Transformasi Bisnis: Mengapa Hybrid AI ASEAN Jadi Kunci Keuntungan

Transformasi Bisnis: Mengapa Hybrid AI ASEAN Jadi Kunci Keuntungan
Sumber :
  • Istimewa

Guizhou Meledak: Daya Komputasi Tembus 150 EFLOPS, Tiga Kali Lipat
  • 67 persen organisasi di ASEAN telah melakukan uji coba AI, menandakan berakhirnya fase eksperimen.
  • Hybrid AI kini wajib diterapkan karena pendekatan AI berbasis sumber daya publik dinilai tidak lagi praktis.
  • Fokus bisnis beralih ke peningkatan pendapatan dan profitabilitas, menuntut dampak AI yang terukur.
  • Walaupun Agentic AI sedang naik daun, hanya 11% perusahaan ASEAN yang menyatakan kesiapan skala.

Lenovo Luncurkan Server AI Inferencing Revolusioner di CES 2026

Data mengejutkan muncul dari kawasan Asia Tenggara. Adopsi kecerdasan buatan (AI) di ASEAN tidak lagi berada pada tahap coba-coba, melainkan sudah memasuki fase implementasi strategis yang menuntut dampak bisnis nyata. Dalam forum Lenovo Tech Day 2026, terungkap bahwa 67 persen organisasi di kawasan ASEAN+ telah melaksanakan uji coba AI secara sistematis. Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan mulai mencari cara agar teknologi ini benar-benar terintegrasi dengan perangkat, infrastruktur, dan sistem yang sudah berjalan. General Manager Budi Janto menegaskan bahwa pendekatan Hybrid AI ASEAN kini bukan sekadar opsi. Ini adalah keharusan mutlak bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif dan efisien di tengah kompleksitas lingkungan teknologi. Sektor telekomunikasi, layanan kesehatan, dan pemerintah tercatat sebagai pionir dalam menerapkan transformasi ini.

Hybrid AI ASEAN: Keharusan, Bukan Lagi Pilihan

Revolusi AI: Lenovo Luncurkan Server Inferencing di CES 2026

Perusahaan di ASEAN menghadapi tantangan besar dalam mengintegrasikan AI ke dalam lingkungan yang kompleks dan terdistribusi. General Manager Budi Janto menilai bahwa pendekatan AI yang masih mengandalkan sumber daya manusia atau berbasis dana publik sudah tidak relevan lagi.

“Di lingkungan ASEAN sendiri, strategic AI yang berbasis public money itu sudah nggak praktis,” ujar Budi Janto di Jakarta. Beban komputasi yang tinggi dan keterbatasan sumber daya membuat pendekatan lama tidak lagi memadai.

Oleh karena itu, Budi menegaskan, model Hybrid AI yang memadukan komputasi awan dan on-premise bukan lagi pilihan alternatif. Model ini menjadi solusi wajib bagi perusahaan-perusahaan di ASEAN agar operasional mereka berjalan optimal dan berkelanjutan.

Pergeseran Fokus ke Agentic AI

Seiring dengan tuntutan integrasi, fokus perusahaan di ASEAN mulai beralih ke Agentic AI. Teknologi yang berpotensi melakukan tugas otonom ini mencatat peningkatan fokus mencapai 91 persen secara tahunan (year on year). Agentic AI diyakini mampu mendorong otomatisasi yang lebih mendalam.

Meski demikian, kesiapan pasar ASEAN masih menunjukkan kesenjangan signifikan. Sebanyak 43 persen organisasi membutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencapai kesiapan penuh.

Hanya 11 persen organisasi yang secara tegas menyatakan kesiapan untuk melakukan scaling atau penerapan skala besar Agentic AI. “Hanya ada 11 persen ini cukup gede dari jumlah company di ASEAN yang bilang bahwa dia siap untuk melakukan skalanya agency AI,” ungkap Budi.

Prioritas Baru Bisnis: Dari Eksperimen ke Profitabilitas

Pergeseran mendasar dalam cara perusahaan memandang AI terkonfirmasi melalui rilis CIO Playbook 2026. Laporan tahunan ini merupakan hasil riset kolaborasi Lenovo dan IDC yang mencakup lebih dari 920 CIO di 10 pasar Asia Pasifik, termasuk ASEAN.

Thomas Butler, Vice President Commercial Portfolio & Product Management Lenovo, menjelaskan bahwa diskursus AI telah beranjak dari sekadar uji coba. Tahun lalu, perusahaan masih membahas ekonomi dan potensi AI.

“Namun kini, prioritas bisnis telah bergeser ke bagaimana AI mampu mendorong peningkatan pendapatan dan profitabilitas,” kata Thomas. Data CIO Playbook 2026 membuktikan hal ini, di mana faktor peningkatan pendapatan melompat tujuh peringkat dan kini menduduki posisi teratas dalam prioritas bisnis. Ini secara resmi menandai berakhirnya fase eksperimen AI.

Tiga Tantangan Utama Implementasi

Transformasi yang pesat ini tentu menghadapi batu sandungan. Para CIO di ASEAN+ mengakui adanya tiga tantangan mendasar dalam implementasi AI.

Pertama, penerapan AI dinilai masih belum optimal di berbagai lini bisnis. Kedua, keamanan data menjadi kekhawatiran utama mengingat sensitivitas informasi yang diproses AI. Ketiga, kualitas data yang belum memadai menghambat keakuratan model AI.

Tata Kelola dan Masa Depan Hybrid AI ASEAN

Kawasan ASEAN justru memiliki potensi unik sebagai lingkungan uji coba ideal untuk Agentic AI yang terus berkembang. Kelincahan dan kematangan tata kelola di kawasan ini menjadikannya lokasi yang sangat prospektif.

Perusahaan didorong fokus pada aspek keamanan dan kepercayaan dalam adopsi teknologi. Budi Janto mengingatkan bahwa kecepatan bukanlah segalanya dalam era Agentic AI.

“Pemenangnya di era Agentic AI bukan yang paling cepat bergerak, tapi mereka yang paling dapat dipercaya, dan paling dapat tata kelolanya baik,” tegasnya. Dengan demikian, mengamankan data dan membangun infrastruktur Hybrid AI ASEAN yang kuat menjadi prasyarat untuk mencapai profitabilitas bisnis jangka panjang.