Pengiriman Ponsel RI Anjlok 9%, Ponsel Mewah Justru Laris Manis
- Counterpoint
Gadget – Pasar ponsel pintar (smartphone) di Indonesia mengawali kuartal pertama tahun 2026 dengan kelesuan. Berdasarkan laporan terbaru dari lembaga riset Counterpoint, volume pengiriman ponsel pintar di tanah air merosot hingga 9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Penurunan ini dipicu oleh sikap konsumen yang cenderung menahan diri untuk memperbarui perangkat mereka akibat lonjakan harga jual di pasaran.
Faktor utama di balik pembengkakan harga ini adalah krisis pasokan komponen memori global yang memicu inflasi biaya produksi. Pengaruhnya sangat terasa pada model lama maupun gawai yang baru rilis, dengan kenaikan harga berkisar antara 7 hingga 45 persen. Dampak paling terpukul dirasakan oleh segmen kelas bawah (entry-level), di mana konsumennya memilih menunda pembelian atau beralih mencari ponsel bekas.
Meskipun secara umum kondisi ekonomi domestik Indonesia sedang bergeliat positif berkat belanja pemerintah dan momentum musim perayaan yang bergeser ke kuartal pertama, industri gawai tetap tidak mampu membendung dampak inflasi komponen. Di tengah situasi menantang ini, OPPO masih berhasil mempertahankan posisi puncak pasar domestik, meskipun volume pengiriman mereka sendiri terpangkas cukup signifikan hingga 24 persen secara tahunan.
Keberhasilan OPPO menjaga mahkota pasar terbantu oleh strategi mereka memperkuat lini produk kelas menengah, seperti seri A. Konsumen pada kategori ini dinilai lebih kebal terhadap gejolak harga, sehingga penjualan lini tersebut mampu meredam hantaman biaya produksi yang membubung tinggi. Di posisi kedua, Xiaomi membayangi ketat dengan mengamankan 21 persen pangsa pasar lewat optimalisasi spesifikasi pada seri murahnya, Redmi A-series, serta perluasan konsep gerai retail terintegrasi.
Di sisi lain, raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung, menjadi satu-satunya produsen di posisi lima besar yang mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8 persen secara tahunan. Kinerja impresif ini didorong oleh stabilitas harga retail yang terjaga dengan baik serta loyalitas konsumen yang kuat. Kehadiran lini flagship Samsung Galaxy S26 Series di pasar domestik juga dilaporkan mendapatkan respons yang jauh lebih masif dibandingkan pendahulunya, Galaxy S25 Series.
Kondisi kontras dialami oleh vivo dan Infinix yang harus rela melihat angka pengiriman mereka anjlok lebih dari 30 persen secara tahunan. Kemerosotan tajam ini terjadi karena kedua merek tersebut sangat bergantung pada pasar ponsel berbiaya murah (di bawah $150) yang saat ini tengah lesu akibat minimnya peluncuran produk baru dan lonjakan harga. Guna menyiasati hal tersebut, kedua pabrikan kini mulai menggeser strategi dengan merambah segmen menengah atas, salah satunya melalui Infinix Note 60 Pro.