Dampak Krisis Chip Global: Kenaikan Harga Smartphone Ancam 2026
- Istimewa
Pola pertumbuhan pasar kini bergeser. Fokus tidak lagi pada pembeli pertama (first time buyer), melainkan pada konsumen yang melakukan peningkatan perangkat (upgrader). Konsumen ini ingin naik kelas, biasanya dari entry level ke mid range, demi mendapatkan pengalaman penggunaan yang lebih baik.
Kekuatan Segmen Mid-Range dan Ponsel Bekas
Segmen menengah (mid-range) diproyeksikan menjadi sweet spot yang paling menarik. Segmen ini menawarkan fitur mendekati flagship namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Kuncinya adalah value for money. Ponsel yang menawarkan spesifikasi memadai dengan harga terjangkau akan tetap diminati, meskipun terjadi sedikit kenaikan harga smartphone dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain itu, pasar ponsel refurbished dan pre-owned juga diperkirakan tumbuh. Ekosistemnya semakin terstruktur, bahkan dengan adanya garansi resmi. Segmen ini menarik bagi konsumen yang menginginkan perangkat kelas atas dengan harga lebih rendah sekaligus mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.
Siklus Penggantian Gadget Memanjang: Ancaman Volume Penjualan
Kenaikan harga ini secara langsung diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat oleh konsumen. Jika rata-rata siklus sebelumnya 18–24 bulan, periode tersebut kini bisa meluas menjadi 24–36 bulan.
Dampaknya terasa pada volume penjualan unit gawai. Volume berpotensi stagnan atau sedikit menurun. Meskipun demikian, nilai pasar secara keseluruhan masih bisa tumbuh karena didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP).
Dalam situasi ini, inovasi menjadi pembenaran utama bagi konsumen untuk mengeluarkan uang lebih banyak. Aryo menyebut fitur-fitur seperti AI on device, efisiensi energi, dan konektivitas 5G menjadi daya tarik utama.
Untuk 2026, Aryo memproyeksikan pertumbuhan paling kuat justru terjadi di dua kutub. Segmen premium (di atas US$600 atau Rp10 jutaan) didorong oleh konsumen loyal yang menganggap smartphone sebagai simbol gaya hidup.
Inovasi seperti layar lipat dan kecerdasan buatan (AI) membenarkan harga yang tinggi. Sementara itu, segmen entry level high (sekitar US$150 atau Rp2 jutaan) akan menjadi arena persaingan ketat karena menawarkan keseimbangan antara fitur dan harga terbaik.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |