4 Produk Apple Bekas yang Sebaiknya Dihindari, Ini Alasannya

4 Produk Apple Bekas yang Sebaiknya Dihindari, Ini Alasannya
Sumber :
  • Michael Hession

Apple dikenal sebagai salah satu merek teknologi paling bergengsi di dunia. Desainnya premium, ekosistemnya rapi, dan daya tahannya terkenal bagus. Tak heran, banyak orang tergoda berburu produk Apple bekas agar bisa merasakan pengalaman memakai perangkat Apple tanpa harus membayar harga baru yang mahal.

img_title MacBook Pro M5 Pro dan M5 Max Resmi Masuk Indonesia, Ini Harga Terbarunya

Namun, tidak semua barang bekas layak dibeli. Pada sejumlah produk, harga murah di awal justru bisa berubah jadi pengeluaran besar di kemudian hari. Mulai dari baterai yang cepat turun, biaya servis yang mahal, hingga teknologi yang sudah tertinggal, berikut empat produk Apple bekas yang sebaiknya Anda pikirkan ulang sebelum membeli.

1. AirPods bekas

img_title Fitur Kesehatan Apple Resmi Rilis di India, Ini Cara Kerjanya

AirPods memang jadi salah satu earbud nirkabel paling populer. Bentuknya ringkas, mudah dipakai, dan terintegrasi mulus dengan perangkat Apple. Tapi, membeli AirPods bekas punya risiko besar.

Masalah utamanya ada pada baterai. Apple tidak menyediakan fitur untuk mengecek kesehatan baterai AirPods secara detail. Artinya, pembeli sulit mengetahui apakah daya tahannya masih prima atau sudah menurun drastis. Jika baterai mulai soak, biaya penggantian bisa mencapai ratusan ribu rupiah per earbud. Dalam banyak kasus, biaya itu nyaris mendekati harga unit baru yang sedang promo.

img_title Google Pangkas Kuota Gratis Jadi 5 GB: Cek Syarat Agar Tetap Dapat 15 GB

2. Apple Watch bekas

Apple Watch juga masuk daftar perangkat yang sebaiknya dihindari jika berstatus bekas. Perangkat ini dipakai di pergelangan tangan sepanjang hari, sehingga lebih rentan terkena benturan, goresan, atau penyok.

Selain kondisi fisik, baterai menjadi masalah lain. Bahkan Apple Watch baru saja umumnya perlu diisi setiap hari. Pada unit bekas, penurunan performa baterai akan terasa lebih cepat. Jika baterai harus diganti melalui layanan resmi, biayanya bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta. Bagi pembeli yang ingin hemat, angka ini jelas membuat total pengeluaran membengkak.

3. Apple Pencil bekas

Apple Pencil kerap diburu oleh pengguna iPad, terutama untuk menggambar, mencatat, atau mengedit dokumen. Meski begitu, membeli versi bekas bukan pilihan ideal.

Perangkat ini tidak dirancang untuk mudah diperbaiki. Jika baterai tanamnya melemah atau sensor internal bermasalah, peluang untuk memperbaikinya sangat kecil. Dalam kondisi tertentu, Apple Pencil bekas bisa berubah menjadi barang tak terpakai. Karena itu, membeli baru jauh lebih aman, apalagi masih ada garansi resmi.

4. MacBook berbasis Intel bekas

Sejak 2020, Apple mulai meninggalkan prosesor Intel dan beralih ke chip Apple Silicon seri M. Perubahan ini membawa lompatan besar dalam performa, efisiensi daya, dan suhu kerja.

Itu sebabnya, MacBook bekas dengan prosesor Intel kini kurang menarik, meski harganya terlihat menggiurkan. Di pasar online, perangkat ini memang sering dijual lebih murah. Namun, teknologi yang dipakai sudah tertinggal jauh dibanding MacBook M-series. Selain itu, dukungan software ke depan juga berpotensi makin terbatas. Membeli MacBook Intel bekas sama saja dengan berinvestasi pada perangkat yang masa pakainya makin pendek.

Membeli produk Apple bekas memang bisa jadi cara hemat, tetapi tidak semua perangkat layak dibeli second. AirPods, Apple Watch, Apple Pencil, dan MacBook Intel bekas punya risiko yang cukup besar, terutama dari sisi baterai, biaya servis, dan usia teknologi. Jika ingin lebih aman, pilih produk yang masih baru atau setidaknya pastikan kondisi dan riwayat pemakaiannya benar-benar jelas.