Investasi AI Belum Untung Cepat, Kenapa Valuasi Perusahaan Justru Melonjak?
- Istimewa
- Investasi pada Kecerdasan Buatan (AI) tidak serta-merta menghasilkan keuntungan finansial dalam jangka pendek (2-3 tahun).
- Peningkatan valuasi perusahaan saat ini didorong oleh ekspektasi pasar, potensi pengguna, dan pemanfaatan teknologi di masa depan.
- Keuntungan riil dari investasi AI secara neraca keuangan diperkirakan baru dapat dirasakan perusahaan sekitar tahun kelima.
- Meskipun adopsi AI meluas, hanya 20% perusahaan yang berhasil merealisasikan pertumbuhan pendapatan dari inisiatif ini.
Perusahaan besar kini menghadapi paradoks pelik dalam ranah teknologi: investasi AI skala besar belum mampu menjanjikan keuntungan finansial instan. Namun, fenomena unik terjadi di pasar modal. Valuasi perusahaan teknologi justru melonjak drastis, jauh sebelum profit bersih tercatat.
Ekonom Digital Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa peningkatan valuasi ini berasal dari ekspektasi pasar yang tinggi. Peningkatan valuasi tersebut didorong oleh potensi iklan, pertumbuhan pengguna, serta spekulasi pemanfaatan teknologi di masa depan.
Analisis Ekonomi: Jeda Profit dari Investasi AI
Nailul Huda memperingatkan bahwa perusahaan tidak akan langsung memperoleh imbal hasil finansial dari pengembangan teknologi pada tahap awal. Pengembalian modal (profitabilitas) baru terlihat setelah periode waktu yang signifikan.
"Salah satu yang diukur [pasar] adalah penggunaan ke depan akan seperti apa," kata Huda.
Huda memproyeksikan bahwa investasi AI belum akan menguntungkan neraca keuangan selama dua hingga tiga tahun ke depan. Keuntungan nyata baru bisa dirasakan perusahaan sekitar tahun kelima.
Adopsi Kecerdasan Buatan (AI) akan semakin luas. Tidak hanya individu, perusahaan keuangan juga akan memanfaatkan AI secara masif. Misalnya, penggunaan AI untuk deteksi fraud dan peningkatan keamanan sistem.
Jurang Ekspektasi: Hasil Riil Melawan Target Pertumbuhan
Temuan serupa turut diperkuat oleh riset global. Laporan terbaru Deloitte, The State of AI in the Enterprise 2026, menyoroti adanya kesenjangan serius antara harapan pendapatan dan realitas hasil investasi AI di lapangan.
Deloitte melakukan survei terhadap 3.235 pemimpin bisnis dan teknologi informasi (TI) di 24 negara. Survei ini menemukan bahwa 74% organisasi menargetkan inisiatif AI untuk mendorong pertumbuhan pendapatan. Ironisnya, hanya 20% perusahaan yang benar-benar melaporkan adanya realisasi pertumbuhan tersebut.