Bos Teknologi Klaim AI Buka Lapangan Kerja Fisik Besar-besaran

Bos Teknologi Klaim AI Buka Lapangan Kerja Fisik Besar-besaran
Sumber :
  • Istimewa

Telkomsel Kejar Target 97,5% Cakupan 4G, Perluas Jaringan 5G
  • Ledakan kecerdasan buatan (AI) memicu pembangunan infrastruktur global yang disebut terbesar sepanjang sejarah manusia.
  • Para pemimpin teknologi menegaskan AI bukan sekadar gelembung ekonomi, melainkan fondasi ekonomi baru.
  • Perkembangan ini membuka peluang jutaan lapangan kerja fisik AI dan kejuruan, seperti teknisi chip dan tukang listrik.
  • Marc Benioff mengingatkan pemerintah untuk segera mengatur AI guna menanggulangi risiko keselamatan dan informasi keliru.

Terobosan: Model Bisnis OpenAI Kini Incar Royalti Keuntungan Klien

Para pemimpin perusahaan teknologi global menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) membawa dampak yang jauh melampaui sektor digital. Mereka memproyeksikan bahwa AI akan menciptakan jutaan lapangan kerja fisik AI yang membutuhkan keahlian teknis. Pandangan ini mengemuka dalam diskusi penting di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, saat para tokoh industri membahas masa depan teknologi dan dampaknya terhadap pasar kerja global.

CEO Nvidia, Jensen Huang, secara tegas menolak anggapan bahwa ledakan AI saat ini hanyalah sebuah gelembung ekonomi. Huang menunjukkan bukti kuat: permintaan global akan unit pemrosesan grafis (GPU) Nvidia melonjak tajam.

Triasmitra (KETR) Gelar 8.732 KM SKKL Indonesia Tengah, Dana Obligasi Jadi Kunci

Permintaan tersebut membuat penyewaan GPU di hampir semua layanan komputasi awan (cloud) menjadi semakin sulit. Ini merupakan indikasi nyata tingginya investasi yang terjadi.

Huang menjelaskan bahwa hampir setiap sektor, mulai dari farmasi hingga manufaktur, kini mengalihkan anggaran riset dari laboratorium tradisional ke superkomputer AI. Oleh karena itu, dunia sekarang sedang membangun infrastruktur AI dalam skala masif.

Infrastruktur AI: Pembangunan Terbesar dalam Sejarah

Pembangunan besar-besaran ini mencakup pusat data, pembangkit listrik khusus, dan seluruh jaringan pendukung. Jensen Huang menyebut proyek ini sebagai pembangunan infrastruktur terbesar dalam sejarah manusia.

Pembangunan masif inilah yang menghasilkan banyak pekerjaan baru dengan gaji tinggi. Pekerjaan tersebut sangat membutuhkan tenaga teknis terampil.

Tenaga teknis seperti teknisi chip, pekerja pabrik, dan ahli infrastruktur AI menjadi sangat vital dalam proses pembangunan fondasi digital baru ini.

Senada dengan Huang, CEO Microsoft Satya Nadella juga menilai AI sebagai tren jangka panjang, bukan sekadar gelembung sesaat. Menurut Nadella, jika AI hanyalah gelembung, dampaknya akan terbatas pada sektor teknologi.

Peran AI dalam Percepatan Riset dan Produktivitas

Kenyataannya, AI justru mempercepat riset obat-obatan, meningkatkan efisiensi layanan publik, dan mendorong produktivitas di berbagai industri. Meski demikian, Nadella mengingatkan bahwa manfaat AI harus diukur dari dampak nyatanya terhadap masyarakat luas.

Jika AI hanya menghabiskan energi tanpa memberikan nilai positif di bidang kesehatan dan ekonomi, dukungan publik terhadap teknologi ini dipastikan akan hilang.

Peluang Lapangan Kerja Fisik yang Sulit Digantikan

Meskipun beberapa riset memperkirakan AI dapat menggantikan jutaan pekerjaan dalam waktu dekat, para pemimpin industri menekankan sisi penciptaan pekerjaan. Mereka yakin AI justru membuka peluang pekerjaan yang membutuhkan keahlian kejuruan yang spesifik.

Jensen Huang secara spesifik menyatakan bahwa industri energi, chip, dan pusat data secara kolektif menciptakan banyak lapangan kerja. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dapat menawarkan gaji yang sangat tinggi bagi individu dengan keterampilan khusus.

CEO Palantir, Alex Palantir, juga memprediksi bahwa pekerjaan berbasis kejuruan dan keterampilan teknis akan menjadi tulang punggung pasar kerja yang stabil. Palantir menyebut teknisi dan pekerja terlatih akan semakin dihargai di era AI yang semakin terotomatisasi.

Satya Nadella menekankan pentingnya pengembangan keterampilan AI yang dapat diterapkan secara praktis. Dia berharap ada korelasi langsung antara menguasai keterampilan AI dan peningkatan peluang kerja, sama seperti kemampuan menggunakan perangkat lunak kantor di masa lalu.

Regulasi dan Mitigasi Risiko AI ke Depan

Di tengah optimisme industri, CEO Salesforce Marc Benioff menyampaikan peringatan serius. Walaupun perusahaannya agresif mengadopsi AI, Benioff menyoroti risiko mendasar terkait keselamatan pengguna dan anak-anak.

Benioff menekankan bahwa AI masih sering menghasilkan informasi yang keliru, atau biasa disebut halusinasi. Kondisi ini dapat berdampak berbahaya jika tidak ada tata kelola yang memadai.

Oleh karena itu, pemerintah harus segera hadir dan membentuk regulasi jelas. Regulasi AI berfungsi untuk memitigasi risiko sekaligus menjamin perkembangan lapangan kerja fisik AI berjalan aman dan etis. Tanpa pengawasan ketat, lonjakan teknologi ini berpotensi menimbulkan dampak sosial dan keamanan yang merugikan.