Rekor! Penyerapan Panas Laut Setara 12 Bom Hiroshima
- Istimewa
Lautan dunia memiliki peran krusial. Samudra menyerap lebih dari 90% panas berlebih yang terperangkap di atmosfer akibat emisi gas rumah kaca. Akibatnya, panas samudra menjadi indikator yang paling dapat diandalkan untuk mengukur perubahan iklim jangka panjang.
Titik-Titik Terpanas dan Dampak Bencana Iklim Global
Suhu laut yang lebih tinggi secara langsung memengaruhi sirkulasi atmosfer dan mengatur pola curah hujan di seluruh dunia. Suhu ini juga meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas laut yang menghancurkan.
Data observasi menunjukkan beberapa area mencatat penyerapan panas laut paling signifikan pada 2025. Area tersebut mencakup Samudra Atlantik tropis dan Selatan, Laut Mediterania, Samudra Hindia Utara, serta Samudra Selatan.
Peningkatan Curah Hujan dan Badai Ekstrem
Samudra yang lebih panas menyimpan lebih banyak energi, memicu peningkatan curah hujan global. Selain itu, kondisi ini juga mendukung terbentuknya badai tropis yang jauh lebih ekstrem dan merusak.
Dalam setahun terakhir, peningkatan suhu global yang hangat ini bertanggung jawab atas berbagai bencana. Dampak buruknya terlihat dari Badai Melissa yang melanda Jamaika dan Kuba, hujan monsun lebat di Pakistan, hingga banjir parah yang menerjang Lembah Mississippi Tengah.
Menghadapi Ketidakseimbangan Termal Global
Para ilmuwan dengan tegas menyatakan bahwa temuan ini memberikan bukti langsung. Mereka menuliskan bahwa sistem iklim Bumi jelas berada di luar keseimbangan termal dan terus mengakumulasi panas dalam skala yang mengkhawatirkan.
Panas laut secara berkelanjutan memberikan dampak yang mendalam pada sistem Bumi secara keseluruhan. Jika emisi gas rumah kaca tidak segera dikurangi, siklus peningkatan penyerapan panas laut akan terus berlanjut. Ini berarti risiko bencana iklim ekstrem akan semakin intensif dalam dekade mendatang. Dunia harus segera bertindak.