Octopath Traveler 0: Mengapa Gacha Ini Berubah Jadi JRPG Taktis Terbaik?
- Istimewa
- Octopath Traveler 0 meninggalkan mekanisme gacha, fokus pada narasi gelap dan dewasa.
- Sistem pertarungan revolusioner: Pemain mengelola delapan anggota aktif (dua baris) untuk rotasi taktis.
- Fitur baru Town Building menjadi inti progres karakter dan memberikan bonus stat pasif.
- Penulisan penjahat sangat menonjol, setara dengan standar Final Fantasy klasik.
Ketika Square Enix mengumumkan transformasi besar-besaran, banyak penggemar JRPG merasa skeptis. Perusahaan itu mengubah Octopath Traveler: Champions of the Continent—sebuah judul mobile berbasis gacha—menjadi game konsol berbayar penuh yang dinamakan Octopath Traveler 0. Namun, hasil akhir membuktikan bahwa studio berhasil menyelamatkan jiwa JRPG klasik yang kuat di balik sistem monetisasi awalnya. Game ini menawarkan salah satu sistem pertarungan paling strategis dalam seluruh seri Octopath Traveler.
Narasi Gelap dan Evolusi Cerita Octopath Traveler 0
Berbeda dari dua pendahulunya, Octopath Traveler 0 memilih narasi yang lebih terpusat. Kita tidak lagi mengikuti delapan protagonis independen. Kali ini, kita berperan sebagai The Chosen One, karakter protagonis bisu yang pemain ciptakan sendiri.
Cerita dimulai dengan tragedi memilukan. Desa Wishvale hancur total oleh kelompok antagonis kejam bernama Scarlet Wings. Mereka mencari Cincin Ilahi yang legendaris.
Tema Pembalasan dan Kekuatan Hasrat Manusia
Premis utama yang diangkat adalah "Restoration and Retribution" (Pemulihan dan Pembalasan). Tugas kita memburu tiga penjahat utama. Mereka merepresentasikan hasrat manusia yang menyimpang: Herminia (Kekayaan), Tytos (Kekuasaan), dan Auguste (Ketenaran).
Penulisan karakter antagonis ini sungguh menonjol. Auguste The Playwright, khususnya, menyajikan kisah gelap nan teatrikal. Kekejamannya bahkan bisa disejajarkan dengan kegilaan Kefka dari Final Fantasy VI. Tema yang diangkat jauh lebih dewasa, menyentuh isu sensitif seperti perbudakan dan manipulasi psikologis.
Namun, struktur episodik yang diwarisi dari versi mobile terkadang mengganggu pacing. Kita harus sering melompat dari satu jalur cerita ke jalur lain. Hal ini berpotensi merusak ketegangan emosional yang sudah dibangun saat menghadapi cliffhanger. Selain itu, penggunaan protagonis bisu membuat interaksi antar-karakter terasa kurang dinamis dibandingkan persahabatan di Octopath Traveler II.