Pasar Smartphone Global Bangkit Tipis 2025: Ancaman Harga Komponen Mengintai
- Gizmologi
- Pasar Smartphone Global hanya tumbuh 2% sepanjang 2025, sinyal pemulihan pasca-pandemi.
- Apple kembali memimpin dengan pangsa pasar 20%, disusul Samsung di posisi kedua.
- Ancaman kenaikan harga memori (DRAM dan NAND) serta dorongan AI berpotensi menghambat pertumbuhan 2026.
Industri ponsel cerdas global menunjukkan sinyal positif pada 2025. Laporan terbaru dari Counterpoint Research mengonfirmasi Pasar Smartphone Global mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 2 persen. Lonjakan kecil ini terjadi setelah jutaan pengguna menunda pembelian perangkat baru sejak era pandemi.
Konsumen di pasar besar Asia mulai menjalankan siklus upgrade yang tertunda, mendorong peningkatan pengiriman. Peningkatan ini sangat terasa pada kuartal keempat 2025, di mana pengiriman naik tipis 1 persen. Meskipun angka ini sangat konservatif, momentum pertumbuhan industri kini berada di bawah bayangan tantangan baru. Kenaikan harga komponen dan tingginya permintaan AI berpotensi mematahkan tren positif tersebut.
Analisis Pemimpin Pasar: Dominasi Apple dan Strategi Samsung
Apple kembali mendominasi persaingan. Mereka menjadi raja pasar dengan menguasai 20 persen pangsa pasar global. Artinya, satu dari lima ponsel yang dikirim sepanjang 2025 adalah iPhone.
Apple mencatatkan lompatan pengiriman 10 persen secara tahunan, tertinggi di antara lima pemain besar. Performa cemerlang ini ditopang oleh kesuksesan iPhone 16 di Jepang, India, dan Asia Tenggara. Permintaan awal yang kuat untuk seri iPhone 17 juga ikut mendukung posisi Apple.
Sementara itu, Samsung berada di posisi kedua. Perusahaan asal Korea ini berhasil menjaga jarak dengan pertumbuhan solid 5 persen. Strategi seimbang Samsung terbukti efektif menjangkau berbagai segmen konsumen. Penjualan Galaxy S25, Z Fold7, dan lini menengah Galaxy A terus mendukung performa Samsung.
Peta Persaingan Berubah dan Ancaman Harga Komponen
Di luar dua raksasa, peta persaingan di bawahnya bergerak dinamis. Xiaomi berhasil mempertahankan posisi ketiga dengan pangsa 13 persen. Mereka sangat mengandalkan pasar Amerika Selatan dan Asia Tenggara untuk menjaga volume pengiriman.
Persaingan di posisi berikutnya semakin ketat. vivo berhasil mencatat kenaikan 3 persen dan menyalip Oppo. Oppo justru mengalami penurunan 4 persen. Penurunan ini disebabkan tekanan kompetisi yang intens, khususnya di China dan wilayah Asia Pasifik.
Di luar lima besar, dua merek menarik perhatian pasar. Nothing dan Google mencatat pertumbuhan fantastis, masing-masing sebesar 31 dan 25 persen, menunjukkan preferensi konsumen yang mulai beralih ke pemain baru.
Dampak Lonjakan Biaya Memori dan AI Demand
Sayangnya, optimisme pemulihan ini tidak pasti bertahan lama. Counterpoint Research sudah merevisi turun proyeksi pertumbuhan Pasar Smartphone Global untuk tahun 2026 sebesar 3 persen. Kelangkaan DRAM dan NAND menjadi penyebab utama pemangkasan proyeksi ini.
Selain itu, pabrikan chip kini memprioritaskan pasokan ke pusat data AI. Hal ini menyebabkan biaya komponen ponsel melonjak signifikan. Kenaikan harga ini mulai diteruskan kepada konsumen. Jika tren biaya ini terus berlanjut, industri smartphone yang baru saja bangkit terancam kembali mengalami stagnasi.
Prospek Industri Menghadapi Tekanan Harga dan Siklus AI
Industri smartphone kini menghadapi ujian berat yang berbeda dari era pandemi. Kini, industri tertekan oleh biaya produksi, bukan kekurangan permintaan. Permintaan AI yang makin tinggi di pusat data secara tidak langsung menguras sumber daya komponen penting bagi ponsel cerdas.
Setelah dua tahun berjuang bangkit melalui siklus upgrade tertunda, para produsen harus mencari solusi inovatif. Mereka harus menyeimbangkan kebutuhan untuk menawarkan fitur AI on-device di masa depan. Produsen juga wajib mengelola lonjakan harga komponen yang berpotensi mematikan daya beli konsumen di banyak wilayah.