Lawan Deepfake AI, Taylor Swift Daftarkan Merek Dagang Suara
- Getty Images
- Taylor Swift mendaftarkan frasa suara khasnya sebagai merek dagang resmi.
- Langkah ini bertujuan menangkal penyalahgunaan teknologi AI dan konten palsu.
- Pakar hukum menyebut strategi ini sebagai senjata baru selebriti di era digital.
Penyanyi global Taylor Swift baru saja mengambil langkah hukum progresif untuk melindungi identitasnya dari ancaman AI. Taylor Swift secara resmi mengajukan pendaftaran merek dagang atas suara dan citra visualnya guna mencegah penyebaran konten palsu. Langkah strategis ini muncul setelah sang bintang kerap menjadi sasaran manipulasi teknologi kecerdasan buatan yang merugikan.
Melindungi Frasa Ikonik dan Visual Panggung
Swift mendaftarkan dua frasa vokal utama yang sangat melekat dengan dirinya, yaitu "Hey, it's Taylor Swift" dan "Hey, it's Taylor". Selain aspek suara, ia juga mendaftarkan aset visual khusus. Aset tersebut menggambarkan dirinya yang mengenakan bodysuit iridescent sambil memegang gitar merah muda di panggung Eras Tour.
Langkah ini bukanlah hal yang mengejutkan mengingat reputasi Swift sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di dunia. Sebelumnya, ia harus menghadapi berbagai pemalsuan berbasis AI, termasuk iklan politik palsu yang mencatut namanya. Oleh karena itu, perlindungan hukum ini menjadi sangat mendesak.
Mengikuti Jejak Matthew McConaughey
Swift bukan satu-satunya pesohor yang memproteksi aset verbalnya. Aktor Matthew McConaughey sebelumnya telah mendaftarkan merek dagang untuk jargon terkenalnya, "alright, alright, alright". Namun, penggunaan merek dagang untuk melindungi suara manusia dalam konteks melawan AI merupakan terobosan baru.
Strategi Hukum Baru di Era Kecerdasan Buatan
Pengacara merek dagang, Josh Gerben, menyoroti bahwa pendaftaran suara secara hukum belum pernah diuji secara mendalam di pengadilan. Selama ini, musisi umumnya hanya mengandalkan hak cipta untuk melindungi rekaman musik mereka. Sayangnya, hak cipta memiliki keterbatasan dalam menghadapi teknologi generatif.
Teknologi AI saat ini memungkinkan pengguna menciptakan konten baru yang meniru suara artis tanpa menyalin rekaman yang sudah ada. Hal ini menciptakan celah hukum yang cukup lebar. Menurut Gerben, merek dagang dapat membantu mengisi celah tersebut dengan menghentikan penggunaan identitas yang "membingungkan secara merek".