Siswi SD Denpasar Lompat dari Lantai 3: Kaitan Game Omori Diselidiki
- Istimewa
Game ini memiliki beberapa pilihan akhir cerita yang sangat kontras bagi para pemainnya. Pada "Bad Ending", karakter utama menyerah pada rasa bersalahnya dan memilih untuk melompat dari balkon rumah sakit. Adegan memilukan tersebut diiringi oleh lagu "My Time", yang kini menjadi sorotan dalam kasus di Denpasar.
Narasi Omori memang mengeksplorasi sisi gelap emosi manusia secara mendetail dan kompleks. Meskipun memiliki pesan tentang pemulihan diri pada "Good Ending", konten melankolisnya sering kali dianggap berat bagi pemain usia muda. Oleh karena itu, pengawasan terhadap konsumsi konten digital pada anak menjadi sangat krusial.
Analisis Ahli Terhadap Perilaku Ekstrem Anak
Psikolog Wangsa Ayu Vidya Loka memberikan pandangan kritis terkait fenomena ini dari sudut pandang perkembangan otak. Ia menjelaskan bahwa remaja dan anak-anak memiliki kontrol impuls yang belum sempurna. Bagian otak yang berfungsi mengambil keputusan logis masih terus berkembang hingga usia dewasa.
Oleh karena itu, tindakan ekstrem sering kali muncul sebagai dorongan sesaat atau keinginan untuk mencoba sesuatu yang dilihat. Anak mungkin meniru konten digital tanpa memahami sepenuhnya dampak permanen dari tindakan tersebut. Wangsa menegaskan bahwa sebuah tragedi biasanya melibatkan akumulasi berbagai faktor kompleks dalam hidup anak.
Faktor lingkungan, kondisi emosional, hingga pola asuh berperan penting selain dari paparan game atau musik. Kasus siswi SD di Denpasar ini menjadi pengingat bagi orang tua untuk lebih proaktif mendampingi aktivitas digital anak. Pengawasan konten yang sesuai usia tetap menjadi benteng utama dalam mencegah pengaruh negatif dari dunia maya.