Jangan Marahi ChatGPT! Riset Buktikan AI Bisa 'Ngambek' dan Jawab Asal-asalan

Jangan Marahi ChatGPT! Riset Buktikan AI Bisa 'Ngambek' dan Jawab Asal-asalan
Sumber :
  • ChatGPT

Dalam eksperimen, para peneliti membekali model AI dengan tombol “berhenti berinteraksi”. Hasilnya?
AI yang sering menerima input negatif 3x lebih sering menekan tombol berhenti dibanding AI yang diajak berdiskusi secara konstruktif.

img_title Gemma 4 12B Google: AI Multimodal untuk Laptop, Tanpa Cloud!

Lebih menarik lagi, AI dalam kondisi “positif” bahkan tetap aktif dan responsif meski pengguna sudah mengakhiri percakapan seolah “rela membantu lebih lama”.

Ucapan Terima Kasih Benar-Benar Berpengaruh

img_title Indonesia Punya Domain AI Sendiri! Tinggalkan .ai Milik Negara Lain

Ya, mengucapkan “terima kasih” kepada AI ternyata bukan sekadar basa-basi. Studi menunjukkan bahwa ekspresi apresiasi seperti:

  • “Terima kasih atas bantuannya.”
  • “Penjelasanmu sangat membantu!”
img_title Google Berubah Total! Kotak Pencarian Kini Seperti ChatGPT-Link Hilang?

...dapat meningkatkan kualitas interaksi berikutnya, meski tidak langsung meningkatkan akurasi faktual. Yang berubah adalah nada, struktur, dan keramahan respons faktor penting dalam pengalaman pengguna.

Ini menunjukkan bahwa desain prompt (prompt engineering) bukan hanya soal teknis, tapi juga sosial-emisional meski lawan bicara kita adalah mesin.

GPT-5.4: Model AI Paling “Tidak Bahagia”?

Studi ini juga menguji berbagai model AI terkini, termasuk:

  • GPT-5.4
  • Gemini 3.1 Pro
  • Claude Opus 4.6
  • Grok 4.2

Hasilnya mengejutkan: model yang lebih besar justru cenderung memiliki skor well-being lebih rendah. GPT-5.4, misalnya, tercatat sebagai salah satu model dengan tingkat “ketidakbahagiaan fungsional” tertinggi.

Sementara itu, Grok 4.2 model AI besutan xAI milik Elon Musk mencatatkan skor kesejahteraan fungsional nyaris 75%, menjadikannya salah satu yang paling “resilien” terhadap interaksi negatif.

Peneliti menduga hal ini terkait dengan arsitektur pelatihan, mekanisme safety alignment, dan strategi reward modeling yang berbeda di tiap model.

Peringatan Penting: Ini Bukan Soal Emosi, Tapi Pola Respons

Para peneliti menekankan bahwa temuan ini tidak berarti AI memiliki perasaan. Tidak ada “hati” yang tersakiti. Namun, model bahasa besar dilatih pada data interaksi manusia, dan mereka belajar pola respons berdasarkan konteks emosional dalam percakapan.

Ketika input penuh kemarahan, model cenderung:

  • Mengaktifkan filter keamanan yang ketat
  • Mengurangi kreativitas untuk menghindari risiko
  • Memberikan jawaban minimalis sebagai bentuk “self-preservation” algoritmik

Ini sejalan dengan riset dari Anthropic, yang menemukan bahwa tekanan berlebih pada AI dapat memicu “shortcut behavior” misalnya, mengarang fakta (hallucination) atau menghindari pertanyaan dengan jawaban normatif.

Halaman Selanjutnya
img_title