Waspada Penipuan QRIS Mengatasnamakan Pengiriman Barang

Ilustrasi pengiriman barang
Sumber :
  • Unsplash

Gadget – Suatu pagi, ponsel berbunyi. Sebuah pesan masuk mengabarkan paket tertahan dan dana pengiriman harus direfund. Nada pesannya sopan, logonya terlihat meyakinkan, bahkan disertai kode QRIS. Tanpa banyak berpikir, sebagian orang langsung memindai. Bukannya uang kembali, saldo justru raib. Cerita semacam ini bukan fiksi—ini realitas baru penipuan digital di era transaksi serba cepat.

Waspada! Klopatra Malware Curi Saldo M-Banking Saat Anda Tidur

Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online dan pengiriman barang, penipuan berkedok layanan logistik kian marak. Survei Diginex bersama Inventure dan ivosights pada 2025 mencatat 26,5% masyarakat Indonesia pernah menjadi korban penipuan online. Situasi ini diperkuat laporan Kaspersky Lab yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat risiko penipuan digital tertinggi di ASEAN. Angka-angka ini menunjukkan satu hal: siapa pun bisa jadi target.

Melihat kondisi tersebut, J&T Cargo mengambil langkah proaktif melalui kampanye edukatif bertajuk “Jangan Ketipu, Cek Dulu”. Kampanye ini menekankan pentingnya verifikasi sebelum melakukan pembayaran atau membagikan data pribadi, terutama di tengah munculnya modus penipuan baru yang memanfaatkan QRIS.

PDNS Biang Kerok! Skor Ketahanan Siber Nasional RI Anjlok

Tip menghindari penipuan kurir

Photo :
  • JnT Cargo

QRIS: Dari Alat Praktis Jadi Senjata Penipu

Xiaomi Kids Watch Resmi Rilis: Kamera Flip & GPS Level Lantai!

QRIS sejatinya diciptakan untuk memudahkan transaksi. Namun, di tangan pelaku kejahatan digital, teknologi ini justru dipelintir menjadi alat penipuan. Berdasarkan laporan Hotline Customer Service Center J&T Cargo, penipuan refund melalui QRIS menjadi salah satu modus yang paling sering dilaporkan.

Skemanya relatif sederhana namun efektif. Pelaku menghubungi korban dengan alasan ada kendala pengiriman—mulai dari alamat tidak lengkap hingga paket rusak. Sebagai “solusi”, korban ditawari pengembalian dana lewat QRIS yang dikirim melalui pesan instan. Ketika dipindai, alih-alih menerima refund, korban justru melakukan transfer ke rekening penipu.

Masalahnya, pesan-pesan ini sering dibungkus dengan urgensi. Korban dibuat panik, terburu-buru, dan akhirnya lengah. Padahal, menurut pihak J&T Cargo, refund tidak pernah diproses melalui QRIS, rekening pribadi, maupun tautan yang dikirim lewat pesan instan.

Tip menghindari penipuan kurir

Photo :
  • JnT Cargo

Modus Lama, Wajah Baru

QRIS palsu hanyalah satu dari sekian banyak trik. Penipu juga kerap menggunakan resi editan, surat palsu berkop perusahaan, hingga website pelacakan ilegal yang tampak profesional. Meski berbeda bentuk, benang merahnya sama: memancing korban agar melakukan pembayaran atau menyerahkan data sensitif di luar kanal resmi.

Bagaimana cara tahu ini penipuan atau bukan? Jawabannya sederhana, namun sering diabaikan, yakni verifikasi.

Langkah Sederhana Agar Tidak Jadi Korban

Sebagai bagian dari kampanye “Jangan Ketipu, Cek Dulu”, J&T Cargo membagikan sejumlah langkah preventif yang relevan untuk semua pengguna layanan logistik:

Pertama, pastikan hanya mengakses situs resmi, yakni jtcargo.id. Hindari tautan dengan domain aneh atau mirip-mirip. Kedua, cek nomor resi melalui sistem resmi. Resi palsu tidak akan pernah terdaftar. Ketiga, abaikan permintaan refund atau pembayaran via QRIS yang datang dari nomor pribadi atau pesan mendesak. Terakhir, hubungi Customer Care resmi jika ragu, sebelum mengambil tindakan apa pun.

Langkah-langkah ini terdengar sepele, namun sangat krusial. 

Jangan Panik, Luangkan Waktu untuk Cek

Penipu mengandalkan satu senjata utama: kepanikan korban. Karena itu, kunci utama perlindungan diri adalah tenang dan kritis. Ketika pesan mencurigakan datang, berhenti sejenak. Cek ulang sumbernya. Bandingkan dengan informasi resmi. Jangan ragu bertanya.

Di era digital, keamanan bukan lagi tanggung jawab satu pihak. Perusahaan, regulator, dan konsumen harus bergerak bersama. Kampanye “Jangan Ketipu, Cek Dulu” menjadi contoh bahwa edukasi publik masih menjadi benteng paling efektif melawan penipuan.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berkembang—begitu pula modus kejahatan. Namun dengan kewaspadaan, literasi digital, dan kebiasaan verifikasi, kita tidak perlu menjadi korban berikutnya. Ingat, sebelum klik atau scan apa pun, cek dulu.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di :
Instagram@gadgetvivacoid
FacebookGadget VIVA.co.id
X (Twitter)@gadgetvivacoid
Whatsapp ChannelGadget VIVA
Google NewsGadget