Vivo Siapkan Kamera Vlog Pesaing DJI Osmo Pocket, Rilis Akhir 2026!
- DJI
Gadget – Vivo, yang selama ini dikenal sebagai salah satu produsen smartphone dengan kamera terbaik di dunia, kini dikabarkan tengah melangkah jauh melampaui batas industri ponsel. Menurut laporan media lokal Tiongkok, perusahaan asal China ini sedang mengembangkan kamera vlogging portabel yang dirancang untuk bersaing langsung dengan DJI Osmo Pocket perangkat andalan para konten kreator global.
Langkah ini menandai babak baru dalam strategi Vivo: tidak lagi hanya menjual sensor kamera di dalam ponsel, tapi membangun ekosistem perangkat pencitraan mandiri. Dengan pengalaman mendalam di bidang fotografi mobile terutama lewat seri unggulan seperti Vivo X300 Series yang dipuji luas karena kemampuan foto dan video Vivo percaya diri bisa menawarkan sesuatu yang segar di pasar action camera yang didominasi DJI dan Insta360.
Artikel ini mengupas latar belakang pengembangan, potensi keunggulan teknis, strategi ekspansi Vivo, serta implikasi bagi industri kamera portabel menjelang peluncuran yang diperkirakan pada akhir 2026.
Mengapa Vivo Memilih Pasar Kamera Vlog Sekarang?
Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan akan perangkat vlogging profesional namun ringkas terus meningkat. DJI Osmo Pocket terutama generasi ketiga yang diluncurkan pada 2023 menjadi standar emas berkat kombinasi:
- Stabilisasi gimbal 3-sumbu
- Kualitas video hingga 4K/120fps
- Desain saku yang praktis
- Integrasi aplikasi cerdas
Namun, meski sukses, Osmo Pocket masih memiliki celah: pengolahan warna, dynamic range, dan AI-based enhancement bidang di mana Vivo telah unggul lewat algoritma Vivid Color Engine dan kolaborasi dengan Zeiss.
Dengan latar belakang itu, Vivo melihat peluang untuk menghadirkan perangkat yang tidak hanya stabil, tapi juga “pintar” dalam memproses gambar secara real-time, mirip seperti yang dilakukan kamera Vivo di smartphone flagship-nya.
Desain dan Fitur yang Diharapkan: Lebih dari Sekadar Tiruan
Meski disebut “mirip DJI Osmo Pocket”, Vivo kemungkinan besar tidak akan membuat salinan mentah. Sebaliknya, perangkat ini diprediksi akan menonjolkan keunggulan inti Vivo:
1. Teknologi Kamera Berbasis Pengalaman Smartphone
Sensor besar dengan bukaan lebar (kemungkinan f/1.8 atau lebih)
Algoritma AI untuk real-time HDR, bokeh simulasi, dan noise reduction
Mode portrait video ala Vivo X300
2. Integrasi Ekosistem Vivo
Sinkronisasi otomatis dengan smartphone Vivo via Bluetooth/Wi-Fi
Akses ke aplikasi Vivo Video Editor langsung dari kamera
Dukungan cloud backup eksklusif
3. Desain Ergonomis dengan Sentuhan Premium
Layar flip depan untuk self-monitoring (seperti Osmo Pocket 3)
Bodinya mungkin menggunakan material metalik atau matte finish khas Vivo
Bobot ringan (<150 gram) untuk mobilitas tinggi
Ekspansi Strategis: Dari Smartphone ke Dunia XR dan Kamera Mandiri
Ini bukan pertama kalinya Vivo keluar dari zona nyaman. Sebelumnya, perusahaan telah meluncurkan Vivo Vision, headset realitas campuran (XR) yang secara terbuka menyaingi Apple Vision Pro dan Samsung Galaxy XR. Langkah tersebut menunjukkan ambisi Vivo menjadi pemain penuh di ekosistem teknologi konsumen, bukan hanya vendor ponsel.
Kini, dengan rencana merilis kamera vlog, Vivo memperkuat posisinya di tiga pilar utama:
- Smartphone (inti bisnis)
- Extended Reality (masa depan interaksi digital)
- Perangkat Pencitraan Mandiri (ekstensi dari keahlian kamera)
Strategi ini mirip dengan apa yang dilakukan Apple (iPhone + Vision Pro + aksesori kamera) atau Samsung (Galaxy + Galaxy XR + Gear 360), tetapi dengan pendekatan yang lebih fokus pada kualitas visual dan pengalaman kreator.
Tantangan di Depan: Bisa Saingi DJI yang Sudah Mapan?
Meski berpotensi, Vivo menghadapi tantangan besar:
- DJI sudah memiliki loyalitas komunitas kreator global
- Osmo Pocket 4 kemungkinan segera rilis, sehingga Vivo harus menawarkan diferensiasi signifikan
- Insta360 menawarkan fitur 360° dan AI editing canggih yang sulit ditandingi
Namun, Vivo punya senjata rahasia: integrasi vertikal antara hardware, software, dan AI. Jika mereka bisa menghadirkan pengalaman “rekam-selesai-edit-bagikan” dalam satu ekosistem yang mulus, bukan tidak mungkin mereka akan merebut pangsa pasar dari pengguna smartphone yang ingin naik level dari kamera ponsel ke perangkat dedicated tanpa kehilangan kemudahan penggunaan.
Kapan Rilis? Harga? Dan Apa yang Harus Ditunggu
Saat ini, tidak ada detail resmi tentang spesifikasi teknis, harga, atau nama produk. Namun, sumber menyebut bahwa perangkat ini dijadwalkan rilis pada akhir 2026, memberi waktu cukup bagi Vivo untuk menyempurnakan teknologi dan membangun ekosistem pendukung.
Jika mengacu pada harga Osmo Pocket 3 (~Rp9–11 juta), Vivo kemungkinan akan menawarkan harga kompetitif mungkin di kisaran Rp8–10 juta dengan nilai tambah berupa fitur AI dan integrasi dengan smartphone-nya.
Kesimpulan: Vivo Bukan Lagi Hanya Soal Ponsel
Langkah Vivo menggarap kamera vlog portabel adalah sinyal kuat bahwa perusahaan ini sedang bertransformasi menjadi penyedia solusi teknologi lengkap untuk gaya hidup digital modern. Dengan kekuatan di bidang pencitraan, AI, dan desain, Vivo memiliki fondasi yang solid untuk menyaingi raksasa seperti DJI asalkan mereka tidak hanya meniru, tapi benar-benar menghadirkan inovasi yang bermakna bagi kreator konten.
Bagi para vlogger, YouTuber, atau bahkan jurnalis warga, kehadiran pesaing baru di pasar kamera saku bisa jadi kabar baik: lebih banyak pilihan, lebih banyak inovasi, dan mungkin harga yang lebih terjangkau.
Sampai rilis resminya tiba, satu hal pasti: Vivo tidak lagi hanya bermain di saku Anda tapi juga di tangan Anda, saat Anda bercerita kepada dunia.
| Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Anime, Game, Tech dan Berita lainnya setiap hari melalui social media Gadget VIVA. Ikuti kami di : | |
|---|---|
| @gadgetvivacoid | |
| Gadget VIVA.co.id | |
| X (Twitter) | @gadgetvivacoid |
| Whatsapp Channel | Gadget VIVA |
| Google News | Gadget |