Lonjakan Harga Chip Tekan Harga Smartphone Entry-Level
- Istimewa
- Biaya chip semikonduktor yang semakin mahal menekan margin keuntungan segmen Harga Smartphone Entry-Level secara signifikan.
- Vendor dihadapkan pada dilema: menaikkan harga hingga 8% atau memangkas spesifikasi, padahal konsumen menuntut performa lebih baik.
- Lonjakan biaya ini diperkirakan memperpanjang siklus penggantian perangkat, karena nilai beli (value for money) konsumen menurun.
Kenaikan biaya komponen semikonduktor global kini menciptakan tekanan besar pada segmen Harga Smartphone Entry-Level. Analis memprediksi perangkat dengan harga terjangkau menjadi pihak yang paling tertekan karena memiliki margin keuntungan sangat tipis. Situasi ini memaksa vendor di Indonesia menyusun ulang strategi produksi dan pemasaran secara mendalam.
International Data Corporation (IDC) Indonesia menjelaskan vendor kesulitan menyerap lonjakan biaya chip yang makin mahal dan langka. Vanessa Aurelia, Associate Market Analyst IDC Indonesia, menegaskan kenaikan harga di segmen ini akan terlihat lebih jelas.
Di sisi lain, segmen harga menengah hingga tinggi memiliki fleksibilitas lebih besar. Mereka mampu melakukan penyesuaian tanpa dampak drastis.
Biaya Chip Melambung: Ancaman Terbesar Margin Vendor
Lonjakan drastis biaya chip memori (DRAM) menjadi pemicu utama krisis ini. Permintaan tinggi dari sektor server AI global secara langsung meningkatkan biaya produksi bagi produsen ponsel. Aryo Meidianto Aji, Senior Consultant SEQARA Communications, menyebut pasar entry-level menanggung tekanan paling berat.
Vendor yang beroperasi di segmen ini sudah memiliki margin keuntungan yang sangat rendah. Oleh karena itu, mereka hampir tidak punya ruang untuk menanggulangi kenaikan biaya.
Vanessa Aurelia memaparkan bahwa sebagian biaya produksi kemungkinan besar tetap akan diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga. Tingkat kenaikan harganya tentu akan bervariasi.
Dilema Kenaikan Harga dan Loyalitas Konsumen
Aryo Meidianto Aji memperkirakan kenaikan harga jual bisa mencapai 6–8% secara global dalam skenario terburuk. Kenaikan harga yang signifikan ini berisiko mengikis daya tarik utama produk, yaitu keterjangkauan.
Dampaknya, volume penjualan di segmen entry-level diprediksi menurun. Meskipun segmen ini menjadi motor utama volume penjualan, terutama di pasar Indonesia, vendor harus menyesuaikan karakter dan volume produk mereka.
Dilematisnya, konsumen Indonesia saat ini mengharapkan chipset yang lebih lancar, kamera yang lebih mumpuni, serta dukungan software lebih panjang pada rentang harga Rp1,5–2,5 juta. Vendor harus memenuhi tuntutan ini di tengah biaya produksi yang melonjak. Aryo menambahkan bahwa loyalitas merek kini cenderung menurun. Konsumen akan lebih mudah berpindah merek demi mendapatkan best value.
Strategi Mitigasi dan Pergeseran Pasar ke Depan
Untuk bertahan, vendor harus mengelola biaya produksi seefisien mungkin. Salah satu opsi mitigasi yang dapat ditempuh adalah menyesuaikan spesifikasi non-memori.
Vanessa mengatakan vendor dapat menurunkan spesifikasi selain memori untuk menekan biaya. Namun, biaya memori memiliki porsi yang cukup besar dalam total biaya produksi smartphone. Ini artinya, sulit menutup seluruh kenaikan biaya tanpa mengorbankan komponen utama lainnya.
Aryo Meidianto Aji menekankan bahwa vendor akan berupaya keras mempertahankan pangsa pasar dan volume penjualan. Mereka mungkin harus beroperasi dengan margin yang semakin tipis, bahkan berisiko merugi, demi menjaga posisi pasar.
Analisis Dampak Jangka Panjang pada Konsumen
Situasi biaya produksi yang melonjak ini akan mendorong perubahan struktur pasar yang lebih dalam dalam jangka panjang. Vanessa Aurelia memperkirakan kenaikan Harga Smartphone Entry-Level ini akan memperpanjang siklus penggantian perangkat. Konsumen cenderung menahan penggunaan ponsel mereka lebih lama dari biasanya.
Smartphone konvensional entry-level kemungkinan akan menawarkan spesifikasi yang stagnan, atau bahkan menurun dari generasi sebelumnya. Tren memperpanjang siklus ganti smartphone akan menguat karena konsumen merasa nilai beli (value for money) perangkat baru menurun drastis.
Padahal, Counterpoint Research mencatat segmen entry-level adalah pendorong utama pertumbuhan penjualan. Perangkat dengan harga di bawah US$150 melonjak 42% secara tahunan dan kini menguasai 55% pangsa pasar pada kuartal III/2025. Kini, strategi agresif produsen dalam menyediakan perangkat terjangkau harus berhadapan dengan realitas kenaikan biaya chip yang tak terhindarkan.