Infrastruktur Telekomunikasi: Biaya Mahal Hambat Investasi

Infrastruktur Telekomunikasi: Biaya Mahal Hambat Investasi
Sumber :
  • Istimewa

FORTUNE Indonesia Summit 2026: Navigasi Strategi Bisnis Masa Depan
  • Biaya sewa lahan kabel fiber optik di daerah mencapai belasan miliar rupiah.
  • Regulasi perizinan yang tumpang tindih menurunkan minat investor swasta secara signifikan.
  • Kesenjangan digital nasional berisiko melebar akibat kurangnya kepastian hukum di daerah.

Realme Bantah Merger dengan Oppo dan Isu PHK Massal India

Pembangunan infrastruktur telekomunikasi di berbagai daerah kini menghadapi tantangan besar akibat regulasi yang rumit. Para pelaku usaha secara terbuka mengeluhkan besarnya biaya retribusi dan sewa lahan untuk kabel fiber optic. Kondisi ini membuat daya tarik investasi menurun tajam di tengah ambisi pemerintah mempercepat transformasi digital nasional.

Problematika Biaya Sewa Infrastruktur Telekomunikasi

Siap-siap! QRIS di Korea Selatan Berlaku Mulai April 2026

Pihak industri melaporkan bahwa belasan daerah menerapkan tarif sewa yang sangat tinggi untuk pemasangan kabel. Wilayah Jawa Timur menjadi salah satu area dengan konsentrasi biaya tertinggi saat ini. Pemerintah daerah seringkali menetapkan tarif berdasarkan nilai komersial lahan yang jauh melampaui beban operasi perusahaan.

Beberapa daerah bahkan menuntut biaya sewa hingga Rp14 miliar di satu wilayah saja. Padahal, kabel tersebut tertanam di bawah tanah tanpa mengganggu aktivitas permukaan lahan. Ketimpangan nilai sewa ini menyulitkan para pengusaha dalam menyusun estimasi investasi yang realistis dan berkelanjutan.

Dampak Ketidakpastian Aturan terhadap Ekosistem Digital

Regulasi yang berlapis dan mekanisme perizinan yang berbeda antarwilayah menciptakan tumpang tindih biaya. Hal ini memicu biaya tambahan tidak terduga bagi para penyelenggara jaringan kabel bawah tanah. Akibatnya, jumlah pelaku industri menara dan jaringan kini terus menyusut dibandingkan dua dekade lalu.

Penurunan minat investasi ini sangat mengancam perluasan akses digital di wilayah tertinggal. Pengamat menilai bahwa kebijakan daerah yang hanya fokus pada pendapatan retribusi justru merugikan masyarakat. Tanpa investasi swasta, masyarakat di pelosok akan sulit mendapatkan akses internet yang berkualitas dan terjangkau.

Solusi dan Jalur Tengah untuk Akselerasi Digital

Kementerian terkait menegaskan bahwa pemerintah pusat kini lebih fokus membangun jaringan di wilayah terluar. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pihak swasta menjadi sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan nasional. Dialog intensif antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan industri harus segera terlaksana.

Pengelolaan infrastruktur ke depan perlu menerapkan tiga prinsip utama: transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi. Pemerintah daerah harus memastikan aturan penetapan biaya bersifat jelas dan mudah diakses oleh publik. Proses perizinan juga memerlukan simplifikasi agar tidak terjadi duplikasi persyaratan yang membuang waktu.

Tantangan Masa Depan Akses Digital Indonesia

Kegagalan dalam memperbaiki regulasi infrastruktur telekomunikasi akan memperlebar jurang kesenjangan digital. Tanpa langkah konkret, target peningkatan kecepatan broadband nasional akan sangat sulit tercapai dalam waktu dekat. Pembaruan regulasi yang memberikan insentif bagi investor menjadi kunci utama perubahan ini.

Kepastian hukum tetap menjadi harapan terbesar bagi para pemangku kepentingan di sektor digital. Jika kebijakan daerah mengabaikan hak akses digital warga, maka peluang pertumbuhan ekonomi akan semakin sempit. Penyesuaian kebijakan yang adil dan transparan merupakan jalan satu-satunya menuju investasi infrastruktur telekomunikasi yang berkelanjutan.