Equinix Ungkap Alasan Pilih Pusat Data Ritel di Central Jakarta

Equinix Ungkap Alasan Pilih Pusat Data Ritel di Central Jakarta
Sumber :
  • Istimewa

Hytera Resmi Rilis Platform PoC Lokal: Janji Komunikasi Aman
  • Equinix memprioritaskan pembangunan fasilitas Pusat Data Ritel (retail data center) di Central Jakarta, bukan model hyperscale di pinggiran kota.
  • Keputusan ini didasarkan pada kebutuhan interkoneksi dan latensi rendah bagi pelanggan, terutama dengan kedekatan ke gedung Cyber 1.
  • Lebih dari 80% pendapatan Equinix Indonesia berasal dari segmen ritel.
  • Lima tren utama industri yang dihadapi adalah kenaikan power density AI, data residency, dan adopsi hybrid multi-cloud.

PDN I Mulai Operasi Terbatas Pasca Uji Keamanan BSSN

Equinix Indonesia secara tegas menjelaskan mengapa mereka memilih membangun fasilitas data center in-town (pusat data dalam kota) di jantung Jakarta, alih-alih mengikuti tren industri yang bergerak ke wilayah sub-urban seperti Cikarang atau Cibitung. Perusahaan, yang telah bekerja sama dengan Astra International mendirikan International Business Exchange (IBX) JK1, menetapkan strategi ini berdasarkan fokus utama bisnis mereka.

Managing Director Equinix Indonesia, Haris Izmee, menegaskan bahwa karakter bisnis Equinix berpusat pada ekosistem digital dan interkoneksi. Oleh sebab itu, membangun Equinix Data Center Jakarta di kawasan pusat menjadi krusial.

Komdigi Percepat Internet: Lelang Spektrum Frekuensi 700 MHz Digelar 2026

Membedah Strategi Equinix: Fokus pada Pusat Data Ritel

Equinix memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pemain besar lain di pasar Indonesia. Perusahaan ini tidak berorientasi pada data center hyperscale yang mengandalkan kapasitas daya sangat besar. Sebaliknya, Equinix berfokus pada model pusat data ritel.

Model ini berfungsi sebagai simpul penting dalam ekosistem interkoneksi digital. Haris mengungkapkan bahwa pendapatan utama perusahaan didominasi oleh segmen ini.

"Lebih dari 80% pendapatan kami berasal dari pusat data ritel," jelas Haris. "Hanya sebagian kecil pendapatan kami yang berasal dari layanan hyperscaler."

Perbedaan Mendasar: Ritel vs Hyperscale

Dalam industri data center, terdapat dua kategori utama. Pertama, hyperscaler data center yang mengejar kapasitas besar per megawatt untuk melayani penyedia cloud raksasa. Kedua, pusat data ritel yang cenderung lebih kecil.

Meskipun ukurannya lebih kecil, pusat data ritel justru berfungsi sebagai hub interkoneksi. Oleh karena itu, strategi ekspansi Equinix menargetkan lokasi yang sangat dekat dengan pusat lalu lintas internet.

Interkoneksi dan Latensi: Alasan Memilih Central Jakarta

Faktor interkoneksi menjadi alasan utama pelanggan memilih Equinix. Lokasi strategis data center in-town dinilai mampu menghadirkan ekosistem interkoneksi yang menjadi nilai tambah utama bagi perusahaan.

Equinix sengaja memilih lokasi JK1 di Central Jakarta karena kedekatannya dengan gedung Cyber 1 di Kuningan. Gedung Cyber 1 dikenal sebagai titik internet exchange terbesar di Indonesia.

Kedekatan ini sangat penting untuk menjamin latensi rendah (low latency) bagi seluruh pelanggan. Pelanggan Equinix sangat bergantung pada koneksi langsung ke internet exchange dan ekosistem mitra yang terhubung di fasilitas tersebut.

"Secara strategis, kita harus membuka sedekat mungkin dengan Cyber 1," ujar Haris. "Latensi adalah faktor yang sangat penting bagi pelanggan kami."

Tren Masa Depan Industri Data Center Indonesia

Selain menjelaskan strategi lokasi, Equinix juga menyoroti lima tren utama yang kini mendominasi industri Equinix Data Center Jakarta dan nasional. Tren ini menunjukkan pergeseran cepat kebutuhan infrastruktur.

Kelima tren tersebut meliputi: kenaikan power density per kabinet akibat permintaan AI, pergeseran menuju arsitektur active-active untuk ketahanan, meningkatnya tuntutan data residency, kebutuhan AI inference domestik, serta adopsi hybrid multi-cloud.

Tantangan Data Residency dan AI Workloads

Fasilitas data center di Indonesia mulai beralih dari model co-location tradisional dengan kepadatan daya rendah. Kini, mereka harus menampung higher density workloads. Kebutuhan daya per kabinet yang sebelumnya hanya 2–3 kilowatt kini meningkat signifikan, didorong pemanfaatan AI dan analitik oleh pelanggan.

Selain itu, kepatuhan terhadap regulasi data residency menjadi perhatian serius. Pelanggan Equinix menuntut data harus tetap berada di Indonesia.

"Hampir setiap pelanggan yang kami temui selalu menanyakan bagaimana data mereka bisa tetap di Indonesia, meskipun mereka menggunakan fitur keamanan atau AI yang ada di cloud luar negeri," tambah Haris.

Proyeksi Pergeseran Pasar dan Tantangan Lahan

Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, membenarkan bahwa geliat pembangunan pusat data di pusat kota masih sangat intens. Permintaan didorong oleh kebutuhan latensi rendah, domestikasi data, dan pertumbuhan layanan digital.

Meskipun demikian, Hendra memprediksi bahwa tren pembangunan akan bergeser dalam jangka menengah hingga panjang. Keterbatasan lahan, isu energi, dan mahalnya harga tanah di Jakarta akan mendorong pengembang beralih kembali ke wilayah sub-urban. Ini akan menjadi tantangan signifikan bagi keberlanjutan model data center in-town di masa depan.