Krisis Chip AI Hantam Pasar HP Murah: Spek Smartphone Entry-Level Terancam?
- Istimewa
- Segmen Smartphone Entry-Level diprediksi mengalami tekanan terberat hingga tahun 2026 akibat lonjakan harga chip memori global.
- Kenaikan biaya komponen, yang didorong tingginya permintaan dari industri server AI, mengancam margin keuntungan vendor di kelas harga rendah.
- Vendor akan merespons dengan menaikkan harga jual hingga 8% atau melakukan pemangkasan spesifikasi ekstrem seperti pengurangan RAM dan penggunaan prosesor lama.
- Dampak jangka panjangnya, pasar ponsel konvensional akan melihat spesifikasi stagnan, sekaligus memperpanjang siklus ganti smartphone di kalangan konsumen.
Pasar Smartphone Entry-Level kini berada di bawah tekanan finansial paling parah. Krisis ini muncul akibat lonjakan dramatis harga chip memori global. Permintaan tinggi dari sektor server Kecerdasan Buatan (AI) menjadi pemicu utama kenaikan harga komponen esensial tersebut. Senior Consultant SEQARA Communications, Aryo Meidianto Aji, menilai vendor menghadapi dilema sulit untuk mempertahankan harga terjangkau produk mereka. Situasi ini berpotensi menggerus margin keuntungan, memicu kenaikan harga jual, bahkan memaksa vendor memangkas spesifikasi perangkat di segmen harga murah.
Lonjakan Harga Komponen dan Tipisnya Margin Keuntungan
Kenaikan biaya komponen utama kini menyulitkan produsen ponsel. Chip memori, yang merupakan bagian vital dari setiap smartphone, harganya meroket karena prioritas pasokan dialihkan ke kebutuhan server AI. Ini menyebabkan tekanan langsung pada segmen Smartphone Entry-Level.
Aryo Meidianto Aji menjelaskan bahwa vendor ponsel di segmen murah beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis. Mereka hampir tidak memiliki ruang finansial untuk menyerap kenaikan biaya produksi yang terjadi. Tekanan ini memaksa vendor mencari jalan keluar yang ekstrem.
Ancaman Kenaikan Harga Jual 8 Persen
Jika vendor memutuskan mempertahankan spesifikasi, risiko kenaikan harga jual menjadi tak terhindarkan. Aryo memproyeksikan, dalam skenario terburuk, kenaikan harga jual ponsel di segmen ini dapat mencapai 6–8% secara global. Kenaikan persentase ini secara langsung akan merusak daya tarik utama produk entry-level: harganya yang terjangkau. Akibatnya, analis memperkirakan volume penjualan di segmen ini pasti akan menurun.
Strategi Vendor: Pangkas Spek dan Dorong Varian Pro
Vendor harus mengambil langkah drastis untuk menjaga profitabilitas di tengah kenaikan biaya. Strategi paling ekstrem melibatkan kombinasi kenaikan harga dan pengurangan spesifikasi perangkat.
Pemangkasan spesifikasi ini meliputi berbagai aspek vital. Contohnya, vendor akan menurunkan kualitas modul kamera, menghilangkan fitur premium seperti solusi periskop, hingga mengurangi kualitas panel layar. Konfigurasi memori juga menjadi sasaran. Misalnya, RAM yang biasanya 12GB di kelas menengah bisa dipangkas menjadi 6GB atau 8GB.
Pemanfaatan Komponen Lama dan Efisiensi Produksi
Selain itu, vendor sangat mungkin kembali menggunakan komponen generasi sebelumnya. Penggunaan prosesor lama atau chipset yang sudah berumur menjadi pilihan realistis untuk menekan biaya produksi. Vendor juga akan mengurangi jumlah model produk demi efisiensi produksi dan pengelolaan persediaan.
Tujuan akhirnya adalah mengarahkan konsumen ke model dengan margin yang lebih tinggi. Vendor tidak sepenuhnya meninggalkan segmen murah, tetapi mereka menggeser fokus prioritas. Mereka akan mendorong konsumen dalam portofolio mereka sendiri untuk naik ke varian ‘Pro’ atau kelas menengah atas yang memberikan keuntungan lebih baik.
Pergeseran Prioritas dan Dilema Konsumen
Segmen entry-level tetap menjadi tulang punggung volume penjualan, terutama di pasar Indonesia. Namun, kompleksitas dilema vendor semakin bertambah karena ekspektasi konsumen di Indonesia semakin tinggi. Konsumen kini mengharapkan performa chipset yang lebih lancar, kualitas kamera yang lebih baik, dan dukungan software yang lebih panjang, semua dalam rentang harga Rp1,5–2,5 juta.
Aryo Meidianto Aji menegaskan bahwa loyalitas merek di pasar ini telah menurun signifikan. Konsumen akan mudah berpindah merek demi mendapatkan best value atau nilai terbaik dari uang yang mereka keluarkan. Vendor harus memenuhi ekspektasi ini di tengah biaya produksi yang melonjak tajam.
Dalam jangka panjang, situasi harga komponen ini akan memicu perubahan struktur pasar yang mendalam. Smartphone Entry-Level konvensional kemungkinan besar akan menawarkan spesifikasi yang stagnan, atau bahkan lebih rendah, dibandingkan generasi sebelumnya. Tren ini secara langsung akan memperkuat siklus ganti smartphone yang lebih panjang karena konsumen merasa value for money (nilai beli) dari perangkat baru semakin menurun.