Peter Thiel Danai Data Center AI Terapung Rp2,4 Triliun

Peter Thiel Danai Data Center AI Terapung Rp2,4 Triliun
Sumber :
  • Istimewa

img_title Eksperimen Radio AI Andon Labs Kacau, AI Malah Berontak
  • Panthalassa meraih pendanaan US$140 juta untuk memindahkan pusat data ke lepas pantai.
  • Proyek Ocean-3 memanfaatkan energi gelombang laut murni sebagai sumber daya utama.
  • Sistem ini tidak memerlukan transmisi kabel bawah laut karena berbasis satelit LEO.
  • Investor besar seperti Peter Thiel dan John Doerr mendukung penuh visi ini.

img_title Gemini 3.5 Flash Resmi Rilis, Ungguli Gemini 3.1 Pro?

Startup energi terbarukan Panthalassa baru saja mengamankan pendanaan sebesar US$140 juta atau setara Rp2,44 triliun untuk membangun Data Center AI di lepas pantai. Investor kenamaan Peter Thiel memimpin putaran pendanaan ini guna mendukung misi perusahaan memindahkan infrastruktur komputasi dari daratan ke samudra luas.

Langkah strategis ini bertujuan untuk menyelesaikan fasilitas manufaktur percontohan di dekat Portland, Oregon. Panthalassa kini fokus mempercepat penyebaran unit Ocean-3, sebuah sistem komputasi terapung yang mengandalkan energi bersih secara mandiri.

img_title Google Search AI Resmi Hadir, Pengguna Tak Bisa Tolak?

Inovasi Ocean-3 dan Pemanfaatan Energi Gelombang Laut

Platform teknologi Panthalassa beroperasi di wilayah laut dalam dengan kepadatan energi gelombang tertinggi. Sistem canggih ini mengubah sumber daya alam tersebut menjadi tenaga listrik yang stabil untuk menghidupkan perangkat keras komputer secara berkelanjutan.

CEO Panthalassa, Garth Sheldon-Coulson, menyatakan bahwa perusahaan kini siap membangun pabrik dan mengerahkan armada ke berbagai penjuru dunia. Inovasi ini hadir sebagai solusi penyediaan sumber energi baru yang lebih ramah lingkungan bagi industri teknologi global.

Berbeda dengan proyek energi laut lainnya, sistem ini tidak memerlukan instalasi kabel bawah laut yang mahal ke daratan. Seluruh proses komputasi terjadi secara lokal di atas unit terapung yang berada di tengah samudra Pasifik.

Efisiensi Pendinginan Alami dan Konektivitas Satelit

Unit Data Center AI milik Panthalassa menggunakan jaringan satelit Low-Earth-Orbit (LEO) untuk mengirimkan hasil olah data ke darat. Metode ini memungkinkan operasional di lokasi terpencil tanpa hambatan infrastruktur fisik yang rumit.

Selain itu, temperatur air laut yang rendah memberikan keuntungan besar bagi efisiensi energi. Perusahaan memanfaatkan air laut sebagai sistem pendingin alami untuk menjaga suhu perangkat keras agar tetap optimal tanpa memerlukan daya listrik tambahan.

Solusi Mengatasi Krisis Infrastruktur di Daratan

Investor utama, Peter Thiel, menekankan bahwa masa depan membutuhkan kapasitas komputasi yang jauh lebih besar. Menurutnya, Panthalassa telah membuka batas baru di samudra dengan menghadirkan solusi yang sebelumnya dianggap sebagai fiksi ilmiah semata.

Saat ini, pusat data konvensional di darat menghadapi berbagai kendala serius seperti kelangkaan air pendingin dan batasan kapasitas jaringan listrik. Panthalassa hadir untuk menjawab tantangan tersebut sekaligus mengurangi dampak ekologi terhadap masyarakat lokal di sekitar fasilitas industri.

Startup ini telah menghabiskan waktu hampir sepuluh tahun untuk menyempurnakan teknologi propulsi otonom. Keberhasilan uji coba purwarupa Ocean-1 dan Ocean-2 pada tahun-tahun sebelumnya menjadi fondasi kuat untuk komersialisasi teknologi ini.

Jadwal Operasional Komersial dan Dukungan Investor Global

Panthalassa menjadwalkan pengerahan seri Ocean-3 di Samudra Pasifik utara pada tahun 2026. Jika fase uji coba ini sukses, perusahaan akan mulai mengoperasikan sistem Data Center AI secara komersial penuh pada tahun 2027 mendatang.

Hingga kini, total modal yang terkumpul mencapai US$210 juta atau sekitar Rp3,66 triliun. Sejumlah raksasa investasi seperti Hanwha Group, Super Micro Computer, hingga TIME Ventures milik Marc Benioff turut serta dalam pendanaan ini.

Langkah Panthalassa ini memperkuat tren teknologi ekstrem yang mulai melirik wilayah luar angkasa dan laut dalam. Perusahaan kini bersaing dengan pemain lokal di Pasifik Barat Laut seperti Oscilla Power dan C-Power dalam mengoptimalkan potensi besar energi gelombang laut.