Riset: Adopsi Teknologi Pendidikan Bisa Dilanjutkan Usai Pandemi

perempuan anak bekerja
Sumber :
  • Unsplash.com

Layanan lain yang dianggap sangat bermanfaat dan banyak digunakan adalah Google Classroom (74,82 persen) dan Google Meet (74,83 persen).

FSR Redstone AMD Diuji: Kualitas Gambar Meningkat, Tapi 'Frame Pacing' Jadi Masalah Utama

Menurut Topari, guru TIK SMAN 1 Playen, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, kebiasaan baik penggunaan teknologi dalam pendidikan jangan ditinggalkan dan perlu dilanjutkan. Ia mengatakan, pandemi membuat derap laju digitalisasi pendidikan menjadi lebih kencang. Di SMAN 1 Playen, untuk sistem penilaian, telah menerapkan teknologi pendidikan dengan adanya platform Belajar.id.

“Kami juga membuat platform basis learning management system-nya melalui Google Classroom,” ujar Topari.

Microsoft Hapus Fitur Collections Edge: Apa Dampaknya?

Skenario adopsi teknologi pendidikan pasca pandemi Covid-19

Peneliti CfDS, Amelinda Pandu Kusumaningtyas, memaparkan, berdasarkan kajian yang dilakukan CfDS dari riset ini, ada beberapa skenario dalam adopsi teknologi pendidikan dan penyelenggaraan pendidikan hibrida pasca pandemi Covid-19.

Agibot Humanoid: 5.000 Unit Terkirim, Interaksi Alami di CES 2026

Pertama, menjadikan teknologi pendidikan sebagai perangkat dalam pengelolaan pendidikan.

"Adopsi edtech sebagai alat bantu penyelenggaraan dan dalam mengelola sekolah," ujar Amelinda.

Temuan riset di lapangan menunjukkan, banyak sekolah yang tetap memanfaatkan teknologi pendidikan, misalnya untuk pengumpulan tugas, pelaksanaan ujian, dan sebagai medium penyimpanan bahan ajar.

Kedua, penerapan pembelajaran campuran (blended learning). Penggunaan teknologi pendidikan bisa mulai lebih lekat dalam penyelenggaraan pendidikan dan menciptakan kolaborasi baru bagi aktor pendidikan. Melalui cara ini, pelaksanaan pembelajaran dan pengayaan siswa secara daring dan mandiri akan terwujud.

Ketiga, pembelajaran digital yang terintegrasi (integrated digital learning) dengan menerapkan penggunaan teknologi pendidikan secara utuh dalam penyelenggaraan pendidikan.

Oleh karena itu, CfDS memberikan beberapa rekomendasi. Untuk pemerintah pusat, salah satu yang direkomendasikan adalah menyusun peta digitalisasi pendidikan Indonesia. Sementara, pemerintah daerah didorong merealisasikan pemerataan sarana dan prasarana digital yang mengacu pada kebutuhan sekolah.

Selain itu, perusahaan penyedia platform teknologi pendidikan perlu mengembangkan platform dengan fitur yang selaras dengan konteks kesiapan digital di Indonesia.

"Fitur-fitur platform yang dapat digunakan secara luring dan mobile friendly," kata Amelinda.

Direktur Pemberdayaan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengatakan, hasil riset ini memberikan catatan penting bahwa infrastruktur teknologi menjadi keharusan. Ia mengatakan, hal ini menjadi tantangan bagi Kementerian Kominfo untuk menyediakan infrastruktur yang memadai.

Halaman Selanjutnya
img_title