Harga Chip 2nm Melejit, HP Flagship 2026 Bakal Lebih Mahal?
- Istimewa
- Biaya produksi wafer 2nm TSMC melonjak hingga melampaui $30.000 per keping.
- Apple, Qualcomm, dan MediaTek bersiap meluncurkan chipset 2nm pertama pada tahun 2026.
- Harga ponsel flagship dari sub-brand populer diprediksi mulai dari 5.000 yuan (sekitar Rp11 jutaan).
Industri teknologi sedang bersiap menyambut revolusi performa besar-besaran pada tahun 2026 mendatang. Apple, Qualcomm, dan MediaTek kabarnya akan merilis prosesor mobile 2nm pertama untuk perangkat flagship. Namun, laporan terbaru mengungkapkan bahwa lonjakan biaya produksi akan berdampak signifikan pada harga chip 2nm yang kian mahal.
Melambungnya Biaya Produksi Wafer 2nm TSMC
TSMC sebagai produsen semikonduktor terbesar dunia menghadapi tantangan finansial yang besar. Biaya satu wafer 2nm dari TSMC diperkirakan akan menembus angka $30.000. Nilai ini hampir dua kali lipat lebih tinggi jika kita bandingkan dengan wafer 4nm yang populer saat ini.
Proses manufaktur pada skala sekecil ini tidak hanya sulit secara teknis. Investasi besar dalam riset dan peralatan canggih memaksa vendor chip menanggung biaya produksi yang masif. Kondisi ini otomatis akan mengerek harga jual chipset ke para produsen smartphone global.
Dampak Harga pada Flagship OnePlus, iQOO, dan Redmi
Kenaikan biaya komponen inti biasanya akan memengaruhi harga jual produk akhir secara langsung. Tipster industri ternama, Digital Chat Station, mengklaim ponsel flagship masa depan akan mengalami kenaikan harga signifikan. Merek seperti OnePlus, iQOO, dan Redmi yang menggunakan chipset 2nm kemungkinan besar akan menaikkan harga jualnya.
Smartphone dengan konfigurasi dasar 12GB RAM dan 256GB memori internal diprediksi mulai dari 5.000 yuan. Sebagai perbandingan, seri OnePlus 15 saat ini meluncur dengan harga 3.999 yuan. Begitu pula dengan iQOO 15 dan Redmi K90 Pro Max yang memiliki kisaran harga serupa di awal perilisannya.
Strategi Vendor Menghadapi Kenaikan Harga Chip 2nm
Produsen ponsel pintar kemungkinan besar tidak akan menanggung sendiri kenaikan biaya fabrikasi yang tinggi tersebut. Mereka diperkirakan bakal mengadopsi strategi diferensiasi produk untuk menjaga daya saing di pasar. Tidak semua model smartphone dalam satu seri akan mengusung teknologi prosesor terbaru.