Investasi AI Belum Untung Cepat, Kenapa Valuasi Perusahaan Justru Melonjak?

Investasi AI Belum Untung Cepat, Kenapa Valuasi Perusahaan Justru Melonjak?
Sumber :
  • Istimewa

Deloitte menekankan bahwa perusahaan tidak boleh mengukur keberhasilan adopsi AI hanya dari keuntungan finansial. Efisiensi operasional, diferensiasi strategis, dan keunggulan kompetitif jangka panjang jauh lebih penting sebagai tolok ukur utama.

Solusi AI: Beban Admin 7 Jam Jadi Musuh Utama Teknisi Lapangan

Tantangan Internal dan Pemanfaatan Sumber Daya Manusia

Meskipun ekspektasi pasar mendongkrak valuasi perusahaan, pemanfaatan AI secara internal masih belum optimal. Akses tenaga kerja terhadap perangkat AI meluas, dari 40% tahun sebelumnya menjadi kurang dari 60% pekerja saat ini.

Mitos AI Gantikan Manusia Runtuh: Dampak AI pada Karier Layanan

Namun, hanya kurang dari 60% pekerja yang memiliki akses ini menggunakannya dalam alur kerja harian. Potensi produktivitas dan inovasi di perusahaan belum tergali sepenuhnya akibat pemanfaatan yang rendah.

Organisasi juga bergerak lambat dalam perubahan manajemen. Sebanyak 84% responden mengaku belum mendesain ulang peran kerja karyawan berdasarkan kapabilitas AI.

TikTok Aktifkan Deteksi Usia AI Global: Akun Anak Diblokir

Kepala AI AS di Deloitte, Jim Rowan, menegaskan bahwa organisasi yang sukses memanfaatkan AI tidak hanya berinvestasi pada algoritma. Mereka harus juga berinvestasi pada sumber daya manusia. Rowan menyarankan fokus ganda pada pemajuan kapabilitas talenta dan alat AI untuk memberdayakan tim secara maksimal.

Proyeksi Masa Depan Adopsi Kecerdasan Buatan

Adopsi teknologi ini akan memicu perubahan struktur tenaga kerja signifikan. Sebanyak 36% perusahaan memproyeksikan setidaknya 10% pekerjaan akan terotomatisasi penuh dalam satu tahun ke depan. Proyeksi ini melonjak drastis menjadi 82% dalam kurun waktu tiga tahun mendatang.

Selain tantangan efisiensi, isu kedaulatan AI (sovereign AI) juga muncul sebagai kekhawatiran utama korporasi. Mayoritas (83%) perusahaan menyatakan kendali atas perangkat lunak dan data sesuai hukum lokal adalah hal krusial. Sebanyak 66% perusahaan mengkhawatirkan risiko ketergantungan pada vendor asing.

Temuan Deloitte dan tantangan investasi AI ini sejalan dengan survei PwC. Kepercayaan CEO terhadap dampak AI pada kinerja bisnis tercatat menurun. Hanya 30% CEO yang yakin terhadap pertumbuhan pendapatan dalam 12 bulan ke depan, turun signifikan dari 38% pada 2025. Perusahaan harus mengatur ekspektasi realistis agar lonjakan valuasi perusahaan saat ini dapat diterjemahkan menjadi profit riil di masa depan.