Robot Humanoid di China Menggila Demi Atasi Krisis Populasi
- Art Rachen/Unsplash
GadgetVIVA - Populasi usia kerja di China berpotensi menyusut drastis hingga 37 juta orang dalam satu dekade ke depan akibat krisis demografi yang parah.
- Pemerintah China merespons ancaman ini dengan mempercepat adopsi teknologi otomatisasi dan robot humanoid di sektor industri dan manufaktur.
- Investasi robotika domestik melonjak tajam hingga Rp60 triliun pada awal tahun 2025, lengkap dengan sistem pelacakan berbasis identitas digital mirip KTP.
China tengah menghadapi ancaman krisis demografi yang sangat serius. Populasi usia kerja di negara ini diprediksi menyusut hingga 37 juta orang dalam dekade mendatang. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah mempercepat adopsi massal robot humanoid di China guna mengisi kekosongan tenaga kerja.
Langkah cepat ini menjadi respons struktural atas penurunan angka kelahiran yang terus merosot tajam. Berbeda dengan negara Barat yang mengkhawatirkan PHK akibat otomatisasi, China justru sangat membutuhkan teknologi ini demi mempertahankan roda industri mereka. Kebijakan satu anak pada masa lalu kini memicu penuaan populasi tercepat di dunia.
Ambisi Besar Penggunaan Robot Humanoid di China
Pemerintah setempat langsung bergerak cepat membangun infrastruktur pendukung yang masif. Pada Mei 2025, Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China meluncurkan platform manajemen siklus hidup robot untuk mengontrol perkembangan teknologi ini secara nasional.
KTP Digital Khusus dan Infrastruktur Pelacakan
Melalui platform baru tersebut, sebanyak 28.000 robot dari 200 model kini telah terdaftar secara resmi. Setiap unit robot menerima kode unik 29 karakter yang berfungsi mirip KTP digital.
Sistem canggih ini mencatat informasi detail mulai dari produsen, tingkat kemampuan AI, hingga riwayat pelatihan perangkat lunak. Pemerintah menggunakannya untuk melacak kinerja robot secara aktif sejak tahap produksi hingga proses daur ulang.
Langkah ini mendapat dukungan dana yang sangat besar. Investasi robotika China menembus angka US$3,4 miliar atau setara Rp60 triliun hanya dalam lima bulan pertama tahun 2025. Angka fantastis tersebut melampaui total investasi sepanjang tahun 2024 dan mengalahkan pendanaan Amerika Serikat.
Saat ini, ada lebih dari 150 produsen aktif yang bersaing di pasar domestik. Pemerintah menetapkan target integrasi penuh robot ini ke rantai pasok manufaktur pada tahun 2027 mendatang.
Masa Depan Robot Humanoid di China
Analisis dari Barclays memperkirakan industri membutuhkan hingga 24 juta unit robot pada pertengahan dekade 2030-an. Jumlah raksasa ini setara dengan 4 persen dari total angkatan kerja China saat ini.
Penerapan skala besar tersebut diharapkan mampu menutupi sekitar 60 persen dari proyeksi kekurangan tenaga kerja nasional. Namun, jalan menuju adopsi penuh robot humanoid di China masih menghadapi tantangan teknis yang cukup berat di lapangan.
Laporan terbaru menunjukkan baru 23 persen pembeli yang menyatakan puas dengan kinerja robot saat ini. Kesenjangan antara harapan industri dan kemampuan nyata teknologi ini menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh para produsen lokal.