Equinix Ungkap Alasan Pilih Pusat Data Ritel di Central Jakarta
- Istimewa
Faktor interkoneksi menjadi alasan utama pelanggan memilih Equinix. Lokasi strategis data center in-town dinilai mampu menghadirkan ekosistem interkoneksi yang menjadi nilai tambah utama bagi perusahaan.
Equinix sengaja memilih lokasi JK1 di Central Jakarta karena kedekatannya dengan gedung Cyber 1 di Kuningan. Gedung Cyber 1 dikenal sebagai titik internet exchange terbesar di Indonesia.
Kedekatan ini sangat penting untuk menjamin latensi rendah (low latency) bagi seluruh pelanggan. Pelanggan Equinix sangat bergantung pada koneksi langsung ke internet exchange dan ekosistem mitra yang terhubung di fasilitas tersebut.
"Secara strategis, kita harus membuka sedekat mungkin dengan Cyber 1," ujar Haris. "Latensi adalah faktor yang sangat penting bagi pelanggan kami."
Tren Masa Depan Industri Data Center Indonesia
Selain menjelaskan strategi lokasi, Equinix juga menyoroti lima tren utama yang kini mendominasi industri Equinix Data Center Jakarta dan nasional. Tren ini menunjukkan pergeseran cepat kebutuhan infrastruktur.
Kelima tren tersebut meliputi: kenaikan power density per kabinet akibat permintaan AI, pergeseran menuju arsitektur active-active untuk ketahanan, meningkatnya tuntutan data residency, kebutuhan AI inference domestik, serta adopsi hybrid multi-cloud.
Tantangan Data Residency dan AI Workloads
Fasilitas data center di Indonesia mulai beralih dari model co-location tradisional dengan kepadatan daya rendah. Kini, mereka harus menampung higher density workloads. Kebutuhan daya per kabinet yang sebelumnya hanya 2–3 kilowatt kini meningkat signifikan, didorong pemanfaatan AI dan analitik oleh pelanggan.
Selain itu, kepatuhan terhadap regulasi data residency menjadi perhatian serius. Pelanggan Equinix menuntut data harus tetap berada di Indonesia.
"Hampir setiap pelanggan yang kami temui selalu menanyakan bagaimana data mereka bisa tetap di Indonesia, meskipun mereka menggunakan fitur keamanan atau AI yang ada di cloud luar negeri," tambah Haris.
Proyeksi Pergeseran Pasar dan Tantangan Lahan
Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, membenarkan bahwa geliat pembangunan pusat data di pusat kota masih sangat intens. Permintaan didorong oleh kebutuhan latensi rendah, domestikasi data, dan pertumbuhan layanan digital.
Meskipun demikian, Hendra memprediksi bahwa tren pembangunan akan bergeser dalam jangka menengah hingga panjang. Keterbatasan lahan, isu energi, dan mahalnya harga tanah di Jakarta akan mendorong pengembang beralih kembali ke wilayah sub-urban. Ini akan menjadi tantangan signifikan bagi keberlanjutan model data center in-town di masa depan.