Transformasi Bisnis: Mengapa Hybrid AI ASEAN Jadi Kunci Keuntungan

Transformasi Bisnis: Mengapa Hybrid AI ASEAN Jadi Kunci Keuntungan
Sumber :
  • Istimewa

Meski demikian, kesiapan pasar ASEAN masih menunjukkan kesenjangan signifikan. Sebanyak 43 persen organisasi membutuhkan waktu hingga 12 bulan untuk mencapai kesiapan penuh.

Pusat Data Nasional Diserang Hacker, Pelaku Minta Tebusan 8 Juta Dolar AS!

Hanya 11 persen organisasi yang secara tegas menyatakan kesiapan untuk melakukan scaling atau penerapan skala besar Agentic AI. “Hanya ada 11 persen ini cukup gede dari jumlah company di ASEAN yang bilang bahwa dia siap untuk melakukan skalanya agency AI,” ungkap Budi.

Prioritas Baru Bisnis: Dari Eksperimen ke Profitabilitas

Redmi Turbo 5 Max: Baterai 9000mAh Tantang Daya Tahan Honor

Pergeseran mendasar dalam cara perusahaan memandang AI terkonfirmasi melalui rilis CIO Playbook 2026. Laporan tahunan ini merupakan hasil riset kolaborasi Lenovo dan IDC yang mencakup lebih dari 920 CIO di 10 pasar Asia Pasifik, termasuk ASEAN.

Thomas Butler, Vice President Commercial Portfolio & Product Management Lenovo, menjelaskan bahwa diskursus AI telah beranjak dari sekadar uji coba. Tahun lalu, perusahaan masih membahas ekonomi dan potensi AI.

Lenovo Idea Tab Mulai Terima Android 16: Peningkatan Produktivitas Besar

“Namun kini, prioritas bisnis telah bergeser ke bagaimana AI mampu mendorong peningkatan pendapatan dan profitabilitas,” kata Thomas. Data CIO Playbook 2026 membuktikan hal ini, di mana faktor peningkatan pendapatan melompat tujuh peringkat dan kini menduduki posisi teratas dalam prioritas bisnis. Ini secara resmi menandai berakhirnya fase eksperimen AI.

Tiga Tantangan Utama Implementasi

Transformasi yang pesat ini tentu menghadapi batu sandungan. Para CIO di ASEAN+ mengakui adanya tiga tantangan mendasar dalam implementasi AI.

Pertama, penerapan AI dinilai masih belum optimal di berbagai lini bisnis. Kedua, keamanan data menjadi kekhawatiran utama mengingat sensitivitas informasi yang diproses AI. Ketiga, kualitas data yang belum memadai menghambat keakuratan model AI.

Tata Kelola dan Masa Depan Hybrid AI ASEAN

Kawasan ASEAN justru memiliki potensi unik sebagai lingkungan uji coba ideal untuk Agentic AI yang terus berkembang. Kelincahan dan kematangan tata kelola di kawasan ini menjadikannya lokasi yang sangat prospektif.

Perusahaan didorong fokus pada aspek keamanan dan kepercayaan dalam adopsi teknologi. Budi Janto mengingatkan bahwa kecepatan bukanlah segalanya dalam era Agentic AI.

“Pemenangnya di era Agentic AI bukan yang paling cepat bergerak, tapi mereka yang paling dapat dipercaya, dan paling dapat tata kelolanya baik,” tegasnya. Dengan demikian, mengamankan data dan membangun infrastruktur Hybrid AI ASEAN yang kuat menjadi prasyarat untuk mencapai profitabilitas bisnis jangka panjang.