Lonjakan Harga Chip Tekan Harga Smartphone Entry-Level

Lonjakan Harga Chip Tekan Harga Smartphone Entry-Level
Sumber :
  • Istimewa

Honor of Kings KIS4: Jakarta Jadi Pusat Esports Global & Panggung Budaya
  • Biaya chip semikonduktor yang semakin mahal menekan margin keuntungan segmen Harga Smartphone Entry-Level secara signifikan.
  • Vendor dihadapkan pada dilema: menaikkan harga hingga 8% atau memangkas spesifikasi, padahal konsumen menuntut performa lebih baik.
  • Lonjakan biaya ini diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat, karena nilai beli (value for money) konsumen menurun.

Strategi Apple: Kenaikan Harga iPhone Pro Terselubung via Penyimpanan

Kenaikan biaya komponen semikonduktor global kini menciptakan tekanan besar pada segmen Harga Smartphone Entry-Level. Analis memprediksi perangkat dengan harga terjangkau menjadi pihak yang paling tertekan karena memiliki margin keuntungan sangat tipis. Situasi ini memaksa vendor di Indonesia menyusun ulang strategi produksi dan pemasaran secara mendalam.

International Data Corporation (IDC) Indonesia menjelaskan vendor kesulitan menyerap lonjakan biaya chip yang makin mahal dan langka. Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst IDC Indonesia, menegaskan kenaikan harga di segmen ini akan terlihat lebih jelas.

Rahasia Besar! iPhone Fold Baterai 5500 mAh, Saingi Android

Di sisi lain, segmen harga menengah hingga tinggi memiliki fleksibilitas lebih besar. Mereka mampu melakukan penyesuaian tanpa dampak drastis.

Biaya Chip Melambung: Ancaman Terbesar Margin Vendor

Lonjakan drastis biaya chip memori (DRAM) menjadi pemicu utama krisis ini. Permintaan tinggi dari sektor server AI global secara langsung meningkatkan biaya produksi bagi produsen ponsel. Aryo Meidianto Aji, Senior Consultant SEQARA Communications, menyebut pasar entry-level menanggung tekanan paling berat.

Vendor yang beroperasi di segmen ini sudah memiliki margin keuntungan yang sangat rendah. Oleh karena itu, mereka hampir tidak punya ruang untuk menanggulangi kenaikan biaya.

Vanessa Aurelia memaparkan bahwa sebagian biaya produksi kemungkinan besar tetap akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga. Tingkat kenaikan harganya tentu akan bervariasi.

Dilema Kenaikan Harga dan Loyalitas Konsumen

Aryo Meidianto Aji memperkirakan kenaikan harga jual bisa mencapai 6–8% secara global dalam skenario terburuk. Kenaikan harga yang signifikan ini berisiko mengikis daya tarik utama produk, yaitu keterjangkauan.

Dampaknya, volume penjualan di segmen entry-level diprediksi menurun. Meskipun segmen ini menjadi motor utama volume penjualan, terutama di pasar Indonesia, vendor harus menyesuaikan karakter dan volume produk mereka.

Halaman Selanjutnya
img_title