Vivo Siapkan Pocket Camera dengan Sensor Flagship 200MP!

Vivo Siapkan Pocket Camera dengan Sensor Flagship 200MP!
Sumber :
  • DJI

Gadget – Dunia kamera saku portabel akan segera kedatangan pemain baru yang sangat serius: Vivo. Setelah DJI mendominasi segmen ini selama lima tahun terakhir dan Insta360 baru saja meluncurkan seri Luna hasil kolaborasi dengan Leica, kini raksasa smartphone asal Tiongkok itu mengumumkan kehadiran Vivo Pocket Camera sebuah perangkat yang bukan sekadar ikut tren, tapi justru ingin mendefinisikan ulang standar teknis di kelasnya.

img_title Insta360 Luna Ultra vs DJI Osmo Pocket 4: Perbandingan Kamera Saku Terbaik 2026

Yang membuat gebrakan ini mencengangkan? Vivo tidak menggunakan sensor biasa. Ia menanamkan Sony LYTIA 901, sensor 200MP berukuran 1/1.12 inci yang sama persis dengan yang akan digunakan di flagship Vivo X300 Ultra. Artinya, kamera saku ini berbagi “DNA imaging” dengan ponsel kelas atas bukan versi turunan atau komponen bekas.

Dengan fitur seperti gimbal stabilisasi internal, rekaman 4K pada 120fps, zoom digital 4x lossless, dan AI remosaicing di level hardware, Vivo jelas tidak main-main. Ini adalah langkah strategis untuk merebut hati kreator konten profesional, vlogger, dan videografer mobile yang menginginkan performa sinematik dalam bentuk ultra-portabel.

img_title DJI Terancam! OPPO dan Vivo Siapkan Kamera Saku 200MP, Lebih Gahar dari Osmo Pocket 4

Artikel ini mengupas tuntas spesifikasi teknis sensor LYT-901, perbandingan dengan pesaing, strategi Vivo, serta implikasi besar bagi industri kamera saku global.

Sensor LYT-901: Bukan Sekadar Angka 200MP

img_title Insta360 Luna Ultra Bocor: Harga Hampir Rp12 Juta, Lawan DJI Pocket 4P!

Kebanyakan sensor 200MP di pasaran menggunakan pendekatan konvensional: banyak piksel, lalu mengandalkan pixel binning dan pemrosesan perangkat lunak untuk HDR atau low-light. Tapi Sony LYTIA 901 yang dikembangkan khusus untuk flagship imaging melangkah lebih jauh.

Apa yang Membuat LYT-901 Unik?

  • Arsitektur Quad-Quad Bayer Color (QQBC): Mengelompokkan 16 piksel sejenis (bukan 4 seperti Bayer standar), meningkatkan sensitivitas cahaya tanpa kehilangan detail resolusi penuh.
  • On-sensor AI Remosaicing: Proses konversi warna dilakukan di dalam chip sensor, bukan di CPU atau GPU. Hasilnya: lebih cepat, lebih akurat, dan minim artefak.
  • Dynamic Range >100dB: Setara dengan kamera sinema kelas menengah.
  • 4K/120fps dengan 4x Binning: Memungkinkan slow-motion berkualitas tinggi tanpa penurunan resolusi drastis.
  • Zoom Digital 4x Lossless: Berkat resolusi 200MP, zoom tetap mempertahankan detail 4K penuh.

Ini bukan sekadar sensor kamera ini komputer visual miniatur yang dibangun langsung ke dalam silikon.

Halaman Selanjutnya
img_title