Huawei Kembali Jadi Raja Smartphone China, Ungguli Apple Setelah Lima Tahun

Huawei Kembali Jadi Raja Smartphone China
Sumber :
  • gizmo china

Huawei akhirnya kembali ke puncak pasar smartphone Tiongkok setelah absen selama lima tahun. Pada 2025, perusahaan teknologi asal Shenzhen ini sukses merebut kembali posisi sebagai merek ponsel pintar nomor satu di pasar domestik, mengungguli Apple dengan selisih tipis. Pencapaian ini sekaligus menandai kepemimpinan tahunan penuh pertama Huawei sejak 2020, sebuah momen penting setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan akibat sanksi Amerika Serikat.

MediaTek Dimensity 9500 Mengguncang Dominasi Chipset Flagship

Berdasarkan laporan terbaru dari International Data Corporation (IDC), Huawei mencatatkan pangsa pasar sebesar 16,4 persen dengan total pengiriman mencapai 46,7 juta unit sepanjang 2025. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan Apple yang berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 16,2 persen. Meski selisihnya tidak terlalu besar, capaian ini menunjukkan bahwa Huawei kembali menjadi pemain utama di pasar smartphone terbesar di dunia.

Kebangkitan Huawei tidak terjadi secara instan. Setelah terkena pembatasan teknologi dan pasokan komponen sejak 2019, perusahaan ini sempat kehilangan akses ke teknologi 5G dan chip kelas atas. Namun demikian, secara bertahap Huawei berhasil membangun kembali fondasi bisnisnya. Salah satu faktor utama adalah keberhasilan mereka mengembangkan dan menggunakan chip Kirin buatan sendiri, yang kini semakin matang dan siap diproduksi dalam jumlah besar.

Revolusi Layar iPhone 18: Face ID Pindah ke Pojok, Dynamic Island Menyusut?

Selain itu, kembalinya Huawei ke ekosistem 5G juga menjadi dorongan signifikan. Dengan dukungan teknologi jaringan generasi kelima, Huawei mampu menghadirkan pengalaman pengguna yang lebih kompetitif, khususnya di segmen premium. Seri Mate dan Pura menjadi ujung tombak kebangkitan ini. Kedua lini tersebut tidak hanya menawarkan performa tinggi, tetapi juga desain premium dan kemampuan kamera yang menjadi daya tarik utama konsumen Tiongkok.

IDC mencatat bahwa peningkatan kapasitas produksi chip dalam negeri memainkan peran krusial dalam mendongkrak angka pengiriman Huawei. Ketergantungan yang semakin kecil terhadap pemasok asing memberi perusahaan fleksibilitas lebih besar dalam menjaga ketersediaan produk di pasar. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, strategi ini terbukti efektif.

3 Smartwatch Huawei Terbaik 2026: Baterai Tahan Lama

Sementara itu, Apple harus puas berada di posisi kedua secara tahunan. Meski demikian, performa raksasa teknologi asal Cupertino tersebut tetap tergolong kuat. Permintaan tinggi terhadap seri iPhone 17 menjadi penopang utama penjualan Apple di China. Bahkan, pada kuartal keempat 2025, Apple sempat menduduki peringkat pertama dengan pangsa pasar mencapai 21 persen. Hal ini menunjukkan bahwa loyalitas pengguna iPhone di Tiongkok masih sangat solid.

Di bawah Huawei dan Apple, persaingan juga berlangsung ketat. Vivo menempati posisi ketiga dengan strategi yang fokus pada inovasi kamera dan pemasaran agresif di segmen menengah. Xiaomi menyusul di peringkat keempat, memanfaatkan kekuatan ekosistem dan rasio harga terhadap spesifikasi yang kompetitif. Oppo melengkapi lima besar, sementara Honor harus rela keluar dari daftar tersebut setelah sebelumnya menjadi salah satu pemain utama.

Meski persaingan antar merek semakin sengit, kondisi pasar secara keseluruhan justru menunjukkan tren penurunan. Total pengiriman smartphone di Tiongkok sepanjang 2025 tercatat sekitar 285 juta unit, turun 0,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan pasar yang semakin jenuh, di mana konsumen cenderung menahan diri untuk mengganti perangkat lama mereka.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah kenaikan biaya produksi. Harga chip memori yang meningkat, ditambah dengan ongkos manufaktur yang lebih tinggi, memaksa sejumlah produsen untuk menaikkan harga jual atau menunda peluncuran produk baru. Akibatnya, daya beli konsumen menjadi lebih tertekan, terutama di segmen menengah ke bawah.

Ke depan, tantangan diperkirakan akan semakin berat. Para analis memperingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi periode yang lebih sulit bagi industri smartphone di Tiongkok. Pertumbuhan diprediksi melambat, sementara biaya produksi dan tekanan persaingan terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, mempertahankan posisi puncak tentu bukan perkara mudah, bahkan bagi Huawei sekalipun.

Namun demikian, dengan fondasi teknologi yang semakin kuat, dukungan ekosistem dalam negeri, serta kepercayaan konsumen yang mulai pulih, Huawei memiliki modal penting untuk tetap bersaing. Meski jalan ke depan tidak sepenuhnya mulus, kebangkitan Huawei pada 2025 menjadi bukti bahwa perusahaan ini masih memiliki daya juang dan relevansi yang tinggi di pasar global.