Utang Whoosh Masih Berat Meski Direstrukturisasi 60 Tahun, Ekonom Ajukan Solusi Ini!
- kcic
Ki Darmaningtyas menyoroti bahwa meskipun cicilan utang direstrukturisasi menjadi 60 tahun sehingga tagihan per tahunnya lebih rendah, sumber dana untuk pembayaran tetap menjadi tantangan besar. "Kalau pendapatan tiket sama pendapatan non-tiket mungkin untuk operasional saja tidak cukup gitu. Jadi untuk operasional saja itu masih perlu subsidi dari negara," tuturnya.
Posisi Pemerintah dan China
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan, mengonfirmasi bahwa pihak China telah setuju terkait skema restrukturisasi utang selama 60 tahun. Namun, pelaksanaannya tertunda akibat pergantian pemerintahan.
Luhut menjelaskan bahwa skema tersebut akan membuat pembayaran utang kepada China lebih kecil. Misalnya, jika pembayaran awal mencapai Rp2 triliun per tahun, penerimaan dari operasional Whoosh sebesar Rp1,5 triliun dapat digunakan untuk mencicil utang. Namun, ia tidak merinci sumber dana tambahan untuk melunasi sisanya.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah menegaskan penolakan terhadap pembayaran utang kereta cepat ini. Hal ini menambah ketidakpastian terkait pelaksanaan skema restrukturisasi yang diusulkan.
Solusi Alternatif: Debt Cancellation atau Debt Swap
Menurut Bhima, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat terhadap China, mengingat banyaknya insentif fiskal dan konsesi yang telah diberikan, seperti konsesi smelter nikel. Oleh karena itu, penghapusan sebagian utang (debt cancellation) atau pertukaran utang dengan investasi lain (debt swap) dianggap lebih relevan.
Salah satu contoh debt swap adalah meminta perusahaan China untuk mengembangkan proyek TOD di sekitar stasiun Whoosh. Proyek ini dapat menciptakan nilai tambah bagi kedua belah pihak, sekaligus mengurangi beban utang KCJB.
Harapan Transportasi Publik yang Lebih inklusif
Bhima juga menyayangkan harga tiket Whoosh yang cenderung mahal, sehingga tidak ramah bagi kalangan menengah ke bawah. Sebagai solusi, ia menekankan perlunya layanan transportasi publik yang lebih murah dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat.
"Seharusnya pemerintah menyediakan layanan transportasi publik yang lebih cocok untuk kelas menengah ke bawah," katanya.
Kesimpulan:
Meskipun restrukturisasi utang Whoosh selama 60 tahun tampaknya menjadi langkah yang logis, solusi ini dinilai kurang efektif oleh para ekonom. Debt cancellation atau debt swap dianggap lebih tepat guna mengurangi beban fiskal dan menciptakan win-win solution antara Indonesia dan China. Selain itu, optimalisasi pendapatan operasional melalui TOD dan penyesuaian harga tiket dapat menjadi langkah strategis untuk menjadikan Whoosh lebih inklusif dan berkelanjutan.