Fakta di Balik Perpisahan Huawei dan Honor yang Jarang Diketahui
- ilustrasi
Pada awal kemunculannya, gadget.viva.co.id/tag/huawei">Huawei dan Honor sebenarnya berada dalam satu payung yang sama. Honor diperkenalkan oleh Huawei pada tahun 2013 sebagai sub-brand yang menyasar segmen anak muda. Saat itu, strategi yang diusung cukup jelas, yakni menghadirkan smartphone dengan harga lebih ramah di kantong tanpa mengorbankan kualitas, terutama melalui jalur penjualan online yang sedang berkembang pesat.
Seiring waktu, Honor berkembang menjadi salah satu lini produk yang cukup sukses. Bahkan, brand ini mampu menarik perhatian pasar global berkat kombinasi harga kompetitif dan spesifikasi yang menarik. Namun demikian, perjalanan mulus tersebut mulai menghadapi tantangan besar ketika situasi geopolitik ikut memengaruhi industri teknologi global.
Memasuki akhir dekade 2010-an, hubungan antara Huawei dan pasar internasional mulai mengalami tekanan. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Amerika Serikat yang memasukkan Huawei ke dalam daftar hitam perdagangan atau Entity List pada tahun 2019. Kebijakan tersebut pada dasarnya membatasi perusahaan-perusahaan asal AS untuk menjalin kerja sama dengan Huawei.
Dampaknya pun terasa signifikan. Salah satu pukulan terbesar datang dari terhentinya akses Huawei ke layanan milik Google, khususnya Google Mobile Services atau GMS. Padahal, layanan ini menjadi bagian penting dalam ekosistem Android yang digunakan secara luas di pasar global. Tanpa GMS, perangkat Huawei mengalami kendala dalam bersaing, terutama di luar Tiongkok.
Di sisi lain, karena Honor masih berada di bawah naungan Huawei pada saat itu, brand ini juga ikut terdampak. Padahal, Honor memiliki potensi besar untuk terus berkembang di pasar internasional. Situasi ini kemudian mendorong Huawei untuk mencari solusi agar bisnis Honor tetap bisa bertahan.
Sebagai langkah strategis, Huawei akhirnya mengambil keputusan besar pada November 2020. Perusahaan tersebut resmi menjual Honor kepada konsorsium perusahaan asal Tiongkok bernama Shenzhen Zhixin New Information Technology Co., Ltd.. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam sejarah kedua brand tersebut.
Langkah tersebut bukan semata-mata transaksi bisnis biasa. Sebaliknya, ini merupakan upaya penyelamatan agar Honor bisa terbebas dari dampak sanksi yang dijatuhkan kepada Huawei. Dengan status baru sebagai entitas independen, Honor tidak lagi terikat langsung dengan pembatasan dari pemerintah AS.
Setelah resmi berpisah, perubahan besar mulai terlihat. Honor kembali mendapatkan akses ke berbagai teknologi penting yang sebelumnya dibatasi. Misalnya, brand ini kembali bisa menggunakan layanan Google pada perangkat terbarunya, yang menjadi nilai tambah besar di pasar global. Selain itu, Honor juga leluasa bekerja sama dengan berbagai produsen chipset seperti Qualcomm dan MediaTek.
Tidak hanya itu, fleksibilitas Honor dalam melakukan ekspansi internasional juga semakin meningkat. Brand ini mulai kembali masuk ke berbagai pasar yang sebelumnya sulit dijangkau akibat pembatasan. Dengan kata lain, perpisahan ini membuka peluang baru bagi Honor untuk membangun identitasnya sendiri.
Sementara itu, Huawei harus menempuh jalannya sendiri tanpa dukungan dari ekosistem teknologi AS. Untuk mengatasi hal tersebut, Huawei mengembangkan sistem operasinya sendiri yang dikenal sebagai HarmonyOS. Langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan ekosistem mandiri yang tidak bergantung pada pihak luar.
Meskipun menghadapi tantangan besar, Huawei tetap berupaya mempertahankan posisinya di industri teknologi global. Di sisi lain, Honor kini berkembang sebagai brand yang lebih independen dengan strategi yang lebih fleksibel.
Jika ditarik kesimpulan, perpisahan antara Huawei dan Honor bukan disebabkan oleh konflik internal, melainkan oleh tekanan eksternal yang cukup kuat. Faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan global menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut. Huawei memilih untuk melepas Honor agar brand tersebut tetap memiliki peluang untuk bertahan dan bersaing di pasar internasional.
Hingga saat ini, keduanya telah berjalan di jalur yang berbeda. Meski demikian, hubungan historis antara Huawei dan Honor tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan masing-masing. Perpisahan ini justru menunjukkan bagaimana perusahaan teknologi harus mampu beradaptasi dengan dinamika global yang terus berubah.