Krisis Harga RAM Mencekik Pasar, Galaxy S26 Terancam Mahal
- Istimewa
- Divisi DRAM Samsung raih pendapatan fantastis USD 25,9 Miliar Q4 2025, melonjak 34% dari kuartal sebelumnya.
- Permintaan masif High Bandwidth Memory (HBM) untuk Kecerdasan Buatan (AI) menjadi pendorong utama lonjakan laba ini.
- Kenaikan biaya produksi akibat kelangkaan komponen memicu sinyal potensi kenaikan harga perangkat konsumen, termasuk ponsel flagship seri Galaxy S26.
- Konsumen berpotensi menghadapi perangkat Android dengan harga lebih mahal dan opsi RAM terbatas pada tahun 2026.
Industri teknologi global menghadapi ancaman serius dari lonjakan harga RAM naik yang kini sulit dibendung. Di tengah kekhawatiran perangkat Android menjadi mahal, raksasa Korea Selatan, Samsung Electronics, justru mencatatkan rekor pendapatan yang luar biasa dari lini bisnis DRAM-nya.
Berdasarkan laporan Counterpoint, Samsung membukukan penjualan DRAM tertinggi senilai USD 25,9 miliar pada kuartal keempat 2025. Kenaikan tajam ini, yang didorong oleh kebutuhan memori untuk Kecerdasan Buatan (AI), menciptakan dilema: keuntungan besar produsen versus biaya yang dibebankan ke konsumen.
Samsung Mendominasi Pasar Memori di Tengah Krisis Pasokan
Performa divisi DRAM Samsung menunjukkan ketahanan luar biasa di tengah ketatnya pasokan semikonduktor global. Pendapatan sebesar USD 25,9 miliar setara dengan Rp 436 triliun, menjadikannya pemasok memori teratas dunia.
Angka tersebut mencerminkan lonjakan pendapatan sebesar 34 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Capaian ini menyumbang sekitar 40 persen dari total penjualan perusahaan selama periode yang sama.
Keberhasilan Samsung ini mengukuhkan dominasinya, jauh mengungguli pesaing utama mereka seperti SK Hynix dan Micron Technology. Tingginya permintaan memori berperforma tinggi, khususnya untuk infrastruktur AI, menjadi katalis utama profitabilitas tersebut.
Mengapa Harga RAM Naik Signifikan? Tekanan dari HBM
Lonjakan harga RAM naik global tidak terlepas dari pergeseran fokus industri ke High Bandwidth Memory (HBM). Memori jenis ini merupakan komponen vital dalam kartu akselerator AI canggih milik Nvidia, seperti H100 dan GH200.
Kompetisi Memori antara Konsumen dan Server AI
Penyedia pusat data besar (seperti Amazon dan Oracle) terus memborong RAM jenis DDR5 dalam jumlah masif. Mereka menggunakannya untuk menopang komputasi cloud berperforma tinggi.
Server AI modern seringkali membutuhkan RAM hingga beberapa terabyte. Kebutuhan ini jauh melampaui server generasi lama yang hanya mengandalkan 128GB atau 256GB DDR4.