Snapdragon X2 Elite Extreme Tantang Apple M4 Max, Ini Hasil Benchmark-nya
- qualcomm
Qualcomm kembali mencuri perhatian industri teknologi setelah hasil benchmark Snapdragon X2 Elite Extreme mulai beredar ke publik. Chip ARM generasi terbaru ini disebut mampu menghadirkan performa single-core yang bahkan sedikit lebih unggul dibandingkan Apple M4 Max. Temuan ini sekaligus menandai langkah serius Qualcomm dalam memperkuat ekosistem Windows on ARM yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.
Sebagai generasi kedua prosesor ARM Qualcomm untuk PC Windows, Snapdragon X2 dirancang untuk menghadirkan lompatan performa sekaligus efisiensi daya yang lebih baik. Seri ini hadir dalam beberapa varian, mulai dari X2 Plus, X2 Elite, hingga varian tertingginya, X2 Elite Extreme. Masing-masing ditawarkan dengan konfigurasi inti dan target pengguna yang berbeda, namun tetap mengusung visi yang sama, yakni menyaingi dominasi Apple Silicon di pasar laptop premium.
Sebelumnya, Qualcomm telah mengumumkan klaim resmi terkait peningkatan performa X2. X2 Plus disebut menawarkan kinerja CPU single-core hingga 35 persen lebih cepat dibandingkan Snapdragon X Plus generasi sebelumnya, sembari menghemat konsumsi daya hingga 43 persen. Sementara itu, X2 Elite diklaim mampu memberikan performa CPU 31 persen lebih tinggi pada level daya yang sama, atau tetap mempertahankan performa setara dengan konsumsi daya jauh lebih rendah dibanding Snapdragon X Elite tahun lalu.
Namun demikian, klaim pabrikan tentu perlu diuji di dunia nyata. Karena itu, perhatian publik langsung tertuju pada hasil benchmark independen yang dilakukan oleh YouTuber teknologi Alex Ziskind. Ia mendapat kesempatan langka untuk mengunjungi fasilitas Qualcomm dan menjalankan pengujian Geekbench pada mesin Compute Reference Design milik perusahaan tersebut.
Dari pengujian tersebut, Ziskind menjalankan benchmark pada beberapa konfigurasi prosesor, termasuk Snapdragon X2 Elite versi 12-core dan 18-core, serta varian tertinggi Snapdragon X2 Elite Extreme dengan 18-core. Hasilnya pun cukup mengejutkan.
Pada konfigurasi Snapdragon X2 Elite 12-core dengan kode X2E-80-100, prosesor yang dipadukan dengan RAM 32 GB dan penyimpanan 1 TB ini mencetak skor Geekbench single-core sebesar 3.850 dan multi-core 16.171. Angka ini nyaris identik dengan MacBook Air berbasis M4 10-core milik Apple, yang mencatat skor single-core sekitar 3.839 dan multi-core 14.861. Artinya, dalam pengujian single-core, keduanya berada di level yang hampir sama, sementara Snapdragon unggul di sisi multi-core.
Selanjutnya, Snapdragon X2 Elite 18-core dengan kode X2E-88-100 mencatat skor single-core 3.838 dan skor multi-core melonjak hingga 20.320. Performa ini menempatkannya sejajar dengan Apple M4 Pro, yang selama ini dikenal sebagai salah satu prosesor laptop paling bertenaga di kelasnya.
Puncak performa ditunjukkan oleh Snapdragon X2 Elite Extreme 18-core dengan kode X2E-96-100. Dalam pengujian Geekbench, prosesor ini mencetak skor single-core 4.072 dan skor multi-core 23.611. Angka tersebut setara dengan performa Apple M4 Max, bahkan sedikit lebih unggul dalam pengujian single-core. Sebagai perbandingan, M4 Max tercatat meraih skor single-core sekitar 3.913, meskipun masih unggul dalam pengujian multi-core dengan skor sekitar 25.669.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa Qualcomm kini benar-benar serius menantang Apple di ranah performa CPU. Walaupun Apple masih memimpin dalam beban kerja multi-core berat, keunggulan Snapdragon X2 Elite Extreme di sisi single-core menjadi sinyal kuat bahwa kesenjangan performa semakin menyempit.
Meski demikian, benchmark bukanlah satu-satunya penentu pengalaman pengguna. Faktor seperti optimalisasi sistem operasi, kompatibilitas aplikasi, dan efisiensi daya tetap memegang peranan penting. Kabar baiknya, Windows on ARM kini bukan lagi sekadar proyek percobaan. Dukungan aplikasi semakin luas, performa emulasi terus meningkat, dan ekosistemnya mulai matang.
Dengan kehadiran Snapdragon X2, Qualcomm seolah ingin menegaskan bahwa mereka tidak lagi berada di belakang dalam persaingan silikon PC. Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin laptop Windows berbasis ARM akan menjadi alternatif serius bagi pengguna yang selama ini hanya melirik MacBook.