Investasi AI Microsoft Rp633 T: Wall Street Khawatirkan Nasib ROI
- Istimewa
- Microsoft menghabiskan US$37,5 miliar (Rp633 triliun) belanja modal (CapEx) dalam satu kuartal, didominasi infrastruktur AI.
- Saham Microsoft turun lebih dari 6% karena investor meragukan return on investment (ROI) investasi AI masif ini.
- Pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure melambat menjadi 39%, memicu kekhawatiran terhadap margin keuntungan perusahaan.
- CEO Satya Nadella optimistis, menyebut adopsi AI masih di tahap awal dan permintaan cloud melebihi pasokan.
Raksasa teknologi global, Microsoft Corp., menuai kekhawatiran serius dari Wall Street. Aksi korporasi berupa Investasi AI Microsoft yang masif memicu pertanyaan tajam mengenai efektivitas dan hasil (ROI) dari dana triliunan rupiah yang telah digelontorkan. Kekhawatiran ini langsung tercermin pada merosotnya saham perusahaan hingga lebih dari 6% pada perdagangan perpanjangan. Investor bereaksi negatif setelah laporan belanja modal (CapEx) kuartalan Microsoft memecahkan rekor.
Perusahaan teknologi tersebut mengungkap angka belanja modal fantastis. Mereka menghabiskan dana sebesar US$37,5 miliar, setara dengan sekitar Rp633 triliun, hanya dalam periode Oktober hingga Desember. Angka ini sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur AI dan pengadaan cip komputasi.
Mengapa Belanja Modal Microsoft Memicu Kekhawatiran Investor?
Agresivitas pengeluaran ini menegaskan ambisi Microsoft memimpin perlombaan AI global. Namun demikian, total belanja terkait Investasi AI Microsoft yang melampaui Rp3.380 triliun sejak tahun fiskal 2024 dimulai mulai membuat investor cemas. Mereka khawatir terhadap potensi dampak masif pengeluaran tersebut pada margin keuntungan di masa depan.
Kinerja keuangan fundamental Microsoft sebenarnya solid. Perusahaan mencatatkan pendapatan total naik 17% menjadi US$81,27 miliar dan laba per saham (EPS) sebesar US$4,14. Sayangnya, pencapaian positif ini tertutup oleh sentimen negatif yang berpusat pada efisiensi modal dan pengembalian investasi yang tidak jelas.
Analisis Perlambatan Pertumbuhan Azure
Di tengah pengeluaran infrastruktur yang besar, pertumbuhan bisnis cloud Azure justru melambat. Azure hanya mencatatkan pertumbuhan sebesar 39% pada kuartal tersebut. Angka ini hanya sedikit melampaui ekspektasi pasar. Perlambatan ini juga ditandai penurunan signifikan dibandingkan pertumbuhan 40% pada kuartal sebelumnya.
Analis menyoroti ketimpangan signifikan antara belanja modal yang masif dengan laju pertumbuhan bisnis inti Azure. Kepala Riset Perangkat Lunak AS di Morgan Stanley, Keith Weiss, menegaskan bahwa pertumbuhan belanja modal yang lebih cepat dari ekspektasi menjadi beban utama.