Apple Siap Pecahkan Rekor: iPhone 18 Pro Jadi Ponsel Pertama dengan 5G Satelit
- Apple
Gadget – Apple dikenal sebagai perusahaan yang tidak hanya mengikuti tren teknologi tapi menciptakannya. Setelah sukses memperkenalkan Emergency SOS via Satellite pada iPhone 14 yang terbukti menyelamatkan nyawa, kini rumor terbaru mengindikasikan bahwa raksasa Cupertino ini bersiap meluncurkan lompatan besar berikutnya: 5G via satelit.
Menurut laporan dari blog teknologi ternama yeux1122, iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max yang dijadwalkan rilis akhir 2025 akan menjadi perangkat pertama di dunia yang mendukung komunikasi 5G melalui satelit. Jika terwujud, ini bukan sekadar peningkatan fitur melainkan revolusi dalam konektivitas global.
Artikel ini mengupas tuntas apa itu 5G via satelit, bagaimana bedanya dengan fitur darurat saat ini, implikasi teknis, tantangan komersial, serta dampaknya bagi pengguna di seluruh dunia.
Dari Darurat ke Konektivitas Penuh: Evolusi Komunikasi Satelit Apple
Saat Apple meluncurkan Emergency SOS via Satellite pada 2022, banyak yang skeptis. Namun, fitur tersebut yang memungkinkan pengguna mengirim pesan teks darurat saat berada di luar jangkauan sinyal seluler telah terbukti efektif di berbagai insiden penyelamatan nyata.
Meski awalnya disebut gratis hanya selama dua tahun, hingga kini Apple belum memungut biaya sepeser pun kepada pengguna. Ini menunjukkan komitmen perusahaan terhadap keselamatan pengguna.
Namun, fitur ini memiliki keterbatasan signifikan:
- Hanya mendukung teks, bukan suara atau data
- Membutuhkan langit terbuka dan penjajaran manual ke arah satelit
- Hanya aktif saat tidak ada sinyal seluler atau Wi-Fi
- Kecepatan transmisi sangat rendah (Kbps)
Dengan 5G via satelit, Apple berencana menghapus semua batasan tersebut.
Apa Itu 5G via Satelit? Lebih dari Sekadar Fitur Darurat
Berbeda dari Emergency SOS, 5G via satelit dirancang sebagai layanan konektivitas penuh. Artinya, pengguna iPhone 18 Pro bisa:
- Melakukan panggilan suara
- Mengakses internet berkecepatan tinggi
- Menggunakan aplikasi berbasis data (seperti WhatsApp, Google Maps, Zoom)
- Tetap terhubung tanpa perlu menyalakan mode darurat
Fitur ini akan memanfaatkan satelit orbit rendah (LEO) yang lebih dekat ke Bumi dibanding satelit geostasioner, sehingga latensi lebih rendah dan bandwidth lebih tinggi.
Diperkirakan, kecepatan transmisi akan melonjak dari kilobit per detik (Kbps) ke megabit bahkan gigabit per detik (Mbps–Gbps) setara dengan jaringan 5G terestrial di kota besar.