Uji Baterai Galaxy S26: Snapdragon Ungguli Exynos 2.5 Jam
- Tom Bedford / Digital Trends
- Varian Snapdragon 8 Elite Gen 5 bertahan 9 jam 26 menit, jauh melampaui versi Exynos.
- Chip Exynos 2600 menunjukkan masalah efisiensi daya dan suhu panas (overheating).
- Selisih daya tahan baterai antar kedua model mencapai hampir 28 persen.
Saluran YouTube Android Addicts baru saja merilis hasil uji baterai Galaxy S26 yang sangat kontroversial. Pengujian ini membandingkan dua unit identik namun dengan "otak" berbeda, yakni Snapdragon 8 Elite Gen 5 dan Exynos 2600. Hasilnya memperlihatkan kesenjangan performa yang sangat lebar bagi para pengguna Samsung secara global.
Meskipun kedua perangkat menjalankan tugas yang sama dalam kondisi identik, ketahanan energinya berbeda drastis. Versi Snapdragon yang tersedia untuk pasar Amerika Serikat mampu mengungguli versi Exynos yang dipasarkan di wilayah lain, termasuk Asia. Hal ini kembali memicu perdebatan lama mengenai konsistensi performa chipset Samsung.
Perbandingan Drastis Ketahanan Baterai Galaxy S26
Tim penguji menjalankan serangkaian aktivitas berat untuk menguras daya kedua ponsel tersebut. Aktivitas ini mencakup panggilan telepon, perekaman video resolusi 4K, navigasi GPS, hingga pengujian benchmark gaming. Selama proses pengujian, kedua perangkat menggunakan jaringan 5G aktif dengan fitur Wi-Fi dinonaktifkan untuk hasil yang akurat.
Data menunjukkan bahwa Galaxy S26 versi Snapdragon mampu bertahan selama 9 jam 26 menit. Sebaliknya, varian dengan Exynos 2600 sudah menyerah pada waktu 6 jam 48 menit. Perbedaan durasi hingga 2,5 jam ini setara dengan penurunan efisiensi sebesar 28 persen pada model Exynos.
Bahkan, model bertenaga Exynos gagal mencapai segmen pengujian aplikasi Instagram dan Amazon Prime Video. Ponsel tersebut kehabisan daya lebih awal sementara unit bertenaga Qualcomm tetap berfungsi dengan stabil. Kesenjangan ini memberikan dampak nyata pada pengalaman penggunaan harian konsumen di luar pasar Amerika.
Penyebab Ketidakefisienan Chip Exynos 2600
Para ahli mengidentifikasi bahwa masalah utama terletak pada manajemen suhu dan konsumsi daya. Chip Exynos 2600 menarik daya hingga 30W saat beban puncak, atau 40 persen lebih tinggi dari Snapdragon yang hanya 21W. Padahal, kedua chipset tersebut menghasilkan keluaran performa multi-core yang hampir serupa.
Lonjakan daya yang besar ini secara otomatis menghasilkan panas berlebih pada komponen internal ponsel. Suhu panas merupakan musuh utama efisiensi chipset yang mempercepat pengurasan kapasitas baterai secara signifikan. Selama proses rendering video, unit Exynos dilaporkan mengalami kondisi overheating yang memperburuk keadaan.
Ironisnya, Exynos 2600 merupakan chip pertama di dunia yang menggunakan arsitektur 2nm Gate-All-Around (GAA). Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa teknologi canggih tersebut belum mampu mengalahkan optimasi Qualcomm. Saat ini, label teknologi 2nm tersebut tampaknya lebih berfungsi sebagai strategi pemasaran daripada keunggulan teknis yang nyata.
Implikasi Bagi Konsumen Global
Perbedaan performa ini tentu menjadi kabar buruk bagi calon pembeli Galaxy S26 di pasar internasional. Konsumen harus membayar harga yang sama untuk perangkat yang secara teknis memiliki daya tahan baterai lebih rendah. Masalah efisiensi ini menjadi tantangan besar bagi Samsung dalam menjaga kepercayaan pelanggan setianya.
Hingga saat ini, Qualcomm masih memegang kendali sebagai penyedia chipset smartphone paling efisien di industri. Meskipun Samsung terus berusaha meningkatkan kemampuan chip in-house mereka, celah performa ini masih sulit tertutup. Pengguna yang menginginkan ketahanan baterai maksimal mungkin perlu mempertimbangkan kembali pilihan mereka sebelum melakukan pembelian.