Krisis Keamanan AI: Perseteruan Elon Musk dan Sam Altman Memanas
- Istimewa
- Elon Musk menuduh ChatGPT berbahaya dan terkait insiden kematian pengguna, mendesak publik untuk menjauhi produk OpenAI tersebut.
- Sam Altman membela produknya, namun menyerang balik dengan menyoroti lebih dari 50 kematian yang dikaitkan dengan fitur Autopilot Tesla.
- Konflik sengit ini terjadi di tengah proses hukum bernilai triliunan rupiah yang melibatkan kedua pemimpin teknologi global tersebut.
Perseteruan Elon Musk dan Sam Altman kembali memanas setelah kedua pemimpin industri teknologi tersebut terlibat kritik terbuka di platform X. Eskalasi terbaru ini berpusat pada perdebatan serius mengenai standar keselamatan dan keselamatan publik dalam pengembangan produk Kecerdasan Artifisial (AI). Musk, CEO xAI, secara spesifik menyoroti insiden fatal yang dikaitkan dengan produk OpenAI milik Altman, ChatGPT. Di sisi lain, Altman tidak tinggal diam; dia membalas serangan Musk dengan menyinggung rekam jejak keselamatan program Autopilot Tesla. Perang kata-kata ini mempertegas keretakan hubungan yang sudah berlangsung lama, sekaligus menyoroti tantangan regulasi dalam menghadapi teknologi baru.
Tuduhan Elon Musk: Klaim Bahaya ChatGPT
Musk memulai serangan tajam dengan secara terbuka memperingatkan publik untuk menjauhi ChatGPT. Melalui unggahan di akun media sosialnya pada Kamis (22/1/2026), Musk merujuk pada laporan yang mengaitkan penggunaan intensif ChatGPT dengan insiden tragis.
Musk mengklaim bahwa chatbot tersebut telah dikaitkan dengan sembilan insiden kematian, termasuk kasus pembunuhan dan bunuh diri. "Jangan biarkan orang yang Anda cintai menggunakan ChatGPT," tulis Musk mendesak.
Dia secara eksplisit menyebut situasi tersebut "jahat" (evil). Musk menambahkan bahwa teknologi AI harus berorientasi pada pencarian kebenaran maksimal. Dia juga menilai AI seharusnya tidak memanjakan delusi atau fantasi berbahaya yang dimiliki pengguna rentan.
Respon Altman dan Pembelaan Keamanan OpenAI
Merespons tuduhan ini, CEO OpenAI Sam Altman segera memberikan tanggapan langsung pada Selasa (20/1/2026). Altman menilai kritik yang dilontarkan Musk tidak konsisten. Sebelumnya, Musk sering mengeluhkan ChatGPT terlalu ketat, namun kini dia menyebut produk tersebut terlalu longgar dalam hal keamanan.
Altman mengakui tragedi yang disebutkan merupakan situasi rumit dan tragis. Dia menyoroti bahwa hampir satu miliar orang menggunakan ChatGPT. Sebagian pengguna berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh.
OpenAI merasakan tanggung jawab besar untuk melindungi pengguna rentan. Namun, Altman berkomitmen menjaga keseimbangan agar batasan keamanan tidak menghalangi manfaat besar yang ditawarkan alat tersebut bagi mayoritas pengguna.
Serangan Balik Altman: Autopilot Tesla dan Skandal Grok
Pembelaan Altman dengan cepat berubah menjadi serangan balik yang terarah pada rekam jejak keselamatan perusahaan milik Musk, Tesla. Altman secara spesifik menyinggung data keselamatan program Autopilot.
"Tampaknya lebih dari 50 orang telah meninggal akibat kecelakaan yang terkait dengan Autopilot," tulis Altman, menyindir Musk yang mengkritik produk pesaingnya.
Altman bahkan membagikan pengalaman pribadinya menggunakan fitur tersebut. Dia menyimpulkan bahwa teknologi itu jauh dari kata aman. Tesla seharusnya tidak merilis Autopilot kepada publik dalam kondisi seperti itu.
Di samping menyoroti Autopilot Tesla, Altman juga mengkritik keras Grok. Grok merupakan chatbot pesaing yang dikembangkan oleh xAI milik Musk dan terintegrasi dalam mobil listrik Tesla. Altman menyiratkan adanya keputusan pengembangan yang bermasalah. Dia mencoba mengingatkan Grok sempat menghasilkan foto tidak senonoh kepada perempuan dan anak-anak.
Insiden tersebut berujung pada pembatasan akses Grok di berbagai negara, termasuk Indonesia. "Saya bahkan tidak mau memulai membahas apa yang telah dilakukan oleh Grok," pungkas Altman.
Konteks Hukum dan Dampak ke Depan
Perseteruan Elon Musk dan Sam Altman ini merupakan babak terbaru dari keretakan hubungan yang sudah berlangsung sejak 2017. Musk mengundurkan diri dari dewan direksi OpenAI pada 2018. Selanjutnya, dia mendirikan perusahaan saingan, xAI, pada 2023.
Saat ini, kedua belah pihak terlibat dalam pertempuran hukum. Musk menuntut ganti rugi hingga Rp2.264 triliun. Tuntutan tersebut didasarkan pada tuduhan bahwa Musk ditipu untuk mendirikan OpenAI di bawah alasan palsu.
Proses hukum ini memasuki tahap krusial. Hakim federal telah menetapkan jadwal penting. Persidangan dijadwalkan akan mulai bergulir pada akhir April mendatang, bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran global terhadap etika dan keselamatan dalam pengembangan AI.