WEF 2026: Momentum Akselerasi Adopsi AI Indonesia
- Istimewa
- Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2026 fokus utama pada tata kelola teknologi, keamanan siber, dan adopsi AI yang bertanggung jawab.
- Tingkat Adopsi AI Indonesia baru mencapai 27,34%, menciptakan urgensi kebutuhan 600.000 talenta digital per tahun.
- Agenda keberlanjutan pada WEF menawarkan potensi bisnis hingga US$400 miliar dari sektor ekonomi hijau (Green Growth) di Indonesia.
- Perusahaan Indonesia memanfaatkan WEF sebagai ruang belajar strategis tentang pergerakan ekonomi global.
Indonesia memperoleh panggung strategis melalui World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos. Pertemuan global ini menjadi momentum krusial untuk mengakselerasi tingkat Adopsi AI Indonesia sambil memperkuat pertahanan keamanan siber nasional. Isu kecerdasan buatan (AI) kini mendominasi agenda pembahasan.
Para pemimpin global mendiskusikan inovasi dan dampaknya terhadap sistem ekonomi dan masyarakat. WEF Davos 2026 berlangsung pada 19–23 Januari 2026, mengusung tema besar “A Spirit of Dialogue.” Tema ini menekankan pentingnya kerja sama global di tengah fragmentasi dunia.
Mendorong Adopsi AI dan Tantangan Talenta Digital
Pemerintah dan pelaku usaha harus segera merespons celah digital yang signifikan. Data Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa tingkat Adopsi AI Indonesia baru mencapai 27,34% hingga tahun 2025. Angka ini jauh di bawah potensi maksimal negara kepulauan tersebut.
Kesenjangan teknologi ini menyoroti defisit talenta digital yang serius. Komdigi memperkirakan Indonesia memerlukan sedikitnya 600.000 talenta digital setiap tahun. Kebutuhan masif ini bertujuan memenuhi target ambisius 9 juta talenta digital pada 2030.
Keterlibatan Sektor Swasta dalam Tata Kelola
Keterlibatan perusahaan swasta di forum global menjadi kunci untuk menutup celah tersebut. CEO & Co-Founder DANA Indonesia, Vince Iswara, mengatakan bahwa partisipasi di WEF Davos adalah ruang penting. Perusahaan dapat terus belajar dan aktif berkontribusi terhadap masa depan digital.
Vince menjelaskan, WEF Davos merupakan forum strategis untuk memahami pergerakan dunia. Indonesia harus mengambil peran yang lebih aktif di dalamnya. Partisipasi DANA selaras dengan komitmen mendukung layanan keuangan digital yang aman, inklusif, dan selaras dengan aspek keberlanjutan.
Keberlanjutan: Peluang Green Growth US$400 Miliar
Selain fokus pada teknologi digital dan keamanan siber, WEF Davos 2026 mengangkat isu keberlanjutan sebagai agenda sentral. Forum tersebut mengusung tema "How can we build prosperity within planetary boundaries?". WEF mendorong pendekatan ekonomi yang regeneratif dan sirkular.
Perubahan preferensi konsumen global membuat agenda keberlanjutan semakin mendesak bagi perusahaan. Studi OECD mencatat bahwa 65% konsumen global siap mengubah gaya hidup mereka demi lingkungan. Akibatnya, perusahaan berkelanjutan memiliki peluang lebih besar membangun loyalitas pelanggan.
Peluang ekonomi hijau di Indonesia terbilang konkret. Laporan AC Ventures–BCG memetakan potensi green growth hingga mencapai US$400 miliar. Peluang bisnis utama muncul pada sektor jasa strategi profesional, solusi pengurangan intensitas emisi, dan layanan emission offsetting.
Strategi Indonesia di Tengah Fragmentasi Global
WEF Davos 2026 berusaha menjawab lima pertanyaan kunci terkait masa depan global. Pertanyaan tersebut mencakup kerja sama di tengah fragmentasi, pencarian sumber pertumbuhan baru, investasi pada manusia, inovasi yang bertanggung jawab, serta pembangunan kemakmuran yang berkelanjutan.
Forum ini memberikan kesempatan unik bagi Indonesia. Negara kita dapat menyerap wawasan global untuk memastikan implementasi dan Adopsi AI Indonesia berjalan aman, beretika, dan bertanggung jawab. Peningkatan keamanan siber menjadi prasyarat mutlak untuk mencapai kemakmuran digital berkelanjutan.