhadap cip tetap kuat.

Dinamika Pasar Gawai: Pergeseran dari Pembeli Pertama ke Upgrader

Di tengah tekanan harga, Aryo melihat pasar negara berkembang seperti Indonesia masih memiliki ruang ekspansi. Tingkat penetrasi smartphone belum mencapai titik jenuh, terutama di wilayah tier dua dan tiga serta pada kelompok usia yang lebih tua.

Pola pertumbuhan pasar kini bergeser. Fokus tidak lagi pada pembeli pertama (first time buyer), melainkan pada konsumen yang melakukan peningkatan perangkat (upgrader). Konsumen ini ingin naik kelas, biasanya dari entry level ke mid range, demi mendapatkan pengalaman penggunaan yang lebih baik.

Kekuatan Segmen Mid-Range dan Ponsel Bekas

Segmen menengah (mid-range) diproyeksikan menjadi sweet spot yang paling menarik. Segmen ini menawarkan fitur mendekati flagship namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Kuncinya adalah value for money. Ponsel yang menawarkan spesifikasi memadai dengan harga terjangkau akan tetap diminati, meskipun terjadi sedikit kenaikan harga smartphone dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain itu, pasar ponsel refurbished dan pre-owned juga diperkirakan tumbuh. Ekosistemnya semakin terstruktur, bahkan dengan adanya garansi resmi. Segmen ini menarik bagi konsumen yang menginginkan perangkat kelas atas dengan harga lebih rendah sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.

Siklus Penggantian Gadget Memanjang: Ancaman Volume Penjualan

Kenaikan harga ini secara langsung diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat oleh konsumen. Jika rata-rata siklus sebelumnya 18–24 bulan, periode tersebut kini bisa meluas menjadi 24–36 bulan.

Dampaknya terasa pada volume penjualan unit gawai. Volume berpotensi stagnan atau sedikit menurun. Meskipun demikian, nilai pasar secara keseluruhan masih bisa tumbuh karena didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).

Dalam situasi ini, inovasi menjadi pembenaran utama bagi konsumen untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Aryo menyebut fitur-fitur seperti AI on device, efisiensi energi, dan konektivitas 5G menjadi daya tarik utama.

Untuk 2026, Aryo memproyeksikan pertumbuhan paling kuat justru terjadi di dua kutub. Segmen premium (di atas US$600 atau Rp10 jutaan) didorong oleh konsumen loyal yang menganggap smartphone sebagai simbol gaya hidup.

Inovasi seperti layar lipat dan kecerdasan buatan (AI) membenarkan harga yang tinggi. Sementara itu, segmen entry level high (sekitar US$150 atau Rp2 jutaan) akan menjadi arena persaingan ketat karena menawarkan keseimbangan antara fitur dan harga terbaik.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget