AS Debut Drone LUCAS dalam Serangan Udara Masif ke Iran
- Istimewa
Pejabat AS mengungkapkan bahwa beberapa unit drone menggunakan terminal Starlink untuk memperkuat koordinasi. Koneksi satelit ini memungkinkan penargetan dinamis secara kooperatif di bawah pengawasan operator manusia. Fleksibilitas peluncurannya juga sangat tinggi, mulai dari katapel hingga kendaraan bergerak di lapangan.
Angkatan Laut AS bahkan telah menguji peluncuran drone ini dari kapal perang USS Santa Barbara. Uji coba pada kapal Littoral Combat Ship (LCS) ini membuktikan bahwa LUCAS bisa beroperasi dari berbagai platform darat maupun laut. Fleksibilitas tersebut memberikan keunggulan taktis untuk melakukan serangan mendadak di area operasi CENTCOM yang luas.
Rekayasa Balik Shahed-136 dan Dampak ke Depan
Pengembangan drone LUCAS merupakan hasil rekayasa balik (reverse engineering) dari drone Shahed-136 asal Iran. AS memanfaatkan inovasi domestik untuk meniru efisiensi alutsista lawan namun dengan sistem kontrol yang lebih modern. Kecepatan produksi yang tinggi menjadi kunci utama AS dalam mengimbangi ancaman drone murah di Timur Tengah.
Saat ini, sistem pertahanan udara konvensional mulai kesulitan menghadapi serangan drone kamikaze yang diproduksi secara massal. Kehadiran LUCAS menjadi jawaban strategis AS untuk mendominasi ruang udara dengan biaya yang lebih rasional. Ke depannya, penggunaan drone LUCAS diprediksi akan semakin masif dalam berbagai operasi militer AS di seluruh dunia.