Lonjakan Harga Chip Memori: Krisis Pasar Smartphone 2026 Dimulai

Lonjakan Harga Chip Memori: Krisis Pasar Smartphone 2026 Dimulai
Sumber :
  • Istimewa

Waymo Raih Rp268 T! Robotaxi Ekspansi ke Tokyo-London
  • Lonjakan harga chip memori LPDDR hingga 100% dari pemasok besar memicu tekanan biaya produksi.
  • Segmen ponsel kelas menengah (mid-range) terancam ditarik dari pasar lebih cepat akibat margin keuntungan yang menipis.
  • Pengembangan smartphone flagship generasi berikutnya terhenti sementara (development limbo) karena risiko finansial tinggi.
  • Konsumen harus siap menghadapi kenaikan harga yang signifikan untuk perangkat baru di tahun 2026.

Maingear Retro98: PC Beige 90an Berisi Hardware 2026

Pasar smartphone global sedang menghadapi ketidakstabilan serius memasuki awal tahun 2026. Situasi mendesak ini dipicu oleh lonjakan harga chip memori yang tajam dan berkelanjutan. Kenaikan biaya ini mengancam seluruh ekosistem.

Menurut bocoran terpercaya dari Digital Chat Station, dampak kenaikan harga chip memori LPDDR ini sudah terasa di seluruh segmen produk. Lonjakan harga menempatkan ponsel kelas menengah (mid-range) pada risiko penarikan mendadak. Selain itu, kondisi ini juga menunda pengembangan smartphone flagship generasi terbaru.

Mengapa IBM Sovereign Core Penting untuk AI Berdaulat?

Ancaman Rantai Pasok: Ketika Biaya Material Meroket

Kenaikan harga chip memori tidak hanya meningkatkan Biaya Bahan Baku (BOM) secara drastis. Tekanan ini juga mengganggu peta jalan (roadmap) merek dan memaksa tim internal menyusun ulang jadwal peluncuran.

Bahkan raksasa teknologi seperti Apple dikabarkan ikut merasakan dampaknya. Pemasok utama seperti Samsung dan SK Hynix dilaporkan telah menaikkan harga memori LPDDR hingga 100% dari harga sebelumnya.

Dampak pada Jadwal Peluncuran

Kami melihat perangkat segmen nilai yang dirilis pada akhir 2025 kemungkinan besar akan dihentikan lebih awal dari rencana. Sementara itu, suksesor perangkat tersebut terpaksa diundur hingga pertengahan 2026 atau bahkan lebih lambat.

Ketika akhirnya diluncurkan, konsumen harus bersiap menghadapi label harga yang jauh lebih tinggi. Merek tidak punya pilihan selain membebankan kenaikan biaya pada pembeli akhir.

Flagship Ditahan, Mid-Range Paling Rentan

Digital Chat Station juga mengungkapkan bahwa tim produk internal kini memandang peluncuran smartphone baru sebagai liabilitas finansial berisiko tinggi. Mereka khawatir investasi besar tidak akan tertutupi oleh margin tipis.

Sebagai respons cepat, beberapa merek telah menunda pengembangan ponsel flagship generasi mereka. Kekhawatiran kini meningkat: beberapa merek mungkin akan keluar dari pasar regional tertentu demi menekan kerugian operasional.

Segmen Rp4 Jutaan dalam Bahaya Besar

Sumber yang sama pada akhir Januari menunjuk segmen ponsel kelas menengah sebagai yang paling rentan. Kategori harga 2.000 hingga 2.500 yuan (sekitar $275-$345) merasakan tekanan terbesar.

Bukti tekanan ini sudah terlihat di pasar. Ponsel awal Snapdragon 8 Elite kini diam-diam menghapus diskon peluncuran mereka. Perbedaan harga antara model 512GB dan 256GB melebar signifikan, melampaui 400 yuan.

Varian 1TB bahkan hampir hilang dari peredaran karena biaya produksi yang tak lagi masuk akal. Beberapa ponsel memotong volume produksi hanya beberapa minggu pasca-peluncuran, sementara perangkat lainnya tidak berhasil melewati tahap prototipe.

Uji Ketahanan Industri: Siapa yang Bertahan di Tahun 2026?

Ketika volatilitas harga chip memori bertabrakan dengan margin keuntungan yang menipis, terlihat jelas bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun tentang ketahanan. Fokus industri bergeser dari inovasi produk menuju strategi bertahan hidup.

Dahulu, persaingan berfokus pada perang spesifikasi unggulan. Sekarang, situasinya berubah cepat menjadi ujian tentang siapa yang mampu tetap bertahan. Pasar akan menunggu, merek smartphone mana yang masih berdiri tegak setelah badai krisis pasar smartphone 2026 ini mereda.