Dracin Viral Ternyata Dibuat oleh AI! Ini Tools yang Dipakai

Dracin Viral Ternyata Dibuat oleh AI! Ini Tools yang Dipakai
Sumber :
  • Sixth Tone

Gadget – Anda salah satu yang scroll-scroll TikTok atau media sosial lalu tiba-tiba terpaku pada drama China berdurasi 30 detik dengan plot penuh emosi, cinta segitiga, balas dendam, atau bahkan pertarungan naga? Itu bukan kebetulan itu adalah microdrama, atau yang populer disebut “dracin” (drama China), dan kini sebagian besar diproduksi dengan bantuan kecerdasan buatan (AI).

img_title Bahaya Manipulasi Jawaban AI: Chatbot Sangat Mudah Didikte!

Yang lebih mengejutkan: tidak hanya efek visualnya, tapi seluruh proses kreatif dari penulisan skenario hingga musik latar kini bisa diotomatisasi. Di balik layar, ada “tim AI” yang bekerja tanpa lelah, menggantikan peran puluhan tenaga manusia dalam waktu singkat dan biaya minimal.

Artikel ini mengungkap bagaimana AI mengubah wajah industri hiburan China, siapa saja “anggota tim AI” yang digunakan kreator, serta dampaknya terhadap masa depan pekerja kreatif mulai dari penulis skenario hingga aktor.

img_title ChatGPT untuk PowerPoint Dirilis, Bikin Slide Kini Otomatis

Apa Itu Dracin? Fenomena Microdrama yang Mengguncang Media Sosial

Microdrama atau dracin adalah serial pendek berdurasi 1–3 menit per episode, biasanya dikonsumsi secara vertikal di ponsel. Format ini sangat populer di platform seperti Douyin (TikTok versi China), WeChat, dan Xiaohongshu.
Ciri khasnya:

img_title Bahaya Halusinasi AI Rusak Kredibilitas Jurnal Ilmiah

Plot cepat dan dramatis

  • “Hook” emosional di 5 detik pertama
  • Visual mencolok meski durasi singkat
  • Cerita bersambung yang memicu rasa penasaran

Menurut data terbaru, industri microdrama China kini bernilai Rp132 triliun, dengan miliaran penayangan setiap bulan. Dan di tengah ledakan permintaan ini, AI hadir sebagai solusi ajaib untuk memenuhi kebutuhan konten harian tanpa menguras anggaran produksi.

Chen Kun dan “Tim AI”-nya: Empat Tools yang Ubah Ide Jadi Serial Viral

Salah satu pelopor penggunaan AI dalam microdrama adalah Chen Kun, kreator serial Strange Mirror of Mountains and Seas yang telah ditonton lebih dari 50 juta kali. Ia secara terbuka mengakui bahwa hampir seluruh elemen serialnya dihasilkan oleh AI.

Berikut “tim AI” andalannya:

1. ChatGPT – Penulis Skrip Otomatis

Chen menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan naskah lengkap, termasuk dialog, struktur plot, dan twist cerita. Cukup dengan prompt seperti:

“Buat drama fantasi 10 episode tentang pahlawan muda yang melawan naga penjaga gunung suci.”
Dalam hitungan detik, skenario siap dipakai.

2. Midjourney – Desainer Visual Dunia Fantasi

Untuk menciptakan karakter protagonis tampan, monster mirip naga, dan lanskap epik, Chen memilih Midjourney. Setiap gambar di-generate berdasarkan deskripsi detail dari prompt-nya.

3. Kling AI – Animator Gambar Jadi Video

Gambar statis dari Midjourney lalu dihidupkan menjadi video pendek menggunakan Kling AI, model animasi generatif asal China yang mampu menambahkan gerakan mata, ekspresi wajah, dan efek kamera.

4. Suno AI – Komposer Musik Latar Instan

Terakhir, Suno AI menghasilkan musik latar dan lagu tema sesuai suasana adegan misalnya, nada mistis untuk adegan ritual, atau irama tegang saat pertarungan.

