Lonjakan Harga Chip Tekan Harga Smartphone Entry-Level
- Istimewa
Dilematisnya, konsumen Indonesia saat ini mengharapkan chipset yang lebih lancar, kamera yang lebih mumpuni, serta dukungan software lebih panjang pada rentang harga Rp1,5–2,5 juta. Vendor harus memenuhi tuntutan ini di tengah biaya produksi yang melonjak. Aryo menambahkan bahwa loyalitas merek kini cenderung menurun. Konsumen akan lebih mudah berpindah merek demi mendapatkan best value.
Strategi Mitigasi dan Pergeseran Pasar ke Depan
Untuk bertahan, vendor harus mengelola biaya produksi seefisien mungkin. Salah satu opsi mitigasi yang dapat ditempuh adalah menyesuaikan spesifikasi non-memori.
Vanessa mengatakan vendor dapat menurunkan spesifikasi selain memori untuk menekan biaya. Namun, biaya memori memiliki porsi yang cukup besar dalam total biaya produksi smartphone. Ini artinya, sulit menutup seluruh kenaikan biaya tanpa mengorbankan komponen utama lainnya.
Aryo Meidianto Aji menekankan bahwa vendor akan berupaya keras mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan. Mereka mungkin harus beroperasi dengan margin yang semakin tipis, bahkan berisiko merugi, demi menjaga posisi pasar.
Analisis Dampak Jangka Panjang pada Konsumen
Situasi biaya produksi yang melonjak ini akan mendorong perubahan struktur pasar yang lebih dalam dalam jangka panjang. Vanessa Aurelia memperkirakan kenaikan Harga Smartphone Entry-Level ini akan memperpanjang siklus penggantian perangkat. Konsumen cenderung menahan penggunaan ponsel mereka lebih lama dari biasanya.
Smartphone konvensional entry-level kemungkinan akan menawarkan spesifikasi yang stagnan, atau bahkan menurun dari generasi sebelumnya. Tren memperpanjang siklus ganti smartphone akan menguat karena konsumen merasa nilai beli (value for money) perangkat baru menurun drastis.
Padahal, Counterpoint Research mencatat segmen entry-level adalah pendorong utama pertumbuhan penjualan. Perangkat dengan harga di bawah US$150 melonjak 42% secara tahunan dan kini menguasai 55% pangsa pasar pada kuartal III/2025. Kini, strategi agresif produsen dalam menyediakan perangkat terjangkau harus berhadapan dengan realitas kenaikan biaya chip yang tak terhindarkan.