Konsol vs PC Gaming: Mana yang Lebih Masuk Akal di 2026
- ilustrasi
Memasuki 2026, perdebatan klasik di kalangan gamer kembali menghangat: lebih baik merakit PC atau membeli konsol gaming? Pertanyaan ini terasa semakin relevan karena kondisi pasar hardware tidak lagi ramah seperti beberapa tahun lalu. Sejak pertengahan 2025, harga komponen utama PC melonjak tajam dan efeknya kini benar-benar terasa di kantong konsumen.
Awalnya, kenaikan harga ini tampak biasa saja. Namun, lambat laun, realitas berubah. SSD yang dulu mudah didapat dengan harga Rp300 ribu hingga Rp500 ribu untuk kapasitas kecil, kini melonjak drastis. Di awal 2026, harga SSD di pasar ritel Indonesia tercatat naik hingga 80 sampai 300 persen, tergantung merek dan kapasitas. RAM pun mengalami nasib serupa. Kit memori yang dulu dibanderol Rp1–2 juta, sekarang bisa menembus dua kali lipat atau bahkan lebih.
Penyebabnya ternyata bukan sekadar meningkatnya tren gaming. Lebih dari itu, industri semikonduktor sedang mengalami pergeseran besar. Banyak pabrikan chip kini memprioritaskan produksi untuk kebutuhan kecerdasan buatan dan server kelas atas. Segmen ini bersedia membayar jauh lebih mahal dibanding pasar konsumen. Akibatnya, pasokan DRAM dan NAND flash yang menjadi tulang punggung RAM dan SSD kian terbatas, sementara harganya terus menanjak.
Dampak dari kondisi ini jarang terasa secepat sekarang. Jika dulu rakit PC dianggap sebagai solusi paling fleksibel dan hemat, kini membangun PC dari nol di 2026 terasa jauh lebih berat. Bahkan, sekadar upgrade satu atau dua komponen saja sudah cukup bikin dompet menipis.
Lalu, apakah merakit PC masih layak dipertimbangkan? Jawabannya sangat bergantung pada siapa penggunanya. Beberapa tahun lalu, dengan dana Rp15–20 jutaan, gamer sudah bisa merakit PC yang sanggup menjalankan game AAA di resolusi 1080p hingga 1440p dengan nyaman. Kini, angka tersebut berubah drastis. Untuk mendapatkan performa yang setara dengan konsol generasi terbaru, apalagi jika mengincar GPU kelas menengah ke atas, bujet harus dinaikkan cukup signifikan.
Belum lagi biaya tambahan seperti monitor, keyboard, mouse, dan perangkat pendukung lainnya. Di komunitas gamer, keluhan pun bermunculan. PC entry-level yang dulu terasa terjangkau, sekarang terasa seperti membeli gadget premium. Meski begitu, keunggulan PC sebenarnya tidak hilang. Fleksibilitas upgrade, performa tinggi di banyak game PC, serta fungsi serbaguna untuk produktivitas dan pekerjaan kreatif tetap menjadi nilai jual utama.
Bagi mereka yang berpikir jangka panjang dan memiliki bujet besar, PC gaming masih menjadi pilihan paling bebas. Kamu bisa mengatur performa, kualitas grafis, hingga sistem pendingin sesuai kebutuhan. Selain itu, ekosistem PC memungkinkan aktivitas lain seperti editing video, desain grafis, hingga pekerjaan freelance yang jelas tidak bisa dilakukan di konsol. Namun, bagi gamer kasual yang hanya ingin bermain game populer tanpa ribet, rakit PC kini tidak lagi menjadi jalan pintas hemat seperti dulu.
Di sisi lain, konsol justru terlihat semakin menggoda. Saat harga komponen PC melonjak, konsol hadir sebagai solusi yang lebih sederhana dan terukur. PlayStation 5, Xbox Series X atau S, hingga generasi terbaru konsol hybrid tetap menawarkan pengalaman bermain yang konsisten dengan konsep plug-and-play. Beberapa analis memang sempat memprediksi kenaikan harga konsol sekitar 10–15 persen di 2026. Namun, kenaikan ini masih tergolong ringan jika dibandingkan lonjakan harga komponen PC individual.
Produksi massal dan sistem perakitan terpusat membuat biaya konsol relatif lebih stabil. Selain itu, pengguna tidak perlu pusing memikirkan spesifikasi teknis seperti kompatibilitas RAM atau jenis SSD. Semua sudah dioptimalkan oleh pabrikan. Tinggal colok, unduh game, lalu bermain. Bagi gamer yang menghargai kesederhanaan dan pengalaman konsisten, konsol jelas menjadi pilihan yang masuk akal.
Pada akhirnya, pertanyaan mana yang lebih hemat memang tidak memiliki jawaban mutlak. Dulu, PC sering dianggap mahal di awal namun lebih hemat dalam jangka panjang karena bisa di-upgrade. Namun di 2026, rumus itu mulai bergeser. Kenaikan harga komponen membuat total biaya build PC melonjak tajam. Sebaliknya, konsol tetap menawarkan performa solid dengan harga yang relatif terkendali.
Sebagai gambaran, performa PC setara 1440p dengan 60 fps yang pada 2024 bisa dicapai dengan bujet Rp15–20 juta, kini berpotensi menembus Rp30 juta atau lebih. Sementara itu, konsol masih berada di kisaran Rp7–10 jutaan, tergantung model dan promo. Jika dihitung untuk pemakaian tiga hingga lima tahun tanpa banyak upgrade, konsol berpeluang jauh lebih hemat bagi gamer yang fokus bermain saja.
Jadi, apakah rakit PC masih lebih unggul? Secara teknis, iya. Namun, dari sisi praktis dan biaya, konsol tampak lebih rasional di tengah mahalnya komponen. Pilihan akhirnya kembali pada prioritas masing-masing: mengejar fleksibilitas dan performa maksimal, atau kenyamanan dan efisiensi di era hardware mahal.