“Manusia hanya terlibat di tahap akhir: penyuntingan dan pengisian suara,” ungkap Chen.

Mengapa AI Cocok untuk Microdrama?

Menurut Chen, layar ponsel yang kecil dan durasi singkat membuat penonton tidak terlalu memperhatikan detail visual yang kaku atau tidak sempurna. Bahkan jika karakter bergerak agak aneh atau latar belakang tidak realistis, audiens cenderung memaafkan selama ceritanya menarik.

Seorang pengguna Douyin bernama Tiger Mum berkomentar:
“Kalau nontonnya santai tanpa mikir, detail visual yang aneh bisa diabaikan.”
Ini menjadi celah sempurna bagi AI untuk masuk karena kecepatan dan volume lebih penting daripada kesempurnaan sinematik.

Efisiensi Ekstrem: Dari Minggu Jadi Menit

Alasan utama industri microdrama China beralih ke AI adalah efisiensi. Zhang Shiyu, teknisi pascaproduksi di Dongyang Gewuzhizhi Culture Media, menjelaskan:
“Proses yang dulu butuh berhari-hari, sekarang bisa selesai dalam hitungan menit.”

Contoh konkret:

  • Evaluasi novel 1,2 juta kata: dulu butuh 10–14 hari oleh tim manusia, kini cukup 1–2 jam dengan AI.
  • Pembuatan adegan fantasi: pasukan digital, pertempuran udara, atau istana megah bisa di-generate tanpa syuting fisik.
  • Biaya produksi: turun hingga 70% dibanding metode konvensional.

Perusahaan seperti Huace Group bahkan telah melatih model bahasa besar (LLM) sendiri menggunakan 50.000 jam arsip film dan naskah selama 30 tahun. Model ini kini mampu mengevaluasi potensi viral sebuah cerita dengan akurasi 90%.

Kekhawatiran: Apakah AI Akan Menggantikan Manusia?

Meski efisien, penggunaan AI memicu kekhawatiran serius:

  • PHK massal penulis, desainer, dan editor
  • Pelanggaran hak cipta, karena AI dilatih menggunakan data yang tidak selalu legal
  • Homogenisasi konten, karena semua serial mengikuti formula AI yang sama

Namun, pelaku industri menegaskan: AI bukan pengganti manusia melainkan alat bantu.

Lin Ju, manajer operasional Yuanying, perusahaan produksi di Hengdian (dijuluki “Hollywood-nya China”), menyatakan:
“AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia. Inti penciptaan tetap ada pada manusia.”

Ia menekankan bahwa penulis skenario tetap harus mengarahkan bahasa visual, dan syuting dengan aktor nyata masih penting agar industri tidak kehilangan jiwa sinematiknya.

Masa Depan: Prompt Engineer, Profesi Baru di Era AI

Chen Kun optimistis. Ia percaya profesi baru akan muncul, seperti:

  • Prompt engineer: ahli merancang instruksi kreatif untuk AI
  • AI director: mengawasi alur kerja antara manusia dan mesin
  • Ethical auditor AI: memastikan konten tidak melanggar norma atau hak cipta

“Semua yang kami deskripsikan di prompt berasal dari imajinasi kami sendiri,” kata Chen.
“Baik itu wujud manusia maupun monster, itu tetap kreasi orisinal.”

Kesimpulan: AI Bukan Musuh, Tapi Mitra Kreatif

Revolusi AI di industri microdrama China bukan sekadar tren ia adalah transformasi struktural yang mengubah cara kita memproduksi, mengonsumsi, dan memahami hiburan.

Dracin yang bikin ketagihan mungkin lahir dari mesin, tapi emosi yang memicu klik itu tetap berasal dari manusia. Dan selama manusia masih punya imajinasi, AI hanyalah kuas baru di tangan seniman digital abad ke-21.

Yang pasti: masa depan hiburan sudah di sini dan ia bekerja 24/7, tanpa lelah, dan hanya butuh satu prompt untuk memulai.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget