Misteri Terpecahkan: Ulat Bisa Mendengar Tanpa Telinga

Misteri Terpecahkan: Ulat Bisa Mendengar Tanpa Telinga
Sumber :
  • Istimewa

Itaca: Robot WASP Bangun Rumah Cetak 3D Pertanian Mandiri Italia
  • Para peneliti menemukan bahwa ulat bisa mendengar suara di udara, tetapi mereka tidak menggunakan telinga.
  • Mekanisme pendengaran ulat bergantung pada bulu-bulu halus (setae) yang berfungsi sebagai sensor pergerakan udara.
  • Reaksi ulat terhadap suara di udara 10 hingga 100 kali lebih kuat dibandingkan respons terhadap getaran permukaan.
  • Temuan unik ini menjadi inspirasi krusial bagi pengembangan teknologi mikrofon generasi baru.

OMRON Buka 12 Experience Center: Perkuat Akses Kesehatan

Penemuan ilmiah revolusioner mengungkap cara kerja mekanisme pendengaran serangga yang paling tak terduga. Ternyata, ulat bisa mendengar suara di lingkungan sekitarnya tanpa memerlukan telinga sama sekali.

Para ahli biologi menyebutkan bulu-bulu kecil di tubuh ulat berfungsi sebagai alat pendeteksi suara utama. Temuan ini tidak hanya mengubah pemahaman kita tentang biologi ulat, tetapi juga menawarkan cetak biru baru untuk teknologi sensor manusia.

Minat Pasar Merosot: 70% Tidak Antusias dengan Samsung Galaxy S26

Eksperimen di Ruang Paling Sunyi Dunia

Penemuan ini bermula dari observasi sederhana oleh Carol Miles, seorang ahli biologi terkemuka dari Universitas Binghamton, New York. Miles memperhatikan reaksi terkejut ulat setiap kali ia menimbulkan suara keras di dekat mereka.

Miles lantas memimpin tim peneliti untuk menyelidiki misteri ini. Mereka harus memastikan apakah ulat benar-benar memproses suara dari udara.

Oleh karena itu, peneliti membawa ulat ngengat tembakau menuju ruang anechoic milik universitas. Ruangan ini dikenal sebagai salah satu tempat paling sunyi di dunia.

Di ruang anechoic, ilmuwan dapat mengontrol suara dengan sangat presisi. Langkah ini memungkinkan mereka mengisolasi stimulus suara yang memicu respons ulat.

Membedakan Suara Udara dan Getaran

Awalnya, tim peneliti menghadapi tantangan. Mereka belum yakin apakah respons ulat timbul karena gelombang suara di udara, atau karena getaran yang merambat melalui permukaan tempat mereka berpijak.

Untuk menjawab keraguan tersebut, tim menguji dua jenis rangsangan secara terpisah. Mereka menguji suara berfrekuensi tinggi dan rendah, baik melalui udara maupun melalui permukaan.

Hasilnya menunjukkan ulat merespons dua jenis rangsangan tersebut. Menariknya, reaksi mereka terhadap suara yang merambat di udara jauh lebih kuat. Respons tersebut bahkan 10 hingga 100 kali lebih besar dibandingkan getaran yang mereka rasakan melalui kaki.

Bulu Halus: Mekanisme Pendengaran Ulat

Setelah memastikan ulat bisa mendengar suara di udara, tim fokus mencari tahu organ pendengaran spesifik. Mereka menduga bulu-bulu halus (setae) di tubuh ulat memainkan peran penting.

Para peneliti kemudian menghilangkan sebagian bulu-bulu tersebut pada spesimen uji. Hasilnya menunjukkan korelasi yang jelas.

Setelah bulu dihilangkan, sensitivitas ulat terhadap suara menurun drastis. Ini membuktikan bulu-bulu kecil tersebut bertindak sebagai detektor suara. Bulu ini mampu merasakan pergerakan udara yang disebabkan oleh gelombang suara.

Kemampuan pendengaran ini diduga berkembang secara alami untuk tujuan bertahan hidup. Ulat harus mendeteksi suara kepakan sayap predator, seperti tawon atau burung, secepat mungkin. Dengan mekanisme ini, mereka dapat bereaksi cepat dan melindungi diri.

Inspirasi Teknologi Sensor Suara Masa Depan

Temuan unik ini memiliki implikasi besar, tidak hanya bagi biologi, tetapi juga untuk kemajuan teknologi. Cara ulat mendeteksi gelombang suara memberikan inspirasi berharga.

Teknologi sensor dapat meniru mekanisme sensitif bulu ulat. Ronald Miles, insinyur mesin yang terlibat dalam penelitian, menegaskan pentingnya studi ini.

Miles menjelaskan, mempelajari cara hewan mendengar merupakan langkah fundamental. Pemahaman ini penting untuk menciptakan mikrofon generasi baru yang jauh lebih sensitif dan efisien di masa depan.

Penelitian mengenai mekanisme pendengaran ulat ini dipresentasikan pada pertemuan gabungan Acoustical Society of America dan Acoustical Society of Japan pada Desember 2025. Hasilnya menunjukkan potensi revolusioner dalam bidang bio-akustik dan pengembangan sensor mikro.