Rahasia Ampuh Jaga Remaja Aman Saat Akses Internet, Orang Tua Wajib Tahu!
- AdobeStock
Fitur tersebut, antara lain, membatasi pesan dari orang yang tidak dikenal, menyaring konten yang tidak sesuai usia, hingga mengaburkan gambar mencurigakan di pesan langsung. Bahkan, hanya teman yang disetujui yang bisa memberikan tag atau mention.
Langkah ini tentu menjadi perlindungan awal yang signifikan. Terlebih lagi, untuk remaja di bawah 16 tahun, perubahan pengaturan tertentu membutuhkan persetujuan orang tua. Artinya, kontrol tetap berada di tangan keluarga.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu memulai dari nol. Cukup memastikan fitur keamanan aktif dan memahami cara kerjanya, maka lapisan perlindungan dasar sudah terbentuk.
Atur Screen Time Remaja Secara Bijak dan Konsisten
Tidak dapat dimungkiri, negosiasi soal screen time sering kali menjadi sumber ketegangan di rumah. Namun, pendekatan yang fleksibel dan konsisten biasanya lebih efektif dibandingkan larangan keras.
Beberapa platform di bawah naungan Meta, misalnya, menyediakan pengingat otomatis setelah penggunaan 60 menit. Selain itu, terdapat Mode Tidur yang aktif pada jam tertentu untuk membatasi notifikasi dan aktivitas malam hari.
Fitur ini membantu remaja menyadari pentingnya jeda digital. Di samping itu, orang tua juga dapat mengaktifkan pengawasan tambahan untuk menetapkan batas waktu harian atau memblokir akses pada jam belajar, waktu makan bersama, maupun saat tidur.
Akan tetapi, yang terpenting bukan sekadar durasi, melainkan kualitas penggunaan. Remaja tetap bisa produktif di internet selama aktivitasnya terarah, misalnya untuk belajar, mengikuti komunitas positif, atau mengembangkan hobi.
Edukasi Berkelanjutan untuk Keamanan Digital Remaja
Seiring bertambahnya usia, kebutuhan dan tantangan remaja juga berubah. Apa yang relevan saat mereka berusia 13 tahun belum tentu cukup saat menginjak 16 tahun. Oleh sebab itu, edukasi digital harus dilakukan secara berkelanjutan.
Orang tua dapat memperkaya wawasan melalui berbagai sumber tepercaya, seperti Family Center Education Hub yang menyediakan materi panduan dari para ahli. Dengan memahami tren terbaru, risiko siber, serta pola interaksi remaja masa kini, orang tua akan lebih siap berdialog secara relevan.
Lebih jauh lagi, literasi digital tidak hanya soal bahaya, tetapi juga tentang etika. Remaja perlu diajarkan untuk berpikir sebelum membagikan informasi pribadi, menghormati privasi orang lain, dan tidak mudah terpancing provokasi di ruang komentar